Artikel

Inisiasi Pembuatan Bank Pakan Upaya Bbptuhpt Baturraden Untuk Membentuk Ketahanan Pakan Di Peternak

Inisiasi Pembuatan Bank Pakan Upaya Bbptuhpt Baturraden Untuk Membentuk Ketahanan Pakan Di Peternak

Oleh : Nofaliya Widiyasari
Pengawas Mutu Pakan Terampil di BBPTUHPT Baturraden


Pakan merupakan bagian terpenting dalam usaha peternakan, selain untuk pemenuhan hidup pokok ternak dan berproduksi (menghasilkan produk susu, daging, anak), pakan juga berperan untuk memelihara daya tahan tubuh dan kesehatan. Agar ternak dapat tumbuh sesuai yang diharapkan, jenis pakan yang diberikan pada ternak harus tercukupi baik jumlah maupun kandungan gizinya.

Ketersediaan pakan yang cukup sepanjang tahun dengan harga terjangkau diharapkan dapat mendukung pencapaian efisiensi dan efektivitas, karena biaya penyediaan pakan merupakan komponen terbesar dari total pembiayaan dalam satu usaha peternakan. Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BBPTUHPT) Baturraden sebagai unit pelaksana teknis (UPT) Kementerian Pertanian yang menangani hijauan pakan ternak menyadari benar bahwa penyediaan pakan ini merupakan masalah yang krusial dalam industri peternakan, utamanya peternakan rakyat yang dalam penyediaan pakan ternaknya hanya bergantung pada ketersediaan pakan yang ada disekitarnya. Kendala yang dihadapi peternak dalam upaya penyediaan pakan adalah hijauan pakan melimpah di saat musim panen dan kekurangan di musim yang lain. Pemanfaatan limbah pertanian sebagai salah satu alternatif sumber hijauan merupakan salah langkah yang dapat ditempuh. Hal ini didasarkan pada potensi yang dimiliki, yakni produksinya yang sangat besar setiap tahun dan pemanfaatan yang masih kurang. Berdasarkan hal tersebut maka BBPTUHPT Baturraden rutin mengadakan kegiatan Inisiasi bank pakan.

Tumpukan jerami padi yang berlimpah saat musim panen sangat potensial untuk diolah menjadi pakan awetan dalam kegiatan bank pakan
Bank pakan merupakan upaya untuk mengumpulkan dan menyimpan sumber pakan ternak disaat kondisi berlimpah (saat musim penghujan/panen), dengan tujuan pakan yang tersimpan tersebut dapat dimanfaatkan ketika musim kemarau, atau saat pakan hijauan sulit didapatkan. Seperti halnya lumbung padi, dengan adanya bank pakan ini diharapkan dapat peternak dapat memenuhi kebutuhan pakan ternaknya secara kontinyu baik kualitas maupun kuantitasnya.
Manfaat lain yang didapatkan dari adanya bank pakan ini adalah efisiensi waktu dan tenaga, dibandingkan dengan penyediaan pakan dengan sistem “ngarit”,  jelas bank pakan ini lebih menghemat waktu, karena peternak tidak perlu lagi jauh-jauh mencari rumput, cukup dengan mengambil di gudang penyimpanan pakan yang telah tersedia.
Pakan yang dapat disimpan dalam bank pakan biasanya merupakan pakan awetan, atau pakan hijauan maupun limbah pertanian yang telah diproses/difermentasi menjadi pakan awetan terlebih dahulu, contohnya silase, fermentasi jerami, dan hay. Pakan awetan ini mempunyai daya simpan yang lebih lama dibandingkan dengan pakan segar, selain itu pakan yang telah diolah menjadi silase, hay, ataupun fermentasi jerami ini memiliki kandungan nutrisi yang lebih baik daripada pakan segar. Dengan demikian selain menjadi solusi untuk ketersediaan pakan sepanjang tahun, bank pakan ini juga menjadi solusi untuk menyediakan pakan ternak yang bergizi/berkualitas tinggi.

Program Inisiasi Bank Pakan yang dicanangkan oleh BBPTUHPT Baturraden ini dimulai pada tahun 2017. Ir. Sugiono selaku kepala balai yang menjabat saat itu mengemukakan, sebagai negara agraris Indonesia memiliki banyak lahan sawah yang menghasilkan limbah berupa jerami. Ditengah terbatasnya lahan untuk menanam hijauan pakan ternak, pemanfaatan jerami perlu dioptimalkan. Kabupaten penerima kegiatan inisiasi pembuatan bank pakan pada saat itu meliputi Kabupaten Purbalingga, Rembang, Blora, Pati, Jepara, Grobogan, Wonogiri, Brebes, Sleman, Cirebon dan Kabupaten Pasuruan.

Tahun 2018 dan 2019, Kepala BBPTUHPT Baturraden Drh. Sintong HMT Hutasoit, M.Si melanjutkan kegiatan bank pakan tersebut dan bahkan memperluas wilayah kabupaten penerima kegiatan bank pakan ini.

Data daerah penerima inisiasi pembuatan bank pakan tahun 2019 ini meliputi Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Kabupaten dan Kota di wilayah Provinsi Jawa Tengah yang mendapatkan program bank pakan ini diantaranya Kota Pekalongan, Kabupaten Banjarnegara, Banyumas, Purbalingga, Kebumen, Semarang, Brebes, Rembang, Blora, dan Pati, sedangkan untuk provisni Jawa Timur meliputi Kabupaten Tulungagung, Nganjuk, Mojokerto, dan Blitar. Provinsi jawa barat kegiatan bank pakan tahun ini tersebar di dua kabupaten yaitu Kabupaten Cirebon dan Bandung Barat, pun dengan Daerah Istimewa Yogyakarta pelaksanaan kegiatan inisiasi bank pakan juga hanya ada di dua kabupaten yaitu di Kabupaten Gunung Kidul dan Kulon Progo. BBPTUHPT Baturraden pada tahun 2019 selain melaksanakan kegiatan inisiasi bank pakan, juga melakukan kegiatan monitoring bank pakan ke kelompok penerima manfaat kegiatan bank pakan pada tahun sebelumnya. Kelompok tani ternak Wira Sejati yang beralamat di Kabupaten Purbalingga merupakan salah satu kelompok yang menerima manfaat kegiatan bank pakan pada tahun 2018 dan sampai saat ini kelompok tersebut masih melanjutkan pembuatan fermentasi jerami untuk disimpan dalam bank pakan. Menurut ketua kelompok tani ternak “wira sejati”, “bank pakan ini sangat membantu, utamanya dalam penyediaan pakan ternak baik secara jumlah maupun kualitasnya”. Seperti contohnya saat musim kemarau peternak tidak perlu kuatir kekurangan pakan ternak, maupun saat hujan dan peternak tidak bisa mencari rumput maka pakan ternak cukup diambilkan dari gudang bank pakan yang telah tersedia. Kelompok ternak berharap BBPTUHPT Baturraden dapat senantiasa mendampingi peternak dalam inovasi-inovasi pengelolaan pakan ternak peternak rakyat agar ketahanan pakan ternak peternak kita dapat terwujud.

Tumpukan fermentasi jerami di kelompok tani ternak wira sejati masih melaksanakan kegiatan bank pakan sampai saat ini Tahun 2018.

Kegiatan inisiasi bank pakan yang difasilitasi oleh BBPTUHPT Baturraden juga dilaksanakan di beberapa wilayah diantaranya Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Kebumen, Jepara, dan Pati untuk wilayah Provinsi Jawa Tengah. Provinsi Jawa Barat dilaksanakan di Kabupaten Kuningan dan Cirebon, sedangkan untuk wilayah Jawa Timur dan DIY dilaksanakan di Kabupaten Pasuruan, Tuban, Sleman, Bantul, dan Gunungkidul.

Kegiatan inisiasi bank pakan yang dilakukan oleh BBPTUHPT Baturraden ini dimulai dari berkoordinasi dengan dinas pertanian atau peternakan setempat terkait kegiatan inisiasi bank pakan, kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi dan praktek pembuatan fermentasi jerami, serta pemberian bantuan berupa prebiotik, pupuk urea, dan sejumlah uang untuk penggantian pembelian/pengadaan jerami untuk pembuatan fermentasi jerami sebanyak 10 ton jerami di kelompok2 ternak yang telah ditunjuk. Selain pemberian bantuan berupa prebiotik, dan urea BBPTUHPT Baturraden dalam kegiatan inisiasi bank pakan ini juga memberikan bantuan berupa bibit hijauan pakan ternak yaitu bibit tanaman indigofera. Pemberian bantuan bibit tanaman indigofera ini diharapkan juga bisa membantu peternak dalam menyediakan pakan hijauan yang berkualitas dan mencukupi dari sisi jumlahnya.

 

 

 

 

Gambar . Pemberian bantuan prebiotik dan bibit tanaman pakan indigofera dalam rangka kegiatan inisiasi bank pakan.

Read more

Laktasi

LAKTASI

oleh : drh. Rita Dyah 

Komponen Pada Susu

Laktasi  merupakan ciri yang  spesifik  pada  ternak mamalia.  Susu  adalah  produk yang dihasilkan oleh glandula mamae dan merupakan nutrisi bagi anaknya untuk mendapatkan imunitas pasif. Susu mempunyai susunan kimia yang kompleks. Komponen utamanya adalah  air yaitu  sebesar 46 –  90  %,  tergantung  spesies  ternaknya. Komponen  utama  lainnya  adalah protein,  lemak  dan  laktosa.  Susu  juga  merupakan  sumber  berbagai  mineral  seperti  Ca,  Mg dan P serta berbagai vitamin (Hurley, 2000). Air susu yang pertama keluar setelah proses kelahiran  mengandung maternal immunoglobulin  atau  antibody sebagai imunitas terhadap penyakit, disebut kolostrum.  Berikut ini komponen utama susu pada beberapa ternak (Tabel.1)

Komponen lain di dalam susu adalah protein  dan  lemak. Protein dalam  susu disebut  casein.  Bentuk casein ini berbeda pada beberapa spesies. Molekul  casein  beragregasi  membentuk  ikatan  yang disebut dengan  micelles, dan distabilkan oleh komponen Ca, Phosphate, Citrat dan lain-lain. Casein  terdiri  dari  berbagai asam  amino. Asam  amino  ini dibutuhkan  oleh  manusia,  maka  susu merupakan nutrisi yang tinggi kualitas proteinnya. Sementara  lemak nampak sebagai globul-globul  kecil dekat dengan membrane yang berasal dari sel-sel yang mengeluarkannya yaitu membrane globul lemak susu .Lemak susu mengandung vitamin yang hanya larut dalam lemak yaitu vitamin A, D, E dan K (Hasim dan Martindah, 2012). Kadar lemak susu mulai menurun setelah satu sampai dua bulan masa laktasi. Masa laktasi  dua  sampai  tiga  bulan  kadar  lemak  susu  mulai  konstan, kemudian naik sedikit (Sudono et al., 2003). Kandungan gizi yang terdapat dalam susu  yaitu, laktosa berfungsi sebagai sumber energi, kalsium  membantu dalam pembentukan  massa  tulang,  lemak  menghasilkan  energi,  protein  kaya akan kandungan lisin, niasin dan ferum, serta mineral-mineral lain seperti magnesium, seng  dan  potasium  (Susilorini  dan  Sawitri, 2006). Susu  mengandung  berbagai macam protein, dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu kasein (80%) dan laktoglobulin (20%).  Rasa manis susu karena adanya laktosa berkontribusi sekitar 40%  kalori  dari  susu  penuh  (whole  milk). Laktosa terdiri  atas  dua  macam  gula sederhana yaitu glukosa dan galaktosa.  Secara alami laktosa hanya terdapat pada susu (Hasim dan Martindah, 2012).

 

Ambing Sebagai Penghasil Susu

Susu diproduksi oleh glandula mammae yang merupakan kumpulan sel-sel epithelial sekretori yang spesifik. Sel-sel ini membentuk struktur yang disebut alveoli. Sel-sel  alveoli dikelilingi oleh sel-sel kontraktil yang disebutt sel-sel myoepithelial. Sel-sel berkontraksi sebagai  respon dari hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar pituitary yaitu oxytocin. Kelenjar  mammae  adalah kelenjar eksokrin dimana sekresi eksternal dari alveoli dialirkan melalui system pembuluh  ke puting yang dapat dihisap oleh  anaknya.  Kelenjar mammae ini adalah perkembangan dari kelenjar keringat (Hurley, 2000).

Bagian-bagian dalam ambing :

  1. Alveolus, merupakan sel-sel pembentuk air susu
  2. Alveoly, merupakan kumpulan dari alveolus
  3. Lobulus, merupakan kumpulan dari alveoly
  4. Lobuly, merupakan kumpulan dari lobulus
  5. Milk ductus, merupakan saluran air susu
  6. Gland cistern, merupakan tempat penampungan air susu
  7. Streak canal, adalah bagian bawah puting yang berfungsi mencegah masuknya mikroba
  8. Teat meatus, merupakan lubang putting

Bagian-bagian ambing dapat dilihat pada gambar 1.

Betina  yang  belum dewasa secara seksual belum memiliki kelenjar mammae yang berkembang namun secara struktural pembuluh mammae dan alveolinya tumbuh. Kelenjar mammae ini tumbuh dan berkembang selama terjadinya kebuntingan. Banyak hormon yang mempengaruhi hal ini namun estrogen dan progesterone adalah  hormon yang paling berpengaruh.  Kedua hormon itu  diproduksi oleh ovarium dibawah pengaruh follicle stimulating  hormone (FSH)  dan  luteinizing  hormone (LH) (Hurley, 2000).

 Gambar.1

Beberapa faktor yang memperngaruhi produksi dan komposisi susu:

  • Jenis hewan dan keturunannya
  • Pengaruh pertumbuhan dan besar hewan
  • Pengaruh umur hewan dan panjangnya masa laktasi
  • Pengaruh kelahiran dan pasturasi
  • Kesehatan dan ketegaran hewan
  • Jenis dan macam pakan
  • Pengaruh musim
  • Manajemen pemerahan

 

Kontrol Hormonal Perkembangan Ambing

Perkembangan  ambing  nyata  tidak  terjadi  karena  ketidakhadiran  hormon tertentu.  Secara  umum, hormon yang merangsang  pertumbuhan ambing adalah hormon yang  juga  sama  mengatur  reproduksi.  Karena  itu,  sebagian besar pertumbuhan ambing terjadi pada peristiwa reproduksi tertentu saja, misalnya saat pubertas, kebuntingan, dan sesaat setelah beranak.

Ovari. Hormon ovari merangsang perkembangan ambing selama pubertas dan kebuntingan. Hormon ovari spesifik yang berperan dalam respon pertumbuhan ambing adalah  estrogen dan progesterone. Estrogen merangsang pertumbuhan saluran ambing, sedangkan kombinasi estrogen dan progesterone diperlukan untuk mencapai perkembangan lobuli-alveoler.

Pituitari  Anterior.  Hormon dari pituitari anterior diperlukan untuk pertumbuhan  ambing.  Bekerja sama dengan hormon ovari  (estrogen dan progesteron) untuk menghasilkan perkembangan ambing.

Laktogen Plasental Sapi. Plasenta adalah sumber estrogen dan laktogen plasental sapi. Struktur plasental sapi serupa  tetapi  lebih  besar  dari  prolactin dan  hormon  pertumbuhan.  Laktogen plasental  sapi  mungkin  bekerja  sama dengan  pituitary  anterior  dan  hormon  ovari

untuk perkembangan ambing selama kebuntingan.

Adrenal  dan  Tiroid. Pemberian  adrenal  glukokortikoid  dan  tiroksin memulai perkembangan  ambing.Tetapi  pengaruh-pengaruh  ini  mungkin berhubungan dengan fungsi metabolik umumnya dan tidak dari kepentingan primer dalam menyokong pertumbuhan ambing.

Sekresi Dan Keluarnya Susu

Sekresi ambing dihasilkan hanya setelah terbentuknya sistem lobuli-alveoler. Oleh karena  itu,  pada dara bunting sekresi tidak terjadi hingga pertengahan kebuntingan. Berbagai enzim yang diperlukan untuk sintesis susu terdapat di dalam sel ambing yang dibentuk sebelum beranak. Saat  beranak, hormon akan menyebabkan peningkatan besar produksi susu. Sekresi yang dibentuk sebelum beranak adalah kolostrum yang alami dan bukan susu murni.

Selama kebuntingan, progesteron menghalangi sekresi α- laktalbumin (salah satu protein susu). Halangan ini cukup untuk mencegah sintesis susu selama sebagian besar periode kebuntingan dara. Juga, titer tinggi progesteron menghalangi mulainya laktasi pada induk sapi saat periode kering. Laktasi segera  dihalangi  bila  sapi  laktasi  menjadi bunting. Segera  sebelum  beranak  titer progesterone menurun, sedangkan estrogen, ACTH, dan level  prolaktin meningkat. Adanya adrenal kortikoid atau estrogen mengawali laktasi sapi perah (Wikantadi, 1978). Lubang puting susu menjadi terbuka bila ada rangsangan syaraf atau tekanan  sehingga  air  susu  dari  ruang  kisterna  dapat  mengalir  keluar. Gerakan menyusui dari pedet, usapan satu basuhan air hangat pada ambing merupakan rangsangan pada otak melalui jaringan syaraf. Selanjutnya otak

akan  mengeluarkan  hormon  oksitosin  kedalam  darah.  Hormon  oksitosin menyebabkan  otak-otak  pada  kelenjar  susu  bergerak  dan  lubang  puting membuka sehingga air susu mengalir ke luar. Air  susu  mengalir  melalui saluran-saluran  halus  dari  gelembung  susu  ke  ruang  kisterna  dan  ruang puting  susu.  Dalam  keadaan  normal,  lubang  susu  akan  tertutup  (Hidayat dkk, 2002). Gambar proses keluarnya susu ditampilkan pada gambar.2

Sesudah sapi beranak, produksi susu meningkat cepat dan  mencapai  maksimum  pada  2  sampai  6  minggu.  Kemudian  hasil  susu secara beraturan  menurun.Batasan  berikut  akan digunakan  untuk  menguraikan  laktasi. Milk secretion /sekresi susu melibatkan sintesis intraseluler susu dan laju alir susu dari sitoplasma  ke  dalam  lumen  alveoli.  Milk  removal  /  pengeluaran  susu melibatkan pengeluaran pasif susu dari puting, sisterne kelenjar, dan saluran utama serta pengeluaran aktif susu yang disebabkan oleh kontraksi sel mioepitel sekitar alveolus  sebagai respon terhadap oksitosin.  Laktasi terdiri dari sekresi susu dan pengeluaran susu (Wikantadi, 1978).

Pada sapi perah produksi  susu  akan  meningkat  sejak  melahirkan  sampai  mencapai puncak  produksi  pada  35-50  hari  setelah  melahirkan.  Setelah  mencapai puncak produksi, produksi susu harian akan mengalami penurunan rata-rata 2,5% perminggu. Lama perah atau lama laktasi yang paling ideal adalah 305 hari  atau  sekitar  10  bulan.  Sapi  perah  yang  laktasinya  lebih  singkat  atau lebih  panjang  dari  10  bulan  akan  berakibat  terhadap  produksi  susu  yang

menurun pada laktasi berikutnya (Siregar, 1993).

Gambar 2 .  Proses keluarnya susu oleh adanya rangsangan (Edward, 2003)

 

Hormon-Hormon yang Mempengaruhi Laktasi

  1. Progesteron: mempengaruhi  pertumbuhan  dan  ukuran  alveoli.  Tingkat progesteron dan

estrogen menurun sesaat setelah melahirkan. Hal ini menstimulasi produksi secara besar-

besaran.

  1. Estrogen: menstimulasi  sistem  saluran  mammae  untuk    Tingkat estrogen

menurun saat melahirkan dan tetap rendah untuk beberapa bulan selama tetap menyusui.

  1. Follicle stimulating hormone  (FSH):  perkembangan  folikel  yang  bertujuan untuk

menghasilkan homon estrogen.

  1. Luteinizing hormone  (LH):  berperan  dalam  proses  ovulasi  Prolaktin: berperan dalam

membesarnya alveoil pada masa kebuntingandan sekresi air susu dari kelenjar

  1. Oksitosin: mengencangkan otot halus dalam rahim pada saat melahirkan dan setelah

melahirkan,  oksitosin  juga  mengencangkan  otot  halus  di  sekitar  alveoli untuk memeras

susu  menuju  saluran  susu.  Oksitosin  berperan  dalam  proses turunnya susu let-down.

Secara ringkas kerja hormone saat laktasi ditampilkan pada gambar 3.

                                                Gambar 3.respon hormone pada saat laktasi

                                                Sumber:Edward, 2003

 

Boisintesis susu

  • Sintesa protein susu
  • Sintesa lemak susu
  • Sintesa laktosa
  • Sintesa vitamin, mineral dan air

Biosintesa susu dipengaruhi oleh organ-organ dalam ambing. Ambing menempel dengan perantara sejumlah jaringan ikat di samping berhubungan dengan bagian dalam tubuh melalui canalis inguinalis. Melalui canalis inguinalis ; arteri, vena, pembuluh getah bening dan syaraf dari dalam tubuh masuk ke dalam ambing. Disaluran air susu terdapat sel-sel epitel otot karena pengaruh oksitosin bekerja selama 7 menit setelah itu hormon yang bekerja adalah hormon adrenalin.

URUTAN PROSES PADA BIOSINTESA SUSU :

1. Sintesa protein susu

Terdapat 3 sumber utama bahan pembentuk protein susu yang berasal dari darah, yaitu peptida-peptida, plasma protein, dan asam-asam amino yang bebas. Kasein, beta laktoglobulin, dan alphalaktalbumin merupakan 90% sampai 95% dari protein susu. Ketiga macam protein tersebut disintesa didalam kelejar susu. Serum albumin darah, imunoglobulin dan gamma kasein tidak disintesa didalam kelenjar susu, tetapi langsung diserap dari darah dalam bentuk yang sama tanpa mengalami perubahan. Plasma protein merupakan sumber bahan pembentuk susu sebanyak 10% dari yang diperlukan. Asam-asam amino yang bebas yang diserap oleh kelenjar susu dari darah merupakan sumber nitrogen utama untuk sintesa protein susu. Hampir semua asam amino yang diserap dari darah diubah menjadi protein susu.

Sintesa protein dari susu terjadi didalam sel epitel dikontrol oleh gene yang mengandung bahan genetik yaitu Deoxyribo nucleic acid (DNA). Urut-urutan pembentukan protein susu yaitu replikasi dari DNA, transkripsi dari Ribonulec acid (RNA) dari DNA, dan translasi terbentuknya protein menurut informasi RNA.

Replikasi

Replikasi termasuk di dalamnya pemisahan dari 2 pita (strand) DNA dan duplikasi dari kedua strand tersebut. Replikasi terjadi sebelum pembelahan sel, oleh karena itu ia tidak mempunyai pengaruh yang langsung terhadap sintesa protein.

 

Transkripsi

Transkripsi termasuk didalamnya pembentukan RNA pada saat strand DNA. Molekul-molekul RNA bergerak ke sitoplasma dan memegang peranan aktif dan penting di dalam sintesa protein. Translasi termasuk proses yang terjadi di ribosome.

Translasi merupakan proses yang kompleks dimana pertama terjadi perlekatan dari asam-asam amino pada molekul RNA. Tiap-tiap asam amino mempunyai enzim pengaktif tersendiri. ATP digunakan untuk menaikan tingkat energi dari asam amino sehingga asam amino dapat digunakan berpartisipasi dalam reaksi tersebut. Sintesa protein terjadi di ribosome (Sudono, 1990).

2. Sintesa lemak susu

Lemak susu merupakan komponen susu yang paling bervariasi. Sebagian lemak susu terdiri atas trigliserida. Bahan-bahan pembentuk lemak susu yang terutama adalah : (1) glukosa, asetat, asam beta hidroksibutirat, trigliserida dari chylomicra, dan low density lipoprotein dari darah, (2) asam-asam lemak yang berantai pendek, dan (3) beberapa asam palmitat yang disekresi didalam kelenjar susu. Kelenjar susu ruminansia tidak dapat menggunakan acetyl CoA yang berasal dari glukose dalam mitokondria. Betahidrosibutirat juga digunakan untuk sintesa asam-asam lemak. Sebagian dari padanya digunakan untuk rantai karbon permulaan untuk tambahan unit-unit C2 dan sebagian lagi untuk pembentukan unit-unit C2 dan digunakan sebagai unit Acetyl CoA untuk sintesa asam lemak.

3.  Sintesa laktosa

Sebagian besar glukosa dan galaktosa dalam sintesa laktosa berasal dari substansi-substansi yang mudah dapat diubah menjadi glukosa. Glukosa merupakan bahan utama pembentuk laktosa pada kambing dan sapi. Beberapa atom karbon dari laktosa terutama residu galaktosa, berasal dari senyawa lain misalnya asetat dan gliserol. Perbedaan antara arteri-vena untuk glukosa ± 2 kali yang diperlukan untuk sintesa laktosa, oleh karena itu kelebihan glukosa akan digunakan untuk energi membentuk gliserol karena glukosa adalah bahan utama pembentuk laktosa dan susu harus dipertahankan takenan laktosanya agar supaya isotonis dengan darah, maka bila terjadi kekurangan laktosa akan mengalami kekurangan kandungan air dalam susu. Oleh karena itu dikatakan glukosa adalah sebagai faktor pembatas untuk sekresi susu.

Proses sintesa laktosa adalah 2 molekul glukosa masuk saluran ambimg kemudian 1 molekul glukosa diubah menjadi galaktosa. Terjadi kondensasi galaktosa dengan glukosa kemudian terbentuklah laktosa dengan bantuan enzym lactose syntetase. Dengan adanya lactose ini maka susu akan memberi rasa manis serta merangsang bakteri tertentu di dalam usus pedet untuk membentuk asam laktat, sehingga akan merangsang penyerapan Ca dan pospor pada tulang. Berdasarkan  suatu hasil  penelitian diperoleh kesimpulan bahwa  Konsumsi  protein  pakan  mempunyai  hubugan  linier  dengan laktosa  susu, dan laktosa  susu  juga mempunyai hubungan linier dengan produksi susu, sehingga konsumsi  protein  pakan mempunyai hubungan dengan produksi dan protein  susu (Harjanti dan Santoso, 2014).

  1. Sintesa mineral, vitamin, dan air

Vitamin, mineral, air tidak disintesa oleh sel-sel sekresi ambing melainkan berasal dari tanah. Mineral yang penting adalah Ca, P, Cl, Na dan Mg. Mekanisme absorbsi mineral dari darah ke dalam lumen alveoli belum jelas, kemungkinan terdapat bentuk mekanisme transport mineral yang aktif, dalam sel sekresi ambing. Kadar laktose, Na dan K dalam susu biasanya relatif konstan. Ketiga komponen ini bersama dengan clorida berperan menjaga keseimbangan osmose dalam susu.

Kandungan vitamin dan mineral susu diatur dalam proses filtrasi, dimana sel-sel jaringan sekresi ambing bertindak sebagai membran barier atau carrier terhadap partikel vitamin dan mineral yang berasal dari darah yang akan masuk ke lumen alveoli. Sel epitil menggabungkan mineral dengan sel organik, dimana 75% Ca terikat dalam kasein, pospor, dan sitrat, dan dari 75% tersebut 50% terikat dengan kasein. Molekul-molekul vitamin ditransfer langsung dari darah ke dalam sel-sel sekresi ambing, tanpa mengalami perubahan, sehingga langsung masuk menjadi komponen susu. Konsen;trasi vitamin dalam susu (terutama yang terlarut dalam lemak) dapat ditingkatkan dengan meningkatkan vitamin dalam plasma darah atau dengan meningkatkan kandungan vitamin dalam pakan (Syarief, 1984).

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Bath, D. L., F. N. Dickinson, H. A. Tucker, and R. D. Appleman. 1985. Dairy Cattle : Principles,

            Practices, Problems, Profits. 3rd Edition. Lea & Febiger, Philadelphia. 291-305.

 

Edward, P, Call. 2003. Understanding the mammary System. Journal Dairy Cattle III. Page 81-

  1. Dairy Cattle Leader Notebook. Kansas State University. USA.

 

Foley, R. C., D. L. Bath, F. N. Dickinson, H. A. Tucker, and R. D. Appleman. 1973. Dairy Cattle:

Principles, Practices, Problems, Profits. Reprinted. Lea & Febiger, Philadelphia. 390-406.

 

Hasim & E. Martindah. 2012. Perbandingan susu sapi dengan susu kedelai :tinjauan kandungan

            dan biokimia absorbsi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Badan Penelitian

dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian, Bogor. Semiloka Nasional Prospek

Industri Sapi Perah Menuju Perdagangan Bebas 2020: 272-278.

Harjanti Syafri. A,  D. W.  dan Santoso S. A. B. 2014. Hubungan antara konsumsi protein pakan

dengan produksi kandungan protein dan laktosa susu sapi perah di kota Salatiga.

Animal Agricultural Journal. Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro

Semarang

Hidayat, A., P.   Effendi, A.   A.  Fuad, Y.   Patyadi, K.   Taguchi  &  T.   Sugiwaka .  2002.  Buku

Petunjuk Teknologi Sapi Perah di Indonesia untuk Peternak: Kesehatan Pemerahan .  PT Sonysugema Pressindo, Bandung.

Hurley  WL.  2000.  Mammary  tissue  organization.  Lactation  Biology.  ANSCI  308.

http://classes aces.uiuc.edu/Ansci 308/. [15 – 08 -2006]

Siregar, S.  B., M.  Rangkuti, Y.  T.   Rahardja &  H.   Budi man.   1996.   Informasi teknologi

budaya, pasca panen dan analisis ternak sapi perah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor.

Soedono, Adi. 1990. Pedoman Beternak Sapi Perah. Dirjen Peternakan: Jakarta

Sudono, A., R. F. Rosdiana, & B. S. Setiawan. 2003. Beternak Sapi Perah Secara Intensif.

Agromedia Pustaka, Jakarta.

Susilorini, T.E., & M. E. Sawitri. 2006. Produk Olahan Susu. Penerbit PT. Penebar Swadaya,

Depok.

Syarief, MZ. 1984. Ternak Perah. Yasaguna: Jakarta

Wikantadi, B. 1978.Biologi Laktasi. Bagian Ternak Perah, Fakultas Peternakan. Universitas

Gadjah Mada. Yogyakarta

Read more

INSEMINASI BUATAN PADA KAMBING

INSEMINASI BUATAN PADA KAMBING

oleh : drh. Rita Dyah

  1. PENDAHULUAN

Inseminasi Buatan (IB) adalah teknologi reproduksi yang bertujuan untuk meningkatkan populasi dan  mutu genetik dari ternak.  IB adalah pemasukan atau penyampaian semen ke dalam saluran kelamin betina dengan menggunakan alat buatan manusia (Toelihere, 1985). Di Indonesia, IB merupakan satu-satunya teknologi reproduksi yang paling aplikatif digunakan digunakan secara luas, terutama pada ternak sapi.

Teknologi IB mempunyai berbagai manfaat dalam usaha budidaya ternak, disamping itu juga mempunyai beberapa kekurangan. Menurut Toelihere (1985), manfaat IB antara lain:

  1. IB dapat mempertinggi penggunaan pejantan-pejantan unggul, sehingga dayaguna seekor pejantan dengan genetik unggul dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin.
  2. IB dapat menghemat biaya dan tenaga pemeliharaan pejantan, terutama bagi peternak kecil.
  3. IB dapat mencegah penyebaran penyakit-penyakit menular pada ternak, seperti Vibriosis,Trichomoniasis, Brucellosis dan Leptospirosis.
  4. IB memungkinkan perkawinan antara hewan-hewan yang sangat berbeda ukuran tubuhnya tanpa menimbulkan cedera.
  5. IB dapat memperpanjang waktu pemakaian pejantan yang secara fisik sudah tidak mampu berkopulasi secara normal.
  6. IB memungkinkan perkawinan antara hewan atau ternak yang terpisah waktu dan tempat.
  7. IB sangat berguna digunakan untuk betina yang berada dalam keadaan estrus dan berovulasi namun tidak bersedia untuk dinaiki pejantan.

Sedangkan kekurangan dalam IB antara lain:

  1. Dapat mengakibatkan efisiensi reproduksi yang rendah apabila prosedur inseminasi tidak dilakukan secara benar.
  2. IB memungkinkan penyebaran abnormalitas genetik .
  3. Peternak tidak dapat memilih pejantan yang dikehendaki apabila persediaan pejantan unggul terbatas, dan bila terjadi terus-menerus dapat terjadi inbreeding.
  4. dapat menyebabkan abortus apabila IB intrauterine pada sapi bunting.
  5. IB belum dapat digunakan dengan baik pada semua jenis hewan.

Kegiatan IB pada kambing telah berhasil dilakukan pada beberapa peternakan. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan IB, antara lain pemilihan akseptor, kualitas semen, akurasi deteksi birahi oleh para peternak, dan keterampilan inseminator (Hastuti 2008).

  1. PERSYARATAN PEJANTAN IB

Pejantan IB adalah pejantan unggul yang memenuhi syarat teknis baik reproduktif maupun kesehatan untuk dapat ditampung semennya dan diproses menjadi semen beku. Pejantan tersebut dapat berasal dari impor maupun lokal  yang mempunyai silsilah keturunan dan sudah terseleksi. Bibit pejantan harus sehat dan bebas dari segala cacat fisik seperti cacat mata, tanduk patah, pincang, lumpuh, kaki abnormal (benuk O atau X) dan kuku abnormal serta tidka terdapat kelainan tulang punggung atau cacat tubuh lainnya. Pejantan harus mempunyai sifat genetic transmitted ability (kemampuan menurunkan) anak yang tinggi. Pejantan mempunyai produktivitas kualitas semen yang baik sehingga tidak boleh memiliki cacat pada alat kelamin (Feradis, 2014).

Menurut SNI  7352.1:2015 kambing Peranakan Ettawa pejantan harus memiliki kriteria: warna bulu kombinasi putih-hitam atau putih-coklat, profil muka cembung, tanduk pejantan dan betina kecil melengkung ke belakang, ekor pendek; dan bobot badan 29-54 kg, tingi pundak 67-87 cm, panjang badan 53-63 cm, lingkar dada 71-89 cm, panjang telinga 23-30 cm, dan panjang bulu 11-23 cm. Sedangkan, kriteria Performance kambing Boer diantaranya warna putih, leher hingga kepala berwarna coklat; telinga lebar melengkung; tanduk besar, panjang, dan mengarah ke samping; berasal dari Afrika Selatan dan berat dewasa 110-135 kg.

Secara reproduksi, pejantan harus mempunyai libido tinggi, kesanggupan dan kemampuan mengawini yang baik. Warna semen kambing yang dihailkan berwarna semen putih susu kekuning-kuningan. Selain itu lingkar skrotum harus sesuai dengan standar berdasarkan breed pejantan. Pejantan IB harus bebas dari parasit (baik endoparasit maupun ektoprasasit) dan penyakit hewan menular (Feradis, 2014).

Umur pejantan produktif antara 1 sampai lebih dari 6 tahun, pada beberapa Balai Inseminasi pejantan berumur lebih dari 6 tahun masih banyak dijumpai. Heriyanta dkk (2013) menyatakan bahwa kualitas semen yang terbaik terdapat pada umur 3-4 tahun ditinjau dari motilitas individu dan konsentrasi yang tinggi serta spermatozoa motil dan konsentrasi yang relatif tinggi. Semakin tua umur kambing, maka makin turun kualitas semen. Menurut sebelum pejantan tersebut diafkir, harus sudah disiapkan pejantan pengganti. Spermatogenesis dimulai sewaktu hewan sudah mencapai masa pubertas. yakni 7-8 bulan untuk domba atau kambing. Namun, semakin bertambahnya umur, testis terus berkembang dan menghasilkan lebih banyak sperma (Toelihere, 1985).

 

  1. PENAMPUNGAN SEMEN

Metode Penampungan Semen

Penampungan semen atau koleksi semen bertujuan untuk memperoleh semen dalam kuantitas dan kualitas tinggi untuk dapat diproses lebih lanjut sebagai semen cair atau semen beku untuk keperluan IB. Penampungan semen menggunakan beberapa teknik diantaranya vagina buatan, elektroejakulator, masase (Sorensen, 1979) dan epipdidymal recovery (Watson, 1978). Vagina Buatan merupakan suatu teknik yang paling efektif diterapkan pada ternak besar (sapi, kuda, kerbau) ataupun ternak kecil (domba dan kambing) yang normal (tidak cacat) dan memiliki libido yang baik (Toelihere, 1985). Kelebihan koleksi atau penampungan semen menggunakan vagina buatan ini adalah bersifat fisiologis sehingga semen yang dihasilkan akan maksimal (Toelihere, 1985; Arifiantini, 2012).

Koleksi semen dengan elektroejakulator merupakan metode yang digunakan untuk hewan liar (harimau, banteng, bison). Elektroejakulator dapat digunaan pada ternak sebagai metode alternatif jika ternak tersebut mempunyai libido rendah atau terdapat gangguan pada bagian kaki sehingga tidak memungkinkan pejantan untuk menaiki betina. Kualitas semen yang dihasilkan biasanya lebih rendah dibandingkan dengan metode vagina buatan.  Teknik penampungan semen yang lain adalah masase (pengurutan). Teknik ini umum digunakan pada babi, anjing,atau ayam, dan bisa juga ikan mas. Teknik ini dpat pula diterapkan pada ternak besar dengan masase pada ampula duktus deferens, namun hasilnya tidak sebaik bila menggunakan vagina buatan dan elektroejakulator.        Selanjutnya adalah teknik penampungan semen dari cauda epididimis post mortem yang dikenal dengan epididymal recovery. Teknik ini biasa digunakan pada ternak yang telah mati (Arifiantini, 2012).

Persiapan Vagina Buatan

Berikut akan dijelaskan teknik koleksi atau penampungan semen dengan menggunakan vagina buatan, dimana teknik ini merupakan teknik yang paling umum digunakan dan menghasilkan semen dengan kualitas yang baik. Teknik vagina buatan (artificial vagina/AV) menurut Hafez (1993) dilakukan secara alamiah sehingga kualitas dan kuantitas semen yang dihasilkan lebih baik dibanding ketiga koleksi lainnya.  Afiantini (2012) menjelaskan bahwa peralatan vagina buatan terdiri atas: 1) tabung vagina buatan dilengkapi dengan pentil udara); 2) inner liner dari bahan karet; 3) coen (corong bahan karet sebagai penghubung tabung vagina dengan tabung semen), 4) tabung semen berskala (terbuat dari gelas atau plastic bermulut lebar), 5) tabung pelindung; 6) pelican steril; 7) thermometer; dan 8) stik pelicin. Cara menyiapkan vagina buatan adalah sebagai berikut:

  • Inner liner dipasang di dalam selongsong karet tebal,kemudian diikat kuat dengan karet pengikat pada kedua ujungnya.
  • Corong karet dipasang pada bagian ujung vagina buatan yang paling dekat dengan klep air panas.
  • Tabung penampung dipasang dan diikat secara ketat dengan karet pengikat pada pangkal corong karet.
  • Air panas dan air dingin dicampurkan hingga suhu mencapai 50-55°C. Suhu air panas yang disiapkan harus memperhitungkan kesiapan dari kambing betina dan kambing jantan. Bila kambing betina telah disiapkan di kandang jepit dan sapi jantan telah siap berada di dekat kambing betina, berarti suhutersebut sudah tepat. Akan tetapi bila kambing btina dan jantan belum siap, suhu air panas yang dimasukkan ke dalam vagina buatan dapat lebih tinggi (60°C).
  • Air hangat tersebut dimasukkan melalui klep air panas sampai penuh, lalu ditutup. Selanjutnya, klep udara dibuka dan udara dipompakan ke vagina buatan.
  • Pelicin (jelly) diberikan pada vagina buatan maksimal 1/3 bagian depan vagina buatan dengan menggunakan tongkat khusus atau thermometer.
  • Suhu akhir sebelum penampungan sangat penting untuk diperhatikan. Suhu akhir vagina buatan harus berkisar antara 41-44°C. Jika terlalu panas, penis kambing akan merasa kesakitan dan akan menarik penis dari vagina buatan dan ejakulasi tidak akan terjadi. Sebaliknya, pada saat suhu vagina buatan di bawah suhu optimal untuk penampungan, ejakulasi tidak akan terjadi secara sempurna.

Setiap penampungan semen harus menggunakan vagina buatan yang berbeda untuk setiap pejantan. Akan tetapi bila ketersediaan vagina buatan terbatas, sedangkan pejantan yang akan dikoleksi lebih dari 1 ekor, penggunaan vagina buatan dapat diulang dengan melakukan hal-hal sebagai berikut: bagian luar vagina buatan dibersihkan, bagian dalam (inner liner dibilas dengan NaCl fisiologis, suhu dicek kembali dan air panas ditambahkan kembali bila suhu kurang dari 42°C dan pelicin kembali diberikan.

Cara Penampungan Semen

Ternak jantan yang akan dikoleksi sebaiknya dimandikan terlebih dahulu, seluruh badan dibersihkan termasuk daerah praeputium. Bulu praeputium yang panjang dapat digunting dengan menyisakan 1-2 cm. Penampungan semen bisa menggunakan pemancing berupa dummy atau hewan hidup (live mount)(baik jantan atau betina). Penampungan semen dengan menggunakan live mount dilakukan sebagai berikut:

  1. Kambing pemancing ditempatkan pada kandang penampung atau kandang jepit,
  2. Kambing jantan yang akan ditampung semennya harus dibersihkan bagian praeputiumnya dengan air hangat, dan dikeringkan dengan tisu atau handuk kecil yng bersih,
  3. Kambing jantang akan melakukan percumbuan dengan mencium vulva betina pemancing,
  4. Kolektor berada disamping kanan dan berdiri sejajar dengan bagian belakang pemancing. Kambing atau domba mempunyai ukuran tubuh yang kecil, maka saat penampungan semen, kolektor harus menyesuaikan posisi berlutut sejajar dengan lantai.
  5. Vagina buatan dipegang tangan kanan dengan posisi 45°C,
  6. Pada saat kambing jantan menaiki kambing pemancing, praeputium dipegang dengan telapak tangan kiri dan penis diarahkan ke samping. Tahap ini disebut dengan false mount. Tujuannya untuk menghindari terjadinya intromisi dan meningkatkan libido. Pada saat dilakukan false mount, intromisi dan kauda epididimis ke ampula duktus deferens Hal itu disertai dengan keluarnya cairan dari kelenjar cowper, sehingga akan meningkatkan kuantitas dan kualitas semen,
  7. Pada mounting berikutnya, ujung penis diarahkan dan disentuhkan ke mulut vagina buatan. Kambing akan berejakulasi yang ditandai oleh suatu dorongan cepat ke depan.
  8. Setelah terjadi ejakulasi, penis tetap dibiarkan berada di dalam vagina buatan sampai pejantan turun, kemudian vagina buatan ditarik secara perlahan supaya lepas dari penis,
  9. Vagina buatan diputar membentuk angka delapan agar semen seluruhnya turun ke tabung penampung,
  10. Tabung penampung semen dilepaskan, kemudian diberi tanda kode pejantan dan kode ejakulat,
  11. Tabung tersebut ditempatkan pada termos tertutup yang hangat dan segera dibawa ke laboratorium untuk dievaluasi.

(Arifiantini, 2012)

D.  EVALUASI KUALITAS SEMEN

Evaluasi semen adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui kualitas semen yang dikoleksi serta menghitung kadar pengenceran maupun jumlah pelayanan terhadap betina yang akan diinseminasi. Semen hasil koleksi sebaiknya disimpan pada water bath suhu 32°C. Evaluasi semen dapat dilakukan secara makroskopis dan secara mikroskopis.

 

1.  Evaluasi Semen secara Makroskopis

  1. Volume

Volume semen dapat dinilai dengan melihat skala pada tabung penampung semen. Jika tabung penampung tidak menggunakan skala, pengukuran semen dapat menggunakan pipet ukur yang dilengkapi dengan bulb. Rata-rata volume semen domba dan kambing adalah 0,5-2 ml (Arifiantini, 2012); 0,9 – 1,2 ml (Lubis dkk, 2013); 1,6 – 2,0 ml (Suyadi, 2003).

  1. Derajat Keasaman

Derajat keasaman semen mamalia berkisar antara 6,2 – 6,9 (Suyadi, 2003);  6-7,5 (Arifiantini, 2012); dan menurut Lubis dkk., (2013) kurang lebih semen kambing mempunyai pH 6,5.

  1. Konsistensi atau derajat kekentalan

Penilaian konsistensi dapat memberikan gambaran konsentrasi spermatozoa yang terkandung di dalam semen. Berdasarkan karakteristiknya, masing-masing ternak akan menunjukkan nilai konsistensi yang berbeda. Cara menilai konsistensi adalah dengan memiringkan tabung yang berisi semen dan mengembalikan pada posisi semula. Kosistensi dapat dinilai berdasarkan kecepatan semen kembali ke dasar tabung penampung.

  1. Encer : semen akan segera kembali ke dasar tabung
  2. Sedang : semen akan segera kembali ke dasar tabung lebih lamabat dari yang pertama, sebagian semen masih menempel di dinding tabung
  3. Kental : semen kembali ke dasar tabung secara perlahan dan menyisakan sebagian smeen di pinggiran tabung

Berdasarkan karakteristiknya, konsistensi semen kambing dan domba adalah sedang sampai kental (Suyadi, 2003; Arifiantini, 2012; Lubis dkk., 2013).

  1. Warna

Toelihere (1985) menyatakan bahwa semen domba dan kambing berwarna krem. Secara umum warna semen adalah putih keruh, putih susu, krem (Suyadi, 2001; Arifiantini, 2012; Lubis dkk., 2013) krem kekuningan, sampai warna putih keabu-abuan (Arifiantini, 2012). Warna tersebut adalah normal, warna yang tidak normal adalah putih kemerah-merahan yang menunjtukkan luka di saluran uretra, atau putih agak kehijau-hijauan yang menunjtukkan adanya kandungan bakteri tertentu (Tolihere, 1985; Arifiantini, 2012).

Warna semen dipengaruhi oleh sekresi kelenjar asesoris, terutama dari kelenjar vesikularis. Warna semen juga dipengaruhi oleh pakan, misalkan jagung yang dapat memberikan warna kekuningan pada semen.

  1. Bau

Bau semen normal adalah bau anyir atau amis (Arifiantini, 2012).

Karakteristik semen segar kambing PE menurut Sohuoka dkk. (2009) adalah sebagai berikut:

Sedangkan Karakteristik semen segar kambing Boer menurut Lubis dkk. (2013) antara lain:

 

2. Evaluasi Secara Mikroskopis

Evaluasi secara mikroskopis yang umum dilakukan adalah sebagai berikut:

  1. Gerakan spermatozoa
  2. gerakan massa

Arifiantini (2012) menyatakan bahwa gerakan massa adalah evaluasi yang dilakukan untuk melihat gerakan spermatozoa yang bergerak bersama-sama. Penilaian dilakukan dengan melihat tebal tipisnya gelombang massa spermatozoa dan kecepatan gelombang spermatozoa berpindah tempat, dengan criteria sebagai berikut:

+++           : gelombang massa tebal dan cepat berpindah tempat

++              : gelombang massa tebal tapi lambat berpindah tempat atau gelombang massa sedang tapi cepat berpindah tempat

+                : gelombang massa tipis dan lambat berpindah tempat

  • : tidak ada gelombang massa
  1. gerakan individu/motilitas

Gerakan individu atau motilitas adalah gerakan spermatozoa secara individual, baik kecepatan atau perbandingan antara yang bergerak aktif progresif dengan gerakan-gerakan spermatozoa yang lainnya. Penilaian motilitas umumnya di setiap laboratorium dilakukan secara subyektif. Untuk dapat menilai gerakan individu, spermatozoa harus dinilai secara individual. Karena semen mengandung jutaan spermatozoa, semen harus diencerkan menggunakan cairan fisiologis seperti NaCl fisiologis, sehingga memudahkan pengamatan. Perbandingan antara bahan pengencer dengan semen harus memperhatikan karakteristik semen yang akan dinilai, dimana setiap membuat preparat diusahakan setiap lapang pandang yang diamati hanya berisi 10 sampai 20 sel spermatozoa. Semen domba atau kambing dapat menggunakan perbandingan 1:8-10 dengan pengencer (Arifiantini, 2012). Pada umumnya dan yang terbaik adalah gerakan progresif atau gerakan aktif maju ke depan (Toelihere, 1985).

Gerakan invividu dinilai dengan skor kecepatan spermatozoa bergerak ke depan (bisa 1-5 atau 1-3), sedangkan motilitas dinilai dalam persen, dimana yang dinilai adalah sperma yang bergerak aktif progresif (Arifiantini, 2012). Kebanyakan pejantan yang fertile mempunyai 50-80% spermatozoa yang motil aktif progresif (Toelihere, 1985).

  1. Konsentrasi Spermatozoa

Penilaian konsentrasi adalah penilaian jumlah spermatozoa per milliliter semen (Toelihere, 1985). Konsentrasi spermatozoa dapat dinilai dengan beberap cara, dianaranya cara estimasi dengan melihat jarak antar kepala, menggunakan counting chamber, spectrophotometer, photometer SDM 5 atau 6, dan spermacue (Arifiantini, 2012). Konsentrasi sperma kambing menurut Jainudeen et al., (2000) sebesar 2000-6000 x 106 sel/ml, atau 2832 x 106 sel/ml (Krisnawati (2002), sedang menurut Soeparna (1994) konsentrasi sperma kambing Kacang sebesar 4191,6 x 106 sel/ml, atau 2801,43 x 106 pada kambing PE (Tambing, 1999). Menurut Hafez (2000) peningkatan produksi spermatozoa berhubungan dengan umur pada periode setelah pubertas dan perubahan cuaca pada banyak spesies.

  1. Rasio spermatozoa hidup dan mati

Rasio spermatozoa hidup dan mati menurut Graham (2001) mempunyai prinsip yang sama dengan pemeriksaan keutuhan membrane plasma, yaitu berdasarkan pompa ion ke dalam dan ke luar sel spermatozoa.Spermatozoa yang mati mempunyai permeabilitas membrane yang tinggi, sehingga akan menyerap warna yang dipaparkan. Sebaliknya spermatozoa yang hidup tidak akan menyerap warna. Pewarnaan semen untuk melihat rasio spermatozoa yang hidup dan mati biasanya dilakukan menggunakan pewarnaan eosin 2% atau eosin negrosin (Arifiantini, 2012).

  1. Abnormalitas spermatozoa

Morfologi spermatozoa yang abnormal banyak mempengaruhi fertilitas (Chenoweth, 2005; Saacke, 2008). Chenoweth (2005) membagi determinasi abnormalitas spermatozoa ke dalam dua kategori. Kategori pertama adalah kerusakan spermatozoa yang bersifat primer dan sekunder. Abnormalitas spermatozoa yang bersifat primer adlah kelainan yang terjadi pada saat proses spermatogenesis, sedangkan abnormalitas yang bersifat sekunder terjadi setelah spermiasi (pelepasan spermatozoa ke lumen tubulus seminiferus). Kategori kedua adalah kerusakan mayor dan minor. Pengelompokan kerusakan mayor dan minor berdasarkan dampaknya pada fertilotas pejantan tersebut. Kelainan mayor akan berdampak besar pada fertilitas, sebaliknya kelainan yang bersifat minro dampaknya kecil pada fertilitas. Ax et al. (2000) mengelompokkan abnormalitas spermatozoa ke dalam tiga kategori, yaitu primer (mempunyai hubungan erat dengan kepala spermatozoa dan akrosom), sekunder (keberadaan drolet pada bagian tengah ekor), dan tersier (kerusakan pada ekor). Pada domba atau kambing yang mempunyai lebih dari 14 % sperma abnormal di dalam semennya menunjukkan gejala infertilitas apabila pejantan tersebut lama tidak ditampung spermanya. Apabila sperma abnormalnya mencapai 50% maka pejantan tersebut dapat dikatakan steril (Toelihere, 1985).

 

E.  PENGENCER SEMEN

Agar mencapai tujuan suatu program IB, maka daya fertilisasi optimum spermatozoa harus dipreservasi atau diawetkan untuk beberapa lama setelah penampungan. Oleh karena itu semen perlu dicampur dengan larutan pengencer yang menjamin kebutuhan fisik dan kimiawinya dan disimpan pada suhu dan kondisi tertentu yang mempertahankan kehidupan sperma selama waktu yang diinginkan untuk kemudian dipakai sesuai dengan kebutuhan. Semen yang tidak diencerkan setelah penampungan dan dibiarkan dalam suhu kamar harus segera digunakan dalam waktu tidak lebih dari dua jam (Toelihere, 1985). Semen dapat diencerkan lalu disimpan di lemari es suhu 5°C, dan dapat digunakan selama 3-4 hari yang disebut semen cair atau dapat dibekukan untuk dapat disimpan dalam waktu yang lama menjadi semen beku.

 

Fungsi Pengencer

Spermatozoa tidak dapat bertahan hidup dalam waktu yang lama kecuali bila ditambahkan beberapa unsure dalam semen. Unsur-unsur yang membentuk suau pengencer yang baik harus berfungsi sebagai berikut:

  1. menyediakan zat makanan sebagai sumber energy bagi spermatozoa. Glukosa dapat dipakai sebagai sumber energy bagi sperma.
  2. melindungi spermatozoa terhadap cold shock. Kuning telur, air susu, mengandung lipoprotein yang dapat melindungi spermatozoa dari cold shock.
  3. menyediakan suatu penyanggah atau buffer untuk mencegah perubahan pH akibat pembetukan asam lakat dari hasil metabolisme sperma. Asam sitrat, Tris, dan fosfat dapat digunakan sebagai unsure penyanggah atau
  4. mempertahakan tekanan osmotic dan keseimbangan elektrolit
  5. mencegah pertumbuhan kuman. Penicilin dan streptomycin dapat digunakan sebagai bahan yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme.
  6. memperbanyak volume semen sehingga lebih banyak hewan betina yang dapat diinseminasi dengan satu ejakulasi.

Adapun bahan-bahan yang digunakan sebagai pengencer menurut Toelihere (1985) harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

  1. Bahan pengencer hendaknya murah, sederhana dan praktis dibuat namun mempunyai daya preservasi tinggi
  2. Pengencer harus mengandung unsure-unsur yang hampr sama sifat fisik dan kimianya dengan semen dan tidak boleh mengandung zat-zat yang bersifat toksik atau bersifat racun baik terhadap sperma maupun terhadap saluran kelamin betina
  3. Pengencer harus tetap mempertahankan dan tidak membatasi daya fertilisasi sperma. Pengencer tidak boleh terlalu kental sehingga menghalang-halangi pertemuan antara sperma dan ovum serta menghambat fertilisasi
  4. Pengencer harus memberi kemungkinan penilaian sperma setelah pengenceran. Setelah pengeceran, sebaiknya pergerakan spermanya masih dpaat terlihat dengan mudah agar dapat ditentukan nilai semen tersebut.

Syarat penting bahan pengencer spermatozoa adalah mampu menyediakan zat-zat makanan sebagai sumber energi, mencegah terjadinya cold shock sewaktu penyimpanan dan pembekuan, menjaga pH dan tekanan osmotik yang sama dengan spermatozoa (Salisbury dan Van demark, 1985).

Beberapa bahan pengencer telah banyak digunakan untuk meningkatkan daya hidup spermatozoa setelah pembekuan adalah Tris-kuning telur, susu segar- kuning telur, susu skim-kuning telur, laktosa kuning telur (Gil et al., 2003; Rothe, 2003). Kuning telur dalam pengencer secara rutin telah digunakan sebagai salah satu bahan dalam kriopreservasi semen mamalia yang berfungsi untuk melindungi sperma dari shock termal, aksi ini disebabkan kandungan LDL (Low density Lipoprotein) yang melekat pada membrane seluler selama proses kriopreservasi (Moussa et.al., 2002). Perlekatan LDL pada permukaan membran plasma mengembalikan kehilangan fosfolipid dan menginduksi perubahan sementara dalam komposisinya sehingga mencegah pecahnya membran plasma (Farstard, 1996). Namun demikian, Roy (1957) menyatakan bahwa pengencer yang mengandung kuning telur tidak direkomendasikan untuk semen beku kambing. Hal ini disebabkan karena seminal plasma kambing mengandung enzim yang disekresikan oleh kelenjar bulbo-uretralis, yang bilamana terdapat kuning telur, dengan hidrolisis, akan membentuk lisofosfatidilkolin yang beracun bagi sperma (Leboeuf et al., 2000). Oleh sebab itu, banyak beredar beberapa pengencer komersial Andromed®, Bioexcell®, Triladyl®, Biladyl®, Biochipos Plus ® yang tidak mengandung kuning telur (Gil et al., 2003; Rothe, 2003; Minitub Germany, 2005).

Namun ada juga pengencer yang mengandung kuning telur untuk pembekuan semen beku kambing, seperti tris kuning telur dan skim kuning telur (Konyali et al., 2013), tris kuning telur dan soya lesitin (Yodmingkwan et al., 2016), tris yolk dengan minyak esensial (Sitepu et al., 2018). Kuning telur konsentrasi rendah (2,5%) dalam pengencer cukup baik untuk digunakan pada kriopreservasi semen kambing (Bispo et al., 2011).

Andromed® merupakan salah satu pengencer komersial berbahan dasar tris yang paling populer digunakan untuk pengencer semen beku sapi dan kambing terdiri dari fosfolipid, tris-(hidroksimetil)-aminometan, asam sitrat, fruktosa, gliserol, tilosin tartrat, gentamisin sulfat, spektinomisin, dan linkomisin (Minitub, 2001). Andromed®  banyak digunakan oleh Balai Inseminasi sebagai bahan pengencer semen beku kambing karena sangat praktis digunakan dibandingkan pengencer skim-kuning telur atau tris-kuning telur.

 

F.  PEMBUATAN PENGENCER

  1.   Andromed®

Penggunaan andromed® sebagai pengencer sering dikombinasikan dengan larutan NaCl atau akuades dengan perbandingan 1:4 (Herold    et al., 2006).

  1. Skim-gliserol

Bahan yang disiapkan antara lain susu skim bubuk, aquabidest, glukosa dan gliserol (Vidal et al., 2013). Susu skim 10 gram dipanaskan dengan 100 ml aquabidest sampai suhu 92°C, kemudian disaring dengan kertas saring.  Setelah didinginkan, larutan susu skim ditambah 0,0194 gram glukosa, dan 7% gliserol, kemudian dihomogenkan.

  1. Skim-kuning telur-gliserol

Bahan yang disiapkan antara lain susu skim bubuk, aquabidest, antibiotik (streptomycin dan penicillin (1:1), glukosa dan kuning telur. Susu skim 10 gram dipanaskan dengan 96 ml aquabidest sampai suhu 92°C, kemudian disaring dengan kertas saring.  Setelah didinginkan, larutan susu skim ditambah 1% antibiotik, kemudian dihomogenkan. Pengencer Skim –kuning telur terdiri dari pengencer A dan B. Pengencer A dibuat dari larutan susu skim-antibiotik 50 ml ditambah dengan 10% kuning telur, dan dihomogenkan. Pengencer B dibuat dari larutan susu skim-antibiotik 50 ml ditambah 10 ml kuning telur dan 2 gram glukosa.

  1. Tris-Kuning Telur-Gliserol

Bahan untuk membuat 100 ml pengencer tris-kuning telur memerlukan: Tris aminomethan 2,422 g; Asam Sitrat 1.36 g; Fruktosa 1,0 g, Penicilin G 0,006 g; Streptomycin sulfat 1,100 g; Kuning telur 2,5% dari volume; gliserol 2% dari volume, dan Aquadest (Mook and Wideus, 2008). Bahan-bahan yang terdiri dari Tris aminomethane, asam sitrat, dan frukosa dimasukkan dalam erlenmeyer dan ditambahkan aquadest serta dihomogenkan dengan stirer magnetik selama 10–15 menit. Setelah dihomogenkan dimasukkan ke dalam panci dan dipanaskan sampai mendidih dengan tujuan untuk sterilisasi. Diturunkan suhunya dari 100oC ke suhu 37oC. Kuning telur, gliserol dan antibiotik dimasukkan dan dihomogenkan selama 15–20 menit. Dimasukkan dalam refrigerator dan setelah 3 hari dipisahkan antara endapan dan supernatan serta yang digunakan hanya supernatannya sedangkan endapan dibuang.

  1. Tris – Gliserol

Bahan yang harus disiapkan dalam membuat tris- gliserol antara lain 0,2 g; fruktosa; 4,0 g Tris; 2,0 g asam sitrat; 1,4 ml gliserol; 2,0 g antibiotik (penicillin) dan akuadest 93 ml (Qureshi et al., 2013). Pembuatan pengencer Tris-kuning telur-gliserol namun tanpa ditambahkan kuning telur.

Penambahan gliserol ke dalam pengencer adalah esensial untuk pembekuan semen, untuk semen yang tidak dibekukan, penambahan gliserol meningkatkan daya tahan hidup spermatozoa terutama pada pengencer susu, namun tidak pada pengencer sitrat-kuning telur (Willet dan Ohms, 1956). McLean (1956) melaporkan bahwa spermatozoa yang diencerkan dengan susu yang ditambah 10% gliserol mempunyai daya tahan hidup dan fertilitas yang baik.

 

F.  PENGENCERAN, PEMBUATAN SEMEN CAIR DAN SEMEN BEKU

Segera setelah penampungan semen dilakukan pemeriksaan kualitas secara makroskopis (volume, warna, konsistensi, bau, dan pH) dan mikroskopis (konsentrasi spermatozoa, persentase motilitas spermatozoa, persentase spermatozoa hidup, persentase membran plasma spermatozoa utuh dan persentase tudung akrosom spermatozoa utuh). Semen yang mempunyai konsentrasi spermatozoa > 600 x 106/ml dan motilitas progresif > 70 % , abnormalitas < 20 % yang diproses lebih lanjut menjadi semen cair dan semen beku (Lubis dkk., 2013). Segera setelah dilakukan evaluasi terhadap kualitas semen segar, semen diencerkan sesuai kebutuhan. Jumlah bahan pengencer yang akan ditambahkan ke masing-masing semen dihitung dengan rumus:

Suhu pengencer harus sama dengan suhu semen pada waktu dicampur, yaitu pada 30°C (penangas) tau 22°-27°C (suhu kamar) atau pada 3°C (dalam lemari es atau kamar pendingin) (Toelihere, 1985). Volume masing-masing pengenceran yang pertama kali ditambahkan pada semen sesuai dengan volume semen yang diperoleh. Selanjutnya ditambahkan sedikit demi sedikit atau bertahap (Toelihere, 1985; Lubis dkk., 2013) sampai volume yang diinginkan terpenuhi kemudian tabung dimiringkan ke depan dan ke belakang agar smen dan pengencer dapat tercampur sempurna (Toelihere, 1985). Konsentrasi semen yang diinginkan bisa 10 juta spermatozoa/ml, 50 juta spermatozoa/ml, atau 100 juta spermatozoa/ml bisa dikemas dalam pool atau straw (Yusuf dkk., 2005).  Semen kambing umumnya berisi 50-60 juta sel tiap dosis inseminasi (Sorenson, 1979), namun mengingat tingkat kesulitan tinggi dalam menembus cincin serviks pada ternak kambing dan domba maka banya peneliti menyarankan untuk meningkatkan dosis inseminasi semen cair sampai 50-150 juta (Toelihere, 1993) atau 200 juta dengan volume 0,05-0,2 (Evan dan Maxwell, 1987) atau 0,2- 0,5 (Berden dan Fuquay, 1977). (Jarak waktu antara penampungan semen sampai pengenceran tidak lebih dari 15 menit seperti yang dianjurkan oleh Balai Inseminasi Buatan (BIB) dan disimpan dalam lemari pendingun untuk jadi semen cair (Lubis dkk., 2013).

Sewaktu akan digunakan, semen harus dimasukkan ke dalam kotak atau termos berisi es dan ditutup rapat untuk mencegah penyinaran langsung dan tetap mempertahankan suhu dingin sampai tiba di tempat tujuan. Semen tersebut dapat langsung dipakai atau dimasukkan dan disimpan kembali di dalam lemari es untuk digunakan kembali.

 

Semen Beku

Semen beku adalah semen yang telah diencerkan dan selanjutnya dibekukan pada suhu tertentu yang bertujuan untuk memperpanjang masa simpan spermatozoa. Keuntungan semen beku adalah semen yang berasal dari pejantan unggul dapat dipakai secara efisien sepanjang tahun, dapat mengatasi hambatan jarak dan waktu, memungkinkan perkawinan selektif dengan pejantan unggul untuk wilayah yang luas, serta biaya pengangkutan relatif lebih murah (Partodiharjo, 1982). Selain itu disebutkan juga kerugian semen beku antara lain biaya produksi dan penyimpanan yang cukup tinggi dan dari 10 – 20% menghasilkan semen yang tidak tahan terhadap pembekuan serta dapat berpoensi menyebarluaskan penyakit-penyakit bakterial dan viral.

Pembekuan sperma adalah suatu proses penghentian sementara kegiatan hidup dari sel tanpa mematikan fungsi sel, dimana reaksi metaboliknya berhenti. Sel tidak bermetabolisme dan dapat dikembalikan ke dalam kondisi hidup normal setelah thawing (Susilawati, 2000).

Proses pembuatan semen beku di Balai Inseminasi Buatan Ungaran yang telah diadopsi oleh (Tuhu dkk., 2013) menggunakan metode dua tahap yaitu sebagai berikut:

  1. Semen yang memenuhi syarat dicampur dengan pengencer A1 yang disimpan dalam water bath suhu 27°C , kemudian dimasukkan dalam beaker glass berisi air dari water bath (water jacket) kemudian disimpan dalam cold top suhu 4 – 5°C 35 menit
  2. Lima puluh menit kemudian dilakukan pencampuran dengan campuran A2 yang telah disiapkan dalam cold top
  3. Pencampuran dengan (buffer antibiotika, gliserol, kuning telur dan glukosa) dilakukan 4 kali setiap 15 menit di dalam cold top (gliserolisasi)
  4. Setelah tahapan selesai dilanjutkan dengan pemeriksaan before freezing, yang harus menunjukkan :
  5. a) Motilitas spermatozoa minimal 55 %;
  6. b) Gerakan individu spermatozoa minimal skor 3 (tiga)
  7. Proses filling dan sealing . Semen beku kambing dan domba dikemas dalam bentuk straw dengan ukuran mini straw volume 0,25 ml dengan jumlah sel spermatozoa minimal 50 juta (SNI, 2014)
  8. Prefreezing straw yang sudah berisi semen cair dan disusun pada rak, kemudian dibekukan di atas permukaan nitrogen cair (N2) dalam storage container dengan suhu (– 110° C sampai dengan – 120° C) selama 9 menit, lalu straw tersebut disimpan dalam N2 cair yang suhunya mencapai – 196° C
  9. Setelah 24 jam dilanjutkan dengan thawing pada suhu 37° C selama 29 detik untuk pemeriksaan post thawing dilakukan dengan pengulangan dua kali harus menunjukkan:
  10. a) Motilitas spermatozoa minimal 40 %;
  11. b) Gerakan individu spermatozoa minimal skor 2 (dua) (SNI, 2014)

Semen beku disimpan di dalam cointainer yang diisi oleh N2 cair. N2 cair adalah zat yang sangat berbahaya dan harus ditangani dengan hati-hati, karena bila kulit kontak langsung dengan N2 cair dapat mengiritasi jaringan tubuh, misalnya mata atau kulit. Selain itu pengecekan N2 cair dalam container harus diperiksa secara berkala dengan menggunakan stik pengukur berwarna hitam, dan segera dilakukan pengisian ulang apabila N2 cair dalam container sudah berkurang (Feradis, 2014).

 

H.   PELAKSANAAN INSEMINASI BUATAN

  1. Deteksi Estrus

Deteksi estrus yang tepat adalah kunci keberhasilan IB, yang didukung dengan kecepatan dan ketepatan pelayanan IB. Tanda-tanda estrus pada sapi betina adalah:

  • ternak gelisah
  • sering berteriak
  • suka menaiki dan dinaiki sesamanya
  • vulva: bengkak, berwarna merah, dan bila diraba terasa hangat (3A bahasa Jawa: Abang, Abuh, Anget, atau 3B bahasa Sunda: Beureum, Bareuh, Baseuh)
  • dari vulva keluar lender yang bening dan tidak berwarna
  • nafsu makan berkurang

Gejala estrus sebaiknya diperhatikan minimal 2 kali sehari oleh peternak. JIka gejala muncul maka segera dilaporkan ke petugas inseminator, agar mendapat pelayanan IB tepat waktu. Waktu dan tempat deteksi estrus juga penting. Keadaan panas saat siang hari dapat menekan tanda-tanda estrus, sehingga paling baik pengamatan dilakukan pada udara yang sejuk, saat pagi atau malam (Feradis, 2014).

  1. Pemeriksaan Betina

Pemeriksaan dilakukan secara umum untuk melihat kondisi alat kelamin betina, yakni dengan cara:

  • melihat ekor dan bagian atas pantat, bila di atas ekor terdapat luka atau kotoran, kemungkinan telah dinaiki oleh kambing lain, ini merupakan tanda-tanda estrus
  • melihat vulva apakah ada lender lendir yang keluar dan menggantung. Apabila lendir transparan, maka ternak menunjukkan gejala estrus, sedangkan bila lendir kotor dan bernanah, kemungkinan ada infeksi.
  • melihat apakah ada luka di vulva atau vagina (Feradis, 2014).
  1. Thawing Semen

Sebelum IB, maka semen harus dicairkan terlebih dahulu yang dikenal dengan istilah thawing, adapun cara thawing semen menurut Feradis (2014) adalah sebagai berikut:

  • menyiapkan air bersuhu ± 37°C dalam wadah yang kira-kira cukup untuk merendam seluruh bagian straw
  • buka tutup container, pilih nomor canister dimana straw yang diinginkan disimpan sesuai catatan
  • angkat canister kira-kira 5-6 cm di atas leher container akan tetapi straw tetap pada batas leher container
  • tahan canister beberapa saat sementara diambil straw yang diinginkan dengan menggunakan pinset, lalu canister dikembalikan ke dalam N2 cair
  • straw digoyangkan beberapa saat untuk mengurangi pengaruh N2 cair dan segera masukkan dalam air suhu 37°C atau 37°-38°C (SNI, 2014) yang telah disiapakan selama 7-18 detik, 15-30 detik (BBIB Singosari), 29 detik (BIB Ungaran) atau 30 detik (SNI, 2014).
  • Straw diambil, dilap tissue, dan dimasukkan ke dalam gun. Semen dapat digunakan dalam waktu 20 menitdan tidak boleh dikembalikan ke dalam N2 cair apabila tidak dipakai.
  1. Pelaksanaan IB

Inseminasi sebaiknya dilakukan pada bagian kedua periode siklus etrus, yaitu antara 12 sampai 18 jam sesudah pertama kali terlihat gejala estrus. Spermatozoa tahan hidup selama 30 jam di dalam saluran kelamin kambing/domba betina. Inseminasi dua kali dalam satu periode estrus cukup praktis bagi kambing (Fraeser, 1962).

Alat yang digunakan untuk inseminasi terdiri dari: spekulum dengan ukuran kurang lebih 18 cm dengan diameter 2 cm, pipet inseminasi dari bahan gelas berukuran 1 ml dengan skala, atau yang lebih praktis dengan gun IB untuk kambing, dan lampu senter.

Langkah-langkah IB kambing adalah sebagai berikut:

  • domba betina jika tersedia ditempatkan di kandang inseminasi, atau kandnag jepit, bila tidak tersedia, ditempatkan di tempat yang memudahkan petugas dalam memeriksa dan menginseminasi kambing betina tersebut
  • pipet inseminasi diisi dengan semen cair yang dibutuhkan, atau bila dengan gun IB, straw dimasukkan ke dalam gun IB dan dipotong ujungnya kemudian gun dibungkus dengan platik sheet.
  • spekulum dilicinkan dengan pelicin dan dimasukkan dengan hati-hati ke dalam alat kelamin betina
  • dengan bantuan senterdan spekulum, gun atau pipet inseminasi dimasukkan ke dalam serviks, dan semen disemprotkan perlahan ke dalam serviks
  • Semua kegiatan IB dicatat dalam buku IB sebagai breeding record (Toelihere, 1985)

 

 

DAFTAR PUTAKA

Arifiantini, R. I. 2012. Teknik Koleksi dan Evaluasi Semen Pada Hewan. IPB Press, Bogor.

Ax. R.L., DALly. M.R., Didion, B.A., LeNz R. W. Love C.C., VARner D.D., Hafez B., Bellin M.E. 2000. Semen Evaluation. Di dalam Hafez E.S.E dan B. Hafez. Reproduction in Farm Animal. 7th.ed. USA: Lippincot Williams dan Wilkins.

Bearden, H.J. and J. W. Fuquay. Applied Animal Reproduction. 5th ed. Missisippi State University.

Bispo, C. A. S., Pugliesi, G., Galvão, P., Rodrigues, M. T., Ker, P. G., Filgueiras, B., & Carvalho, G. R. (2011). Effect of low and high egg yolk concentrations in the semen extender for goat semen cryopreservation. Small Ruminant Research, 100(1), 54–58.

 

Chenoweth, P.J. 2005. Genetic Spermn Defect. Therionology 64: 457-468.

Evans, G and W.M.C. Maxwell. 1987. Salamon’s Artificial Insemination of Sheep and Goat Butterworth. London.

Farstard, W., 1996. Semen cryopreservation in dogs and foxes. Anim. Reprod. Sci. 42, 251–260.

 

Feradis. 2014. Bioteknologi Reproduksi Pada Tenak. Alfabeta. Bandung.

 

Fraeser., A. F.1962. A technique for freezing goat semen and results of a small breeding trial. Vet. J. 3: 133.

Graham, J. K. 2001. Assesment of Sperm Quality. Proceedings AAEP. Vol 47.pp. 302-305.

Gil, J., N. Lundeheim, L. Sodequist, H. Rodriguez-Martinez. 2003. Influence of extender, temperature and addition of glycerol on post-thaw sperm parameter in ram semen. Therionology 59: 1241-1255.

Hafez, E.S.E. 1993. Reproduction in Farm Animals. 6th Philadelphia. Lea and Febiger.

 

Hafez B and ESE Hafez. 2000. Reproduction in Farm Animals. 7th Edition.  Reproductive Health Center. IVF Andrology Laboratory. Kiawah Island, SouthCarolina, USA.

 

Hastuti D. 2008. Tingkat keberhasilan inseminasi buatan sapi potong ditinjau dari angka konsepsi dan Service per Conception. Mediagro. 4(1):12-20.

Herold, F.C., K. de Haas, B, Colenbrander and. D. Gerber. 2006.n Comparison of equilibration times when when freezingnepididymal sperm from African Buffalo (Syncerus caffer) using TryladylTM or Andromed®. Therionology 66: 1123-1130.

 

Jainudeen, M., R. Wahid and E.S.E. Hafez. 2000. Sheep and Goat.

 

Konyali, C, C. Tomas, E. Blanch, E.A. Gomez, J.K. Graham, E. Moce. 2013. Optimizing conditions for treating goat semen with cholesterol-loaded cyclodextrins prior to freezing to improve cryosurvival. Cryobiology 67: 124–131.

 

Leboeuf, B., Forgerit, Y., Bernelas, D., Pougnard, J.L., Senty, E., Driancourt, M.A., 2003. Efficacy of two types of vaginal sponges to control onset of oestrus, time of preovulatory LH peak and kidding rate in goats

 

Lubis, T.M., Dasrul, C.N. Thasmi, dan T. Akbar. 2013. Efektivitas Penambahan Vitamin C dalam Pengencer Susu Skim Kuning Telur terhadap Kualitas Spermatozoa Kambing Boer setelah Penyimpanan Dingin. Jurnal S. Pertanian 3 (1); 347-361.

 

Mc. Lean, J.M. 1956. Results on the use of bovine semen stored 6-10 days in homogenized whole milk with addition of 10% glyserin. Natl. Assoc. Artif. Breeder News 4 (13). Di dalam Toelihere, R.M. 1985. Inseminasi Buatan Pada Ternak. Angkasa, Bandung.

Minitub. 2001 Certificate Andromed. Minitub Abfullund Labortechnik GmbH and Co KG.  Germany.

Mook. J., L. Wideus. 2008. Effect of egg yolk level, washing and extended prefreeze equilibration on postthaw motility of buck semen. Southern Section American Society of nimal Science Annual Meeting, Dallas, TX.

Moussa, M., Martinet, V., Trimeche, A., Tainturier, D., Anton, M., 2002. Low density lipoproteins extracted from hen egg yolk by an easy method: cryoprotective effect on frozen-thawed bull semen. Theriogenology 57, 1695–1706.

Partodiharjo, S. 1982. Ilmu Reprodksi Hewan. Mutiara Sumber Widya, Jakarta.

Qureshi,M.S., D. Khan., A. Mustaq., S.S. Afridi. 2013. Effect of extenders, postdilution intervals, and seasons on semen quality in dairy goats. Turk.J.vet.Anim.Sci. 36:147-152.

 

Roy, A., 1957. Egg yolk-coagulation enzyme in the semen and Cowper’s gland of the goat. Nature 179, 318–319.

Saacke, R.G. 2008. Sperm morphology: Its relevance to compensable and uncompensable trits in semen. herionology 70: 473-478.

Sallisburry, G.W. dan N.L. VanDemark. 1985. Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan pada Sapi. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Sitepu, S.A., U. Zaituni, Jaswandi and Hendri. 2018. Improved quality of frozen boer goat semen with the addition of sweet orange essential oil on tris yolk and gentamicin extender. IOP Conf. Series: Earth and Environmental Science 122.

 

SNI 4869.3. 2014. Semen Beku Bagian 3: Kambing dan Domba. BSN. Jakarta.

 

SNI 7352.1:2015. Bibit Kambing Bagian 1: Kambing PE. BSN. Jakarta.

Sorenson Jr., A.M. 1979. Laboratory Manual for Animal Reproduction. 4 th Ed. American Press. Boston. USA

 

Souhoka, D. F.,  M. J. Matatula , W. M. Mesang-Nalley, dan M. Rizal. 2009. Laktosa Mempertahankan Daya Hidup Spermatozoa Kambing Peranakan Etawah yang Dipreservasi dengan Plasma Semen Domba Priangan. Jurnal Veteriner  Vol. 10 No. 3 : 135-142.

 

Susilawati, T. 2000. Teknologi Perservasi dan Kriopreservasi Spermatozoa dan Ova Program Pasca Sarjana Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Malang. (Tesis).

 

Suyadi, 2003. Pengenceran Semen Kambing Dengan Beberapa Pengener Sederhana dan Aplikasinya untuk Inseminasi Buatan. Simetrika22. Malang.

 

Soeparna. 1994. Studi Biologi Reprodksi Kambing Kacang Muda. Disertasi. Fakultas Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

 

Tambing, S. N. 1999. Efektivits Berbagai Dosis Gliserol dan Waktu Equilibrasi Terhadap Kualitas Semen Beku Kambing Peranakan Etawah. Thesis. Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Toelihere, M. R. 1985. Inseminasi Buatan Pada Ternak. Angkasa, Bandung.

Tuhu, A. D., Y.S. Ondho dan D. Samsudewa. 2013. Pengaruh perbedaan waktu pelepasan water jacket dalam proses ekuilibrasi terhadap kualitas semen beku sapi Jawa pada tahap before freezing  dan post thawing. Animal Agriculture Journal. 2 (1): 466 – 477.

Vidal A. H., A. M. Batista, E.C. Bento da Silva,W.A. Gomes, M A.Pelinca, S. V. Silva, M. M.P. Guerra. 2013. Soybean lecithin-based extender as an  alternative for goat sperm cryopreservation. Small Ruminant Research 109: 47– 51.

 

Watson, P. F. 2000. The caused of reduced fertility wih cryopreserved semen. Anim. Reprod. Sci. 61-62: 481-492.

Willet, E.L and J.I. Ohms. 1956. Livability of spermatozoa in diluters containing yolk-citrate or nonfat milk solids with glycerol. J. Dairy Sci 39: 1759. Di dalam Toelihere, R.M. 1985. Inseminasi Buatan Pada Ternak. Angkasa, Bandung.

Yodmingkwana, P., S. Guntapromb, J. Jaksamritc, Kr Lertchunhakiat. 2016. Effects of Extenders on Fresh and Freezing Semen of Boer Goat. Agriculture and Agricultural Science Procedia 11: 125 – 130.

 

Yusuf, T.I., R.I. Arifiantini dan N. Rahmiwati. 2005. Daya tahan semen cair kambing Peranakan Etawah dalam pengencer kuning telur dengan kemasan dan konsentrasi spermatozoa yang berbeda. J. Indon. Trop.Anim.Agric. 30(4).

 

 

 

 

Read more

BIONOMIKA TERNAK – PENGARUH STRES TERMAL TERHADAP TERNAK SAPI PERAH

BIONOMIKA TERNAK

 PENGARUH STRES TERMAL TERHADAP TERNAK SAPI PERAH

 

Oleh:

Drh. Rita Dyah K.

 

  1. PENDAHULUAN

  Latar Belakang

Perubahan iklim, didefinisikan sebagai ketidakseimbangan jangka panjang pada kondisi cuaca seperti suhu, radiasi, angin dan curah hujan. Perubahan iklim adalah salah satu ancaman utama untuk kelangsungan hidup berbagai spesies, ekosistem dan keberlanjutan sistem produksi ternak di seluruh dunia, terutama di negara-negara tropis dan subtropis. Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim [1] melaporkan bahwa suhu bumi telah meningkat 0,2 ° C per dekade dan juga memperkirakan bahwa suhu permukaan rata-rata global akan meningkat menjadi 1,4-5,8 ° C pada tahun 2100. Itu juga menunjukkan bahwa negara-negara berkembang cenderung lebih rentan terhadap peristiwa iklim ekstrim karena mereka sangat bergantung pada sektor-sektor sensitif iklim seperti pertanian dan kehutanan [1]. Baru-baru ini, Silanikove dan Koluman [2] juga memperkirakan tingkat keparahan stres panas (HS) sebagai masalah yang meningkat dalam waktu dekat karena perkembangan pemanasan global. Variasi dalam variabel iklim seperti suhu, kelembaban dan radiasi diakui sebagai potensi bahaya dalam pertumbuhan dan produksi semua jenis ternak domestik. Suhu lingkungan tinggi disertai dengan kelembaban udara yang tinggi menyebabkan ketidaknyamanan tambahan dan meningkatkan tingkat stres yang pada gilirannya menghasilkan depresi

Stres adalah reaksi refleks hewan dalam lingkungan yang keras dan menyebabkan konsekuensi yang tidak menguntungkan berkisar dari ketidaknyamanan sampai mati. Stres panas dapat didefinisikan secara sederhana sebagai kondisi yang terjadi saat seekor hewan tidak dapat menghilangkan suhu panas secara memadai, entah saat suhu diproduksi atau diserap oleh tubuh, untuk memelihara keseimbangan suhu badan.  Hal ini dapat memicu tanggapan psikologis dan perubahan tingkah laku, mengarah ke gangguan psikologis yang berpengaruh negatif bagi hasil produksi dan kemampuan reproduksi hewan ternak (West, 2003; Nardone dkk., 2006; 2010).  Sesuai Dobson dan Smith [1], terungkap oleh ketidakmampuan seekor binatang untuk mengatasi lingkungannya, sebuah fenomena yang sering tercermin dalam kegagalan mencapai potensi genetik. Rosales [2] mendefinisikan stres sebagai kumulatif efek merugikan dari berbagai faktor pada kesehatan dan kinerja binatang. Stres mewakili reaksi tubuh terhadap rangsangan itu yang mengganggu keseimbangan fisiologis normal atau homeostasis, seringkali dengan efek merugikan seperti yang ditunjukkan oleh Khansari et al. [3]. Menurut Stott [4], stres adalah hasil dari kekuatan lingkungan yang terus bertindakpada hewan yang mengganggu homeostasis menghasilkan adaptasi baru yang dapat merugikan atau menguntungkan bagi hewan. Di antara stres, stres panas telah menjadi perhatian utama dimana pengaruhnyu dapat mengurangi produktivitas hewan di daerah tropis, sub-tropis dan gersang.

 

  1. Rumusan Masalah

Stress panas pada ternak sapi perah akan mempengaruhi kesehatan ternak tersebut, yaitu berpengaruh langsung ataupun tidak langsung dalam sistem fisiologi, metabolisme, hormonal, dan imunitas normal. Sapi perah yang dibesarkan dalam iklim tropis lebih sering menderita stres panas, akibat produktifitas mereka yang tinggi, mengalami perubahan-perubahan fisiologis dan perilaku yang disebabkan oleh stres panas, di mana suhu lingkungan tinggi, kelembapan relatif, dan radiasi sinar matahari menghalangi penghilangan panas (Silva et al. 2002).

 

  1. TINJAUAN PUSTAKA

 Stres panas (HS) pada Sapi Perah

Stres panas di lingkungan hangat adalah salah satu faktor penting yang dapat berpengaruh negatif pada produksi susu, reproduksi, dan kesehatan sapi perah (Jordan, 2003; Bernabucci dkk., 2010). Efek HS pada kesehatan hewan susu dengan memaksakan pengaruh langsung atau tidak langsung dalam sistem fisiologi, metabolisme, hormonal, dan imunitas normal. HS akan mempengaruhi hal-hal sebagai berikut:

  • Asupan pakan dan fisiologi rumen

Peningkatan suhu lingkungan memiliki efek negatif langsung pada pusat nafsu makan hipotalamus untuk mengurangi asupan pakan [11]. Asupan pakan mulai menurun pada suhu udara 25-26 ° C pada sapi menyusui dan berkurang lebih cepat di atas 30 ° C dalam kondisi iklim sedang dan pada 40 ° C dapat menurun sebanyak 40% [12], 22-35 % dalam kambing perah [13] atau 8-10% pada sapi dara kerbau [14]. Mengurangi asupan pakan adalah cara untuk mengurangi produksi panas di lingkungan yang hangat karena peningkatan panas pemberian makan merupakan sumber penting dari produksi panas pada ruminansia [15]. Sebagai hasil, hewan mengalami tahap keseimbangan energi negatif (NEB), akibatnya berat badan dan skor kondisi tubuh turun [16].

Meningkatkan suhu lingkungan mengubah mekanisme fisiologis dasar rumen yang secara negatif mempengaruhi ruminansia dengan peningkatan risiko gangguan metabolisme dan masalah kesehatan [17,18]. Nonaka et al. [19] hewan yang dilaporkan di bawah HS telah mengurangi produksi asetat sedangkan produksi propionat dan butirat meningkat ketika fungsi rumen diubah. Sebagai respon, hewan mengkonsumsi lebih sedikit serat kasar, mengubah populasi mikroba rumen dan pH dari 5,82 menjadi 6,03 [20], menurunkan motilitas rumen dan perenungan [17,18]. Selanjutnya, mempengaruhi kesehatan dengan menurunkan produksi air liur, variasi dalam pola pencernaan dan mengurangi asupan bahan kering (DMI) [17,18]. Selain itu, HS juga menghasilkan hipofungsi kelenjar tiroid dan efek pada pola metabolisme hewan untuk mengurangi produksi panas metabolik [21].

  • Keseimbangan asam-basa

Hewan di bawah HS telah meningkatkan RR dan berkeringat yang menghasilkan peningkatan kehilangan cairan tubuh yang meningkatkan kebutuhan pemeliharaan untuk mengontrol dehidrasi dan homeostasis darah. Ketika RR meningkat, ekspirasi CO2 melalui paru-paru meningkat. Ini menghasilkan alkalosis pernapasan, seperti konsentrasi asam karbonat darah menurun [22]. Oleh karena itu, hewan perlu mengkompensasi pH darah yang lebih tinggi dengan mengekskresikan bikarbonat dalam urin untuk mempertahankan asam karbonat: rasio bikarbonat [23]. Kompensasi menghasilkan hilangnya bikarbonat kemih dalam upaya untuk menyeimbangkan rasio asam karbonat menjadi bikarbonat dalam darah [21]. Hipertermia kronik juga menyebabkan ketidakcocokan yang parah atau berkepanjangan yang semakin memperparah peningkatan pasokan asam karbonat total dalam rumen dan menurunkan pH rumen sehingga menyebabkan asidosis renal subklinis dan akut [15].

  • Stres oksidatif

Stres oksidatif menghasilkan peningkatan spesies oksigen reaktif (ROS) dalam sel dan jaringan berbeda dari hewan HS yang memiliki dampak negatif pada fisiologi normal dan metabolisme tubuh. Namun, tubuh memiliki antioksidan dalam bentuk enzimatik (superoxide dismutase [SOD], glutathione (GSH) peroksidase dan katalase), grup non-enzimatik (albumin, L-sistein, homocysteine, melatonin dan protein sulfhidril), dan non-enzimatik rendah. antioksidan berat molekul (asam askorbat, GSH, asam urat, α-tokoferol, β-karoten, piruvat dan retinol), yang meningkat sebagai hasil dari HS untuk memberikan perlindungan terhadap efek negatif ROS. Secara signifikan (p <0,05) tingkat yang lebih tinggi dari indeks tegangan katalase, SOD, reduktase GSH, dan malondialdehid diamati pada kerbau menyusui dan non-laktasi [24] dan sapi [25] selama musim panas dibandingkan musim semi. Secara signifikan tingkat yang lebih tinggi dari indeks stres diyakini karena stres laktasi karena peningkatan produksi susu menjadi predisposisi kerusakan oksidatif imbas HS di dalam tubuh [25].

  • Sistem kekebalan

Sistem kekebalan tubuh adalah sistem pertahanan tubuh utama untuk melindungi dan mengatasi stres lingkungan. Indikator utama dari respon kekebalan termasuk sel darah putih (leukosit), sel darah merah (RBC), hemoglobin (Hb), volume sel dikemas (PCV), glukosa dan konsentrasi protein dalam darah diubah pada stres termal. Jumlah sel darah putih (leukosit) meningkat sebesar 21-26% [26] dan penurunan jumlah RBC sebesar 12-20% [27] pada sapi yang mengalami penekanan termal yang mungkin disebabkan oleh involusi thyromolymphatic atau penghancuran eritrosit. Sejian dkk. [28] melaporkan variasi yang sangat signifikan dari Hb, PCV, glukosa plasma, protein total dan albumin untuk paparan suhu yang berbeda pada nyamuk malpura. Nilai PCV yang lebih tinggi ini merupakan mekanisme adaptif untuk menyediakan air yang diperlukan untuk proses pendinginan evaporatif [29]. Namun, berbeda dengan temuan ini penurunan kadar Hb dan PCV diamati sebagai hasil lisis RBC baik oleh peningkatan serangan radikal bebas pada membrannya atau ketersediaan nutrisi yang tidak memadai untuk sintesis Hb karena hewan mengkonsumsi lebih sedikit pakan atau mengurangi asupan sukarela pada HS [ 30]. Glukosa darah menurun secara signifikan pada sapi perah HS sesuai dengan aktivitas insulin darah yang lebih besar [9,31]. Pelepasan kortisol plasma meningkat pada hewan yang stres yang menyebabkan down-regulation atau penekanan ekspresi L-selectin pada permukaan neutrofil [32]. Lebih lanjut, ekspresi L-selectin yang buruk ini bertanggung jawab untuk fungsi neutrofil lemah dengan gagal pindah ke jaringan yang diserang oleh patogen dan menghasilkan hasil klinis penyakit setelah terpapar organisme infektif [33]. Meningkatkan sirkulasi kortisol juga menyebabkan peningkatan kadar protein heat shock (HSPs) sel yang berfungsi sebagai sinyal bahaya ke sistem kekebalan untuk mendorong peningkatan pembunuhan bakteri patogen oleh neutrofil dan makrofag melawan bakteri yang menyerang [34]. Oleh karena itu, penilaian reguler dari darah konstituen berguna dalam penilaian status kesehatan hewan di daerah panas-lembab.

Masalah kesehatan seperti ketosis subklinis atau klinis [16] dan risiko lebih tinggi dari lipidosis hati dan merusak fungsi hati [35] ditemui. Sanders dkk. [36] mengamati bahwa insiden kepincangan meningkat dengan peningkatan suhu udara yang dapat disebabkan oleh peningkatan waktu berdiri [37]. Lebih lanjut, kepincangan menyebabkan sol tipis, penyakit garis putih, bisul, dan tusukan tunggal [36] Sesuai, Dhakal et al. [39] juga mengamati kejadian parasit eksternal sebagai peringkat pertama (43,3%) masalah dalam cuaca hangat. Peningkatan THI mengakibatkan peningkatan insiden mastitis pada sapi (p <0,01) Insiden mastitis yang lebih tinggi pada sapi perah dapat disebabkan oleh suhu tinggi yang memfasilitasi kelangsungan hidup dan multiplikasi populasi lalat carrier yang terkait dengan kondisi panas-lembab.

  1. Pengaruh HS terhadap Produksi dan Kinerja Reproduksi dari Sapi Perah

Produksi dan komposisi susu

HS merugikan produksi susu dan komposisinya pada hewan perah, terutama hewan yang memiliki genetik tinggi [42-46]. Berman [7] memperkirakan bahwa beban panas lingkungan yang efektif di atas 35 ° C mengaktifkan sistem respon stres pada sapi perah laktasi. Dalam menanggapi sapi perah mengurangi asupan pakan yang secara langsung terkait dengan NEB, yang sebagian besar bertanggung jawab atas penurunan sintesis susu [46]. Selain itu, kebutuhan pemeliharaan energi juga meningkat 30% pada hewan susu HS [47]. Karena itu, asupan energi tidak akan cukup untuk menutupi kebutuhan harian untuk produksi susu. Penurunan produksi susu hingga 50% pada hewan perah mungkin disebabkan oleh berkurangnya asupan pakan [9], sedangkan, sisanya dapat menjadi alasan adaptasi metabolik terhadap HS karena respons HS secara nyata mengubah karbohidrat pasca-absorptif, lipid, dan metabolisme protein. Peningkatan kadar insulin basal dengan respon insulin yang membaik pada sapi yang stres panas [9,12,46] dan pada induk betina [50] diamati yang menjelaskan pergeseran dalam pemanfaatan glukosa pada jaringan kelenjar non-mammary yang mempengaruhi sintesis susu [12]. HS selama periode kering (yaitu, 2 bulan terakhir kehamilan) mengurangi proliferasi sel payudara dan sebagainya, menurunkan produksi susu pada laktasi berikut [51]. Selain itu, HS selama periode kering secara negatif mempengaruhi fungsi sel imun pada sapi perah yang menghadapi calving dan juga diperluas ke laktasi berikut.

Tahap laktasi merupakan faktor penting untuk keparahan HS dan hewan yang dipaksakan yang berada di pertengahan laktasi sebagian besar sensitif terhadap panas dibandingkan dengan rekan laktasi awal dan akhir [35,53]. Penurunan produksi susu karena HS adalah 14% pada awal laktasi dan 35% pada pertengahan laktasi [35,53].

Lingkungan panas dan lembab tidak hanya mempengaruhi produksi susu tetapi juga mempengaruhi kualitas susu. Kadzere dkk. [15] melaporkan bahwa lemak susu, padatan-tidak-lemak (SNF) dan persentase protein susu menurun masing-masing sebesar 39,7, 18,9 dan 16,9%. Bouraoui dkk. [42] mengamati lemak susu dan protein susu yang lebih rendah di musim panas. Selain itu, analisis fraksi protein juga menunjukkan penurunan persentase kasein, laktalbumin, imunoglobulin G (IgG) dan IgA. 80% dari ini dikaitkan dengan hilangnya produktivitas dan 20% dengan masalah kesehatan yang mungkin disebabkan oleh gangguan mekanisme homeostasis internal [54]. Zheng et al. [55] mengamati bahwa HS secara signifikan mengurangi produksi susu, persentase lemak susu dan persentase protein, tetapi itu tidak berpengaruh pada kandungan laktosa dalam susu. Seleksi genetik terus menerus untuk hasil kinerja yang lebih besar untuk meningkatkan sensitivitas HS dan penurunan tren dalam kurva laktasi serta kualitas susu yang buruk pada hewan susu selama musim panas.

Efek pada kinerja reproduksi jantan

Banteng mengakui sebagai lebih dari setengah kawanan dan karenanya, kesuburan bull sama atau lebih penting untuk pemupukan oosit untuk menghasilkan konsepsi yang baik, layak dan berpotensi secara genetis. Sudah diketahui dengan baik bahwa testis sapi harus 2-6 ° C lebih dingin dari suhu tubuh inti untuk sperma subur yang akan diproduksi. Oleh karena itu, peningkatan hasil suhu testis dari stres termal dapat berubah dalam parameter seminal dan biokimia menyebabkan masalah infertilitas pada sapi jantan. Mishra dkk. [78] dalam sebuah penelitian mengamati bahwa status integritas membran spermatozoa segar dalam empat breed bull yang berbeda (persilangan, Red Sindhi, Haryana dan Jersey) dipengaruhi secara signifikan (p <0,01) dengan peningkatan suhu udara dari 10 hingga 18 ° C hingga lebih dari 35 ° C. Rahman dkk. [79] juga melaporkan bahwa spermatozoa HS menunjukkan tingkat pembuahan yang sangat rendah (p <0,01) dibandingkan dengan non-HS atau spermatozoa kontrol normal (53,7% vs 70,2% atau 81,5%, masing-masing). Bhakat et al. [80] mengamati kualitas semen yang optimal selama musim dingin, miskin selama musim panas dan menengah selama musim hujan.

  • ISI DAN PEMBAHASAN

  

  1. Kaitan antara atribut fisik dan stres panas dalam sapi perah dari kelompok genetika berbeda

Sapi perah yang dibesarkan dalam iklim tropis lebih sering menderita stres panas, akibat produktifitas mereka yang tinggi, mengalami perubahan-perubahan fisiologis dan perilaku yang disebabkan oleh stres panas, di mana suhu lingkungan tinggi, kelembapan relatif, dan radiasi sinar matahari menghalangi penghilangan panas (Silva et al. 2002). Dalam sapi perah, contohnya, salah satu kendala terbesar adalah mengasosiasikan genotip yang sangat produktif dengan genotip yang telah beradaptasi terhadap lingkungan-lingkungan panas tersebut, sebab sapi-sapi yang lebih beradaptasi umumnya memiliki tingkat konsumsi makanan dan produksi susu lebih rendah (Façanha-Morais et al. 2008).

            Peningkatan pada produksi susu di iklim tropis dapat melibatkan penggunaan genotip yang lebih produktif, menyediakan lingkungan yang lebih kompatibel dengan kebutuhan sapi dan penggunaan sapi yang beradaptasi, memilih yang paling produktif (Façanha et al. 2013). Ketika sapi berada di luar zona suhu netral mereka, fungsi reproduksi, parameter fisiologis, dan kinerja terpengaruh secara negatif. Zona suhu netral bervariasi tergantung pada antara lainnya jenis kelamin, usia, jenis, dan status produktif (Tosetto et al. 2014), dan bagi sapi perah suhu netral berkisar antara 10 hingga 20°C (Rodrigues et al. 2012; Nascimento et al. 2013).

            Sebagai respons terhadap stres panas, sapi bereaksi dengan perubahan fisiologis dan perilaku dalam upaya mencegah hipertermia. Respons sapi terhadap suhu lingkungan bisa diperkira melalui observasi parameter fisiologis seperti suhu rektum (RT) dan tingkat respirasi (RR) (Perissinotto et al. 2009).

            Pencegahan suhu berlebihan dan peningkatan suhu badan hingga titik yang bisa mengancam kesehatan sapi yang mengalami panas ekstrim bisa dilakukan melalui pelepasan panas metabolik dalam kuantitas yang besar (Gebremedhin and Wu 2002). Dalam arti ini, kulit sangat penting dalam proses tersebut, sebab fungsinya adalah untuk menghasilkan, menyerap, meradiasi, mengkonduksi, dan menguapkan panas (Xu et al. 2007).

            Beberapa fitur bisa dipakai untuk mengevaluasi adaptasi sapi terhadap panas, termasuk karakteristik fisik mereka (Marai et al. 2007). Menurut Silva (1999), sapi yang cocok untuk diternak di daerah tropis sebaiknya memiliki bulu yang berwarna terang, pendek, tebal, dan bermedula pada epidermis yang sangat berpigmentasi.

Tiga puluh delapan sapi digunakan dalam percobaan 6 hari: 19 Holstein (H100) dan 19 Girolando [½ Holstein-GIr (GH50, n=8) dan ¾ Holstein-Gir (GH75, n=11)]. Pada awal periode analisis mereka masing-masing, sapi Holstein menghasilkan rata-rata 249.15±68.19 hari dalam susu (DIM) dan 14.80±2.59 L hari−1 produksi susu; sapi GH50 menghasilkan 95±72.33 DIM dan 12.40±3.42 L hari−1 produksi susu; dan GH75 menghasilkan 169.3±95.85 DIM dan 14.62±2.95 L hari−1 produksi susu. Pengumpulan data untuk setiap jenis berlangsung selama tiga hari berturut-turut, dengan prosedur eksperimental yang sama bagi jenis-jenis sapi yang berbeda. Namun, sapi-sapi Holstein (H100) dan Girolando (GH50+GH75) dianalisis di tempat dan periode berbeda karena mereka disimpan terpisah.

            Penelitian tersusun atas mengakibatkan stres panas dengan mengekspos sapi-sapi terhadap lingkungan tanpa bayangan—tersedia dengan air—antara pemerahan di pagi dan sore hari. Saat prosedur eksperimental, suhu bervariasi antara 21 hingga 34°C (rata-rata 26.61°C) dan kelembapan relatif yang berkisar antara 56 hingga 95% (rata-rata 77.55%) bagi GH75 dan GH50. Bagi sapi-sapi H100, parameter yang sama secara urut berkisar antara 22 hingga 35°C (rata-rata 28.3°C) dan dari 52 hingga 95% (rata-rata 76.68%).

            Sapi-sapi H100 berada di kandang free stall, menerima total makanan dalam rasio campuran yang terdiri atas silase dan konsentrat jagung (59% jagung, 35% kacang kedelai, 3.5% inti protein-mineral-vitamin, 0.5% garam mineral, 1% urea, dan 1% bikarbonat); di sela pemerahan, sapi-sapi digiring ke ladang Brachiaria brizantha. GH50 dan GH75 digiring ke ladang Pennisetum purpureum dan diberi makan konsentrat sebelum setiap pemerahan (70% jagung, 25% kacang kedelai, 3.5% inti protein-mineral-vitamin, 0.5% garam mineral, dan 1% urea) dalam kuantitas yang sesuai produksi susu. Teknik-perkandangan dan pemberian makan tidak dirubah atau dirancang penulis, dengan pengecualian satu-satunya yakni membuat stres panas yang disengajakan.

            Di hari pertama, karakteristik fisik, parameter fisiologis, dan ukuran termografis diambil. Ciri-ciri fisik setiap sapi dicatat dalam rangkap tiga di waktu bersamaan, yang dicatat adalah ketebalan kulit dan bulu, jumlah dan panjang rambut, dan ukuran badan. Ketebalan kulit diukur menggunakan jangka sorong yang bergradasi sepersepuluh milimeter dan diukur pada bagian-bagian skapula (Sscapula dan Tscapula), punggung (Sback dan Tback), dan panggul (Sflank an Tflank) sapi. Untuk jumlah rambut, sampel diambil dari bagian atas tengah skapula. Area sebesar 1 cm2 ditandai dan diukur dan semua rambut dari area ini dikumpulkan menggunakan tang khusus. Perhitungan jumlah rambut (CountHair) dilakukan dengan cara menyebarkan sampel pada selembar kertas putih (karena rambutnya gelap) dengan alat bantu capit dan jarum sesuai Silva (2000). Untuk mengukur panjang sampel (LengthHair), sepuluh helai rambut terpanjang dari tiap sapi dipisahkan dan diukur menggunakan penggaris. Selanjutnya, panjang rambut rata-rata dihitung sesuai ketentuan Silva (2000).

            Pengukuran badan dilakukan dengan alat bantu yakni penggaris pita dan hipometer: tinggi pada gumba (withers) diukur dari jarak dari titik tertinggi dari gumba ke tanah; panjang tubuh (BodyL) terdiri atas jarak antara pangkal buntut dan pangkal leher; panjang punggung (BackL) diukur dari jarak antara ruas tulang belakang lumbar pertama; dan terakhir, besar dada (Chestgirth), diukur dari jarak antara titik di belakang kedua pundak dekat ketiak.

Parameter fisiologis yang dimonitor juga meliputi suhu rektum (RT), tingkat respirasi (RR), denyut jantung (HR), dan skor nafas (PS). RT diukur menggunakan termometer sapi yang dimasukkan ke dalam rektum sapi hingga kedalaman 30 cm selama 3 menit. HR yang dihitung dari jumlah denyut per menit diukur menggunakan stetoskop dan stopwatch selama 30 detik dikali 2 untuk mendapat variabel tersebut dalam bentuk 1 menit. RR yang dihitung dari jumlah nafas per menit diukur menggunakan stetoskop dan stopwatch setelah auskultasi gerakan pernapasan selama 30 detik, kemudian hasilnya dikali 2 untuk mendapat variabel tersebut dalam bentuk 1 menit. Skor nafas ditentukan pada saat mengumpulkan data fisiologis sesuai dengan Mader et al. (2006)—(Tabel 1).

Sebuah kamera inframerah (FLIR T300® System) digunakan untuk mendapat gambar termografis dari bagian-bagian tubuh sapi.

Tabel 1      Skor nafas dalam sapi perah

Skor                Deskripsi

0                      Pernapasan normal

1                      Tingkat respirasi yang sedikit naik

2                      Dan/atau adanya air liur atau
sejumlah kecil saliva

3                      Adanya saliva, nafas berat dengan
mulut terbuka

4                      Nafas ekstrim dengan mulut
terbuka, lidah terulur, air liur
berlebihan, dan leher menonjol

Sumber: Mader et al. 2006

Model matematika untuk mengevaluasi kelompok genetika berdasarkan karakteristik fisik adalah:

 

Yij               μ+breedi+eij

Yij               Satu set variabel dependen

Breedi               Jenis sapi

μ                 Mean

eij                Kesalahan acak yang diasosiasi
dengan setiap observasi

 

Semua prosedur statistik dilakukan menggunakan SAS untuk Windows versi 9.3 (SAS Institute, Cary, NC, USA). Hasilnya mean HR, RR, dan suhu badan (menurut RT) berbeda banyak (P<0.001) antara kelompok genetika (Tabel 2). Sapi Holstein memiliki mean lebih tinggi bagi RT dan RR namun HR lebih rendah di pagi hari dibandingkan dengan GH50 dan GH75. Tidak ada perbedaan dalam PS untuk masing-masing kelompok genetika. Di siang hari, RT, RR, dan HR dari H100 dan GH75 serupa.

Tabel 2      Parameter fisiologis sapi perah dari tiga kelompok genetik berdasarkan waktu hari

Pagi                            Siang

GH50  GH75  H100   GH50       GH75      H100

RT    38.24b    37.97b      38.83a 40.03b   40.72a       0.84a

RR    35.50c    44.66b      50.66a 77.00b   107.60a     111.36a

HR    59.17ab    62.26a      56.84b 69.16b   89.46a       99.22a

PS 0       0a        0a        1.04c   2.13b   3.03a

 

 

Nilai-nilai yang diikuti huruf yang sama di baris dan periode hari tidak berbeda besar dalam percobaan pada probabilitas 5%

GH50 sapi Girolando dengan 50% darah Holstein, GH75 sapi Girolando dengan 75% darah Holstein, RT suhu rektum (°C), RR tingkat respirasi (nafas/menit), HR denyut jantung (denyut/menit), PS skor nafas (gerakan/menit)

            Sapi Holstein memiliki rata-rata lebih tinggi dalam semua parameter fisiologis, menunjukkan bahwa sapi-sapi tersebut lebih banyak menderita stres panas dibandingkan sapi-sapi Girolando. Sapi perah Holstein kurang toleran terhadap stres panas dibandingkan sapi Girolando (GH50 dan GH75) karena sapi-sapi tersebut mengalami lebih banyak kesulitan dalam menghilangkan panas akibat ukuran badan yang lebih besar, dan juga rambut yang lebih tebal dan panjang. Karakteristik fisik kurang baik untuk menentukan respons fisiologis dan suhu termografis dalam sapi perah, sehingga sebaiknya tidak digunakan.

 

  1. Pengaruh Stres Panas Sapi Perah Holstein Italia

Stres panas di lingkungan hangat adalah salah satu faktor penting yang dapat berpengaruh negatif pada produksi susu, reproduksi, dan kesehatan sapi perah (Jordan, 2003; Bernabucci dkk., 2010). Ada kepercayaan tradisional mengenai sintesis susu akan menurun ketika ISK mencapai 72 (Johnson, 19855; du Preez dkk., 1990; Armstrong, 1944). Data baru-baru ini dari University of Arizona mengatakan bahwa sapi dengan angka-hasil yang tinggi mulai kehilangan angka-hasil susu pada ISK sekitar 68 (Zimbelman dkk., 2009). Hewan ternak menjadi semakin sensitif terhadap stres panas saat produksi susu naik (Kadzere dkk., 2002).

Data didapatkan dari Italian Holstein Breeders Association—Asosiasi Pembiak Sapi Holstein Italia—(Cremona, Italia) dan terdiri dari 1.488.474 catatan hari pengetesan dari 3 paritas pertama pada 191.012 sapi Holstein. Catatan data dikumpulkan dari 484 peternakan dan tertanggal sejak 2001 hingga 2007. Sapi Holstein Italia adalah sebuah studi kasus yang menarik karena mereka mewakili sekumpulan besar sapi yang telah dipilih dengan hati-hati yang dibesarkan di tempat hangat di sekitaran lembah Mediterania, yang saat ini menjadi salah satu titik panas di dunia karena perubahan iklim (Segnalini dkk., 2011).

Sifat produksi harian yang terdiri atas angka-hasil susu, lemak, dan protein dan persentase lemak dan protein direkam selama bulanan dan mematuhi standar International Committee for Animal Recording—-Komite Internasional untuk Perekam Hewan (http://www.icar.org/Documents/Rules%20and%20regulations/Guidelines/Guidelines_2011.pdf).

Data cuaca juga termasuk suhu lingkungan dan kelembaban relatif paling minimal dan maksimal yang didapatkan dari 35 stasiun cuaca yang terletak maksimum 5 km dari setiap penggiringan sapi, dan data ini terdiri dari informasi cuaca harian selama 7 tahun (2001-2007).

ISK dihitung menggunakan formula berikut ini (Vitali dkk., 2009):

THI= (1.8 × AT + 32) − (0.55 − 0.55 × RH) × [(1.8 × AT + 32) − 58],

dimana THI adalah ISK, AT adalah suhu lingkungan yang dinyatakan menggunakan derajat, dan RH adalah kelembaban relatif. Sehubungan dengan rumus originalnya, formula ini mencakup jangkauan 1.8 × AT + 32, yang memperhitungkan konversi data suhu  dari derajat Celcius ke derajat Fahrenheit. Konversi ini dibutuhkan karena kebanyakan data dalam buku-buku yang membahas ISK dihitung menggunakan perhitungan suhu lingkungan dalam skala Fahrenheit. AT maksimum dan RH minimum digunakan untuk menghitung ISK maksimum harian. ISK maksimum harian dipilih karena dapat digunakan paling baik untuk data dari stasiun cuaca publik (Ravagnolo dan Misztal, 2000), dan karena angka-hasil susu dari hari-pengetesan lebih sensitif terhadap angka maksimum ISK dibanding dengan rata-rata ISK harian (Brügemann dkk., 2012). Data produksi disatukan dengan informasi cuaca dengan menentukan tiap catatan hari-pengetesan pada catatan cuaca harian dari stasiun cuaca terdekat.

Pengaruh dari ISK (stres panas) pada sifat produksi dapat dianalisa dengan mencocokan model linear berikut ini (model 1):

Gambar 1. Angka total untuk catatan per tingkatan indeks suhu-kelembaban (ISK) dari paritas. Garis hitam = paritas 1; garis abu-abu gelap = paritas 2; garis abu-abu terang = paritas 3.

 

Studi ini merepresentasikan penelitian komprehensif pertama mengenai pengaruh ISK pada sapi perah Holstein yang dibesarkan di sekitar lembah Mediterania. Hasil ini mengkonfirmasi pengaruh negatif dari stres panas dari kinerja sapi perah yang dilaporkan pada studi-studi sebelumnya dan mendemonstrasi bahwa pengaruh buruk dari ISK yang tinggi dapat lebih lama daripada yang umumnya dilaporkan pada hari ke-2 ke 4. Luasnya pengaruh terhadap produksi susu bervariasi diantara sifat-sifat dan paritas-paritas. Sapi multipara lebih mudah terkena stres panas, dan turunnya angka-hasil susu dapat mencapai 1 kg/hari. Hasil ini dapat mengkontribusi terhadap manajemen yang lebih baik (strategi untuk membuat grup, sistem pendingin berkipas, nutrisi dan makanan, dan lain lain) dari kumpulan sapi perah dalam mengurangi pengaruh negatif dari lingkungan panas. Memilih sapi yang memiliki toleransi panas terhambat pada korelasi genetik negatif (contoh tidak menguntungkan) dengan produksi susu. Bagaimanapun, hasil dari studi saat ini mendemonstrasikan bahwa diikutsertakannya pengaruh kovariasi ISK atas estimasi induk jantan ENP mengubah tingkatan induk jantan; induk jantan yang memiliki nilai genetik yang sama (ENP) untuk produksi susu merespons dengan berbeda-beda ketika ISK meningkat. Karena itu, diikutsertakannya ISK untuk memilih kriteria sapi dalam sebuah indeks pemilihan direkomendasikan, terlebih lagi untuk sapi perah yang dibesarkan di lingkungan panas yang bisa menurunkan kemampuan produksinya seiring waktu.

  1. Strategi untuk Memperbaiki HS

Modifikasi fisik lingkungan

Pendekatan yang paling umum untuk memperbaiki HS adalah untuk mengubah lingkungan sapi melalui penyediaan rumah atau tempat teduh (bersama dengan pakan dan air minum), sistem pendingin evaporatif dengan air dalam bentuk kabut, kabut atau taburan dengan gerakan udara alami atau paksa, dan mungkin kolam pendingin [81]. Modifikasi lingkungan mikro untuk meningkatkan mekanisme disipasi panas untuk meringankan HS adalah salah satu langkah yang paling penting untuk dipertimbangkan dalam lingkungan yang panas. Kolam pendingin dan sprinkler juga dapat digunakan untuk mendinginkan lingkungan. Pendinginan juga dapat meningkatkan kinerja reproduksi pada sapi dan sapi, dan mungkin, sistem pendinginan yang paling efektif yang saat ini digunakan adalah yang beberapa pendinginan evaporatif dengan ventilasi terowongan atau ventilasi silang [6]. Sapi perah memungkinkan akses ke alat penyiram (dengan dan tanpa ventilasi paksa) telah meningkatkan produksi susu, meningkatkan reproduksi dan meningkatkan konversi pakan menjadi susu [82]. Shading adalah salah satu cara termurah untuk memodifikasi lingkungan hewan selama cuaca panas. Untuk hewan luar, penyediaan naungan (alami atau buatan) adalah salah satu metode yang paling sederhana dan hemat biaya untuk meminimalkan panas dari radiasi matahari. Pohon sangat efektif dan bahan naungan alami memberikan keteduhan pada hewan yang dikombinasikan dengan pendinginan yang bermanfaat karena uap air menguap dari daun. Nuansa buatan dapat digunakan untuk melindungi dari efek radiasi matahari dalam ketiadaan warna alami. Berbagai jenis bahan atap dapat digunakan dari logam untuk bahan sintetis untuk struktur naungan di antaranya atap galvanis atau aluminium putih dianggap terbaik.

 

Manajemen nutrisi

Modifikasi nutrisi dapat membantu hewan mempertahankan homeostasis atau mencegah defisiensi nutrisi yang dihasilkan dari HS. DMI rendah selama cuaca panas mengurangi nutrisi yang tersedia untuk penyerapan, dan nutrisi yang diserap digunakan kurang efisien [83]. Ransum harus> 18% protein secara kering karena overfeeding membutuhkan lebih banyak energi untuk mengeluarkan kelebihan nitrogen sebagai urea. Mengoptimalkan protein yang tidak terdegradasi secara genetik meningkatkan produksi susu di iklim panas [83]. DMI dan hasil susu meningkat untuk sapi yang diberi diet yang mengandung 14% dibandingkan 17 atau 21% serat deterjen asam (ADF). Namun, hasil susu kurang sensitif terhadap perubahan suhu susu untuk sapi yang diberi diet ADF 14% [43]. Meningkatkan kandungan lemak diet meningkatkan efisiensi produksi susu dan hasil di musim hangat [84]. Pakan mengandung ransum serat rendah selama cuaca panas adalah logis karena produksi panas sangat terkait dengan metabolisme asetat dibandingkan dengan propionat [81]. HS menyebabkan kerusakan oksidatif yang dapat diminimalkan melalui suplementasi vitamin C, E dan A dan juga mineral seperti zinc [85]. Vitamin E bertindak sebagai inhibitor – “rantai blocker” – peroksidasi lipid dan asam askorbat mencegah peroksidasi lipid karena radikal peroxyl. Ini juga mendaur ulang vitamin E, vitamin C dan seng yang dikenal untuk mengais ROS selama stres oksidatif. Selanjutnya, vitamin C membantu dalam penyerapan asam folat dengan mengurangi ke tetrahydrofolate, yang terakhir lagi bertindak sebagai antioksidan. Penggunaan vitamin C bersama dengan suplementasi elektrolit ditemukan untuk meringankan hewan stres oksidatif dan meningkatkan imunitas seluler-dimediasi pada kerbau [86]. West [83] melaporkan bahwa status Na + dan K + tubuh tetap normal selama HS ketika disuplementasi dengan elektrolit dapat disebabkan oleh pengaturan keseimbangan asam-basa dalam darah yang lebih baik. Suplementasi produk ragi memainkan peran penting dalam cerna gizi dengan mengubah produksi asam lemak volatil dalam rumen, menurunkan produksi rumen amonia dan meningkatkan populasi mikroorganisme rumen. Ragi hidup juga dilaporkan bermanfaat bagi nutrisi dan produksi ruminansia kecil [87].

Seleksi genetik

Kemajuan dalam modifikasi lingkungan dan manajemen nutrisi sebagian meringankan dampak stres termal pada kinerja hewan selama musim panas. Namun, strategi jangka panjang harus dikembangkan untuk adaptasi terhadap perubahan iklim. Perbedaan toleransi termal ada antara spesies ternak memberikan petunjuk atau alat untuk memilih hewan thermotolerant menggunakan alat genetik. Identifikasi hewan yang toleran terhadap panas dalam breed yang berproduksi tinggi hanya akan berguna jika hewan ini mampu mempertahankan produktivitas dan daya tahan yang tinggi ketika terkena kondisi HS. Ternak dengan rambut pendek, rambut berdiameter lebih besar dan warna bulu yang lebih ringan lebih beradaptasi dengan lingkungan yang panas dibandingkan dengan rambut yang lebih panjang dan warna yang lebih gelap [53]. Fenotip ini telah dicirikan pada sapi tropis B. taurus (senepol dan carona), dan gen dominan ini dikaitkan dengan peningkatan tingkat berkeringat, RT rendah dan RR rendah pada sapi homozigot dalam kondisi panas [88]. Ada gen heat shock terkait dengan thermotolerance yang diidentifikasi dan digunakan sebagai penanda dalam seleksi yang dibantu marker dan seleksi luas genome untuk mengembangkan bull thermotolerant yang digunakan dalam program pemuliaan. Keluarga besar dari Hsps adalah Hsp100, Hsp90, Hsp70, Hsp60, Hsp40 dan Hsps kecil (disebut Hsps ukuran di bawah 30 kDa). HSP memiliki peran penting dalam pemulihan sel-sel dari stres dan di sitoproteksi serta menjaga sel-sel dari penghinaan berikutnya. Ekspresi gen Hsp di bawah perubahan tegangan termal meliputi: (i) Aktivasi heat shock transcription factor 1 (HSF1); (ii) peningkatan ekspresi gen Hsp dan penurunan ekspresi dan sintesis protein lain; (iii) peningkatan glukosa dan oksidasi asam amino dan mengurangi metabolisme asam lemak; (iv) aktivasi sistem endokrin dari respons stres; dan (v) aktivasi sistem kekebalan tubuh melalui sekresi ekstraseluler Hsp. Jika stres berlanjut, perubahan ekspresi gen ini mengarah pada keadaan fisiologis yang berubah yang disebut sebagai “aklimatisasi,” sebuah proses yang sebagian besar dikendalikan oleh sistem endokrin [8]. Beberapa laporan menunjukkan asosiasi SNP pada gen Hsp dengan respon stres termal dan toleransi pada hewan ternak. Asosiasi polimorfisme di Hsp90AB1 dengan toleransi panas juga telah dilaporkan pada sapi asli Thailand [89], Saheiwal dan Frieswal sapi [90], gen HSF1 [91], HSP70A1A gen [92], HSBP1 [93] pada sapi Holstein Cina. Ada gen non-Hsps juga terungkap untuk mengalami perubahan ekspresi dalam menanggapi HS. Misalnya gen ATP1B2 pada sapi Holstein Cina [94] dan gen ATP1A1 pada sapi hasil persilangan jersey [95] telah diamati terkait dengan thermotolerance. SNPs ini dapat digunakan sebagai penanda dalam seleksi bantuan marker untuk mengembangkan hewan thermotolerant di usia dini. Lebih lanjut, banteng termotolerant dapat digunakan dalam kebijakan pemuliaan untuk memiliki bayi yang diadaptasi secara termal.

 

  1. KESIMPULAN

Jangka waktu yang diperpanjang dari suhu udara yang tinggi ditambah dengan kelembaban relatif yang tinggi mengganggu kemampuan hewan perah untuk membuang kelebihan panas tubuh yang mempengaruhi asupan pakan, produksi susu, dan efisiensi reproduksi dan pada akhirnya mengurangi keuntungan bagi para peternak sapi perah. Namun, dengan meminimalkan suhu tubuh, asupan pakan yang lebih besar dapat didorong. Selain itu, efisiensi kotor dengan nutrisi makanan yang digunakan oleh sapi untuk kinerja juga dapat ditingkatkan. Hilangnya elektrolit melalui sekresi kulit harus diminimalkan dengan peningkatan perumahan dan pendinginan hewan. Standarisasi suplemen mineral untuk mengontrol keseimbangan asam-basa harus dipertimbangkan pada hewan di bawah tingkat stres termal yang berbeda. Meningkatkan tingkat kehamilan sapi HS dapat dicapai dengan meningkatkan berbagai kondisi manajemen. Identifikasi gen yang terkait dengan thermotolerance dan menggunakan gen ini sebagai penanda dalam program pemuliaan atau seleksi penanda dibantu harus diterapkan untuk mengidentifikasi hewan yang beradaptasi dengan stres termal mempertimbangkan interaksi genotipe-lingkungan (G × E) selain produktivitas yang lebih tinggi. Penelitian lebih lanjut tentang pertanian hewan tahan iklim adalah kebutuhan jam untuk keberlanjutan dalam sistem peternakan sapi perah, terutama di daerah iklim yang panas dan lembab.

   

  1. DAFTAR PUSTAKA

  A.H. Ganaie1, Gauri Shanker, Nazir A. Bumla, Ghasura R.S, N.A. Mir, Wani SA and Dudhatra GB.2013. Biochemical and Physiological Changes during Thermal Stress in Bovines. Ganaie et al., J Veterinar Sci Technology.India

Brian Tarr, Ruminant Nutritionist, Shur-Gain. 2016.The effects of heat stress in late gestation dry cows and the subsequent lactation.Australia.

Evelyn Priscila München Alfonzo& Marcos Vinicius Gualberto Barbosa da Silva&

Darlene dos Santos Daltro& Marcelo Tempel Stumpf& Vanessa Calderaro Dalcin&

Giovani Kolling& Vi v i a n F i s c h e r& Concepta Margaret McManus.2015. Relationship between physical attributes and heat stress in dairy cattle from different genetic groups.Dairy Digest.Holland

 

Ramendra Das,1 Lalrengpuii Sailo,2 Nishant Verma,1 Pranay Bharti,3 Jnyanashree Saikia,4 Imtiwati,5 andRakesh Kumar.2016. Impact of heat stress on health and performance of dairy animals. Vet World

Biffani ,† L.   Buggiotti ,*  A.   Vitali ,*  N.   Lacetera ,* and  A.   Nardone.2013 The effects of heat stress in Italian Holstein dairy cattle. Dipartimento di scienze e tecnologie per l’Agricoltura, le Foreste, la Natura e l’Energia (DAFNE), Università

Bernabucci.Italia

Read more

 

PROSES PEMBENTUKAN UREA DI DALAM HATI (SIKLUS UREA)

Oleh:

Drh. Rita Dyah Kusdaryanti

 

  1. Pendahuluan

Siklus urea merupakan pelepasan gugus NH2 pada asam amino dalam bentuk amoniak melalui reaksi transaminase dan deaminasi, kemudian dikeluarkan dalam bentuk urea dari urine. Dari uraian tentang metabolisme asam amino telah diketahui bahwa NH2 dapat dilepaskan dari asam amino melalu ireaksi transaminase dan deaminasi. Pada reaksi transaminase, gugus NH2 yang dilepaskan diterima oleh suatu asam keto sehingga terbentuk asam amino baru dan asam keto lain. Pada tubuh setiap hewan pasti berlangsung siklus urea. Dimana siklus ini  juga memiliki fungsi tersendiri. Misalnya saja, hasil dari siklus yang  berupa urine, yang tentu saja urine juga faktor penting dalam menentukan kesehatan seseorang. Sehingga, dalam makalah ini dibahas apa itu siklus urea,  bagaimana prosesnya dan apa yang dihasilkan (Lehninger, Albert . L. 1982)

  1. Pengertian Siklus Urea

Dari uraian metabolisme asam amino telah diketahui bahwa NH2 dapat dilepaskan dari asam amino melalui reaksi transaminasi, deaminasi, dan dekarboksilasi. Pada reaksi transaminase gugus NH2 yang dilepaskan diterima oleh asam keto, sehingga terbentuk asam amino baru dan asam keto lain. Sedangkan pada reaksi deaminasi, gugus NH2 dilepaskan dalam bentuk ammonia yang kemudian dikeluarkan dari dalam tubuh dalam bentuk urea dalam urine. Amonia dengan kadar yang tinggi merupakan racun dalam tubuh. Hans Krebs dan Kurt Henseleit pada tahun 1932 mengemukakan serangkaian reaksi kimia tentang pembentukan urea. Mereka berpendapat bahwa urea terbentuk dari ammonia dan karbondioksida melalui serangkain reaksi kima yang berbentuk siklus, yang mereka namakan siklus urea. Pembentukan urea ini terutama  berlangsung dalam hati. Urea adalah suatu senyawa yang mudah larut dalam air,  bersifat netral, terdapat dalam urine yang dikeluarkan dari dalam tubuh. Urea adalah produk akhir utama metabolisme nitrogen pada mamalia. Amonia, produk dari reaksi oksidatif deaminasi, bahkan beracun dalam  jumlah kecil dan harus dikeluarkan dari tubuh (Murray, Robert K, dkk. 2003).

Siklus urea atau siklus ornithine menggambarkan reaksi konversi amonia menjadi urea. Karena reaksi ini terjadi di hati, urea ini kemudian diangkut ke ginjal di mana ia dikeluarkan. Pembentukan urea keseluruhan reaksi adalah:

2 Amonia + karbon dioksida + 3ATP —> urea + air + 3 ADP

(Campbell, N A.,J.B. Reece, & L.G. Mithchell.2005).

Urea secara rutin diukur dalam darah sebagai : Blood Urea Nitrogen (BUN). BUN mungkin tingkat tinggi (suatu kondisi yang disebut uremia) di kedua akut dan kronis ginjal (ginjal) kegagalan. Berbagai penyakit yang merusak ginjal dan menyebabkan cacat pembentukan dan ekskresi urin . Gagal jantung kongestif mengarah pada tekanan darah rendah dan akibatnya mengurangi tingkat filtrasi melalui ginjal, oleh karena itu, BUN dapat meningkat. Penghalang saluran kemih  juga dapat menyebabkan peningkatan BUN. Pada kasus yang parah, hemodialisis digunakan untuk menghapus larut urea dan produk-produk limbah lain dari darah. Produk limbah berdifusi melalui membran dialyzing karena konsentrasi mereka lebih rendah dalam solusi dialyzing. Ion-ion, seperti Na + dan Cl – yang tetap dalam darah, dipertahankan pada konsentrasi yang sama dalam solusi dialyzing – tidak bersih difusi terjadi. Seperti dinyatakan sebelumnya, tingkat amonia tinggi bersifat racun. Blok lengkap dari setiap langkah dalam siklus urea fatal karena tidak ada  jalur alternatif yang dikenal untuk sintesis urea. Akumulasi amonia luas menyebabkan luas kerusakan hati dan kematian. Sirosis hati yang disebabkan oleh alkoholisme menciptakan gangguan di enzim yang memproduksi fosfat carbamyl dalam langkah pertama pada siklus. Siklus urea (juga dikenal sebagai siklus Ornithine) adalah siklus  biokimia reaksi yang terjadi pada hewan banyak yang memproduksi urea (( N H2)2C O ) dari amonia (NH3) (Campbell, N A.,J.B. Reece, & L.G. Mithchell. 2005).

Siklus ini merupakan siklus metabolik pertama kali ditemukan ( Hans Krebs dan Kurt Henseleit, 1932). Pada mamalia, siklus urea terjadi terutama di hati , dan sebagian kecil di ginjal .

  • Siklus Urea

Setiap saat makhluk hidup baik manusia maupun binatang mengekskresikan nitrogen dengan pembagian 95% dibuang oleh ginjal dan sisanya sebesar 5% dibuang oleh feses. Jalan utama ekskresei nitrogen adalah sebagi urea yang disintesis dalam hati, dilepas dalam darah dan ditarik oleh ginjal. Pada hewan, ureolitik, ammonia yang dihasilkan dari deaminasi asam amino diubah menjadi urea di dalam hati oleh mekanisme siklik, yaitu siklus urea, yang pertama kali ditemukan oleh Hans Kreb dan Kurt Henseleit pada 1932. Siklus urea disebut juga siklus ornitin, adalah reaksi pengubahan ammonia (NH3) menjadi urea ((NH2)2CO). Reaksi ini terjadi dihati dan sedikit terjadi di ginjal. Hati menjadi pusat pengubahan ammonia menjadi urea karena terkait dengan fungsi hati sebagai tempat menetralkan racun (Izafaqih.blogspot.2012).

Ammonia merupakan hasil degradasi dari asam amino; yang berasal dari reaksi transaminasi; asam oksalat dikatalisis oleh enzim aspartat dehidrogenase menjadi aspartat, aspartat akan masuk pada siklus urea dan reaksi deaminasi; glutamat (hasil transaminasi) dan H2O yang dibantu oleh NAD+ yang menghasilkan NADH dan ammonia. Ammonia hasil reaksi itulah yang akan diolah di siklus urea ini. Ammonia bersifat racun sehingga dapat membahayakan tubuh (bersifat toksik) bila jumlanya berlebih di dalam tubuh. Tubuh manusia tidak dapat membuang ammonia secara cepat sehingga perlu diubah menjadi urea terlebih dahulu yang bersifat kurang beracun (Dianirianita.blogspot.2016)

  1. Reaksi Dalam Siklus Urea

Terdapat lima tahap reaksi dalam siklus urea yaitu

  1. Reaksi pada sintesis karbomoil fosfat.

Reaksi sintetis karbamil fosfat yang merupakan tahap pertama dari siklus urea ini terjadi di matriks mitokondria hati. Ion ammonium, karbon dioksida, dan fosfat (yang berasal dari ATP) sebagai bahan baku reaksi berkondensasi untuk membentuk karbamil fosfat dikatalisis oleh enzim karbamil fosfat sintase I, yaitu enzim yang terdapat dalam mitokondria hati organisme urotelik. 2 ATP yang dihidrolisis selama reaksi ini menyediakan tenaga penggerak untuk sintesis 2 ikatan kovalen-ikatan amida dan ikatan campuran asam karboksilat-asam fosfat anhidrida dari karbamil fosfat,  dengan kata lain reaksi ini memerlukan energi ditandai dengan adanya perubahan ATP menjadi ADP. Di samping itu sebagai kofaktor dibutuhkan Mg2+ dan N-asetil-glutamat. Peranan tepat Nasetilglutamat tidak diketahui dengan pasti. Kehadirannya menyebabkan banyak perubahan konformasional (penyesuaian bentuk) dalam struktur karbamoil fosfat sintase yang membuka (expose) gugus sulfidril tertentu, menyembunyikan gugus lainnya, dan mempengaruhi afinitas enzim untuk ATP. Karbamil fosfat sintase I merupakan enzim pengatur, enzim ini memerlukan N-asetilglutamat sebagai modulator positip dan perangsangnya. Karbamil fosfat merupakan senyawa berenergi tinggi, molekul ini dapat dipandang sebagai suatu pemberi gugus karbamoil yang telah diaktifkan (Izafaqih.blogspot.2012).

 

Gambar 1. Siklus urea (Www.elmhurst.edu)

 

  1. Reaksi pada pembentukan sitrulin.

Setelah reaksi sintetis karbamil fosfat selanjutnya adalah reaksi sintesis sitrulin

dimana reaksi ini terjadi di matrik mitokondria hati pula sama seperti reaksi sintesis karbamil fosfat. Karbamoil fosfat memberikan gugus karbamoilnya kepada ornitin untuk membentuk sitrulin dan membebaskan fosfatnya, dalam suatu reaksi yang dikatalisis oleh ornitin transkarbamoilase yang terdapat pada bagian mitokondria sel hati, yakni enzim mitokondria yang memerlukan Mg2+.

Karbamoil fosfat + ornitin à sitrulin + Pi+ H+

Sitrulin yang terbentuk sekarang meninggalkan mitokondria dan menuju ke dalam sitosol sel hati.

 

  1. Reaksi sintesis argininosuksinat.

Selanjutnya sitrulin bereaksi dengan asam aspartate membentuk asam

argininosuksinat. Reaksi ini berlangsung dengan bantuan enxim argininosuksinat sintese. Dalam reaksi tersebut ATP merupakan sumber energy dengan jalan melepaskan gugus fosfat dan berubah menjadi AMP.

Sitrulin + aspartate + ATP à argininosuksinat + AMP + PPi + H+

 

  1. Reaksi penguaraian asam argininosuksinat

Dalam reaksi ini asam-asam argininosuksinat diuraikan menjadi arginine dan

asam fumarat. Reaksi ini berlangsung dengan bantuan enzim argininosuksinase, suatu enzim yang terdapat dalam hati dan ginjal. Reaksi berlangsung melalui mekanisme pembuangan trans. Fumarat yang dibentuk dapat dikonversi menjadi oksaloasetat melalui reaksi fumarase dan melat dehidrogenase dan selanjutnya ditransaminasi untuk membentuk kembali (regenerasi) aspartat.

Argininosuksinat  <à arginine + fumarat

(Campbell, N A.,J.B. Reece, & L.G. Mithchell. 2005).

 

  1. Reaksi pembelahan arginin menjadi ornitin dan urea.

Reaksi ini menyempurnakan siklus urea dan membentuk kembali (regenerasi

ornitin), substrat untuk reaksi 2. Pembelahan hidrolitik gugus guanidino dari arginin dikatalisis oleh arginase, yang terdapat dalam hati semua organisme ureotelik. Dalam jumlah yang lebih kecil, arginase juga terdapat dalam jaringan ginjal, otak, kelenjar mamae, jaringan testikuler dan kulit. Arginase hati mamalia diaktifkan oleh Co2+ atau Mn2+  Ornitin dan lisin merupakan penghambat kuat yang bersaing dengan arginin.

Arginin + H2o à ornitin + urea

 

(Izafaqih.blogspot.2014)

Reaksi secara keseluruhan dari siklus urea adalah :

NH3 + CO2 + aspartat + 3 ATP + 2 H2O → urea + fumarat + 2 ADP + 2 Pi + AMP +PPi (pirofosfat)

(Sumardjo, Damin.2009)

Karena fumarat diperoleh dari menghilangkan NH3 pada a

spartat dan PP i + H2O → 2Pi,maka persamaan reaksi kimianya dapat disederhanakan menjadi : 2 NH3 + CO2+ 3 ATP + H2O → urea + 2 ADP + 4 Pi + AMP

(Ferrier Denise R, PhD. 2014)

(biorhy.blogspot.2017)

 

Peran enzim pada siklus urea:

( www.ncbi.nlm.nih.gov)

Tahapan secara lengkap siklus urea dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Tahapan reaksi kimia pada siklus urea

Reaksi kimia pada siklus urea
Step Reaktan Produk Enzim Lokasi
1 NH4+ + HCO3 + 2ATP carbamoyl phosphate + 2ADP + Pi CPS1 mitochondria
2 carbamoyl phosphate + ornithine citrulline + Pi OTC mitochondria
3 citrulline + aspartate + ATP argininosuccinate + AMP + PPi ASS cytosol
4 Argininosuccinate Arg + fumarate ASL cytosol
5 Arg + H2O ornithine + urea ARG1 cytosol

Keterangan :

Pi : Ortofosfat atau fosfat anorganik

CPS-1 : enzim carbamoyl phosphate synthetase I

OTC : enzim Ornithine transcarbamoylase

ASS : enzim argininosuccinate synthetase

ASL : enzim argininosuccinate lyase

ARG1 : enzim arginase 1

(Widodo Wahyu, Ms. Prof. Dr. 2006)

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Campbell, N A.,J.B. Reece, & L.G. Mithchell. 2005.Biologi. Edisi Kelima. Terj. dari:  Biology.5th ed. oleh Manalu, W.Jakarta : Erlangga.

 

Ferrier Denise R, PhD. 2014.Biokimia. Edisi Keenam. Jilid Dua.Terj. dari:Biochemistry. Oleh Rudiharso Winarso. Dr: Binarupa Aksara.

Lehninger, Albert . L. 1982.Dasar-Dasar Biokimia. Penerbit Erlangga

Murray, Robert K, dkk. 2003.Biokimia Harper edisi 25.Jakarta: EGC Sholeh, Aziz. 2012.

(online). (http://blog.ub.ac.id/metabolisme-atp/. Diakses 7 Mei 2017

Poedjiadi, Anna.2006.Dasar-Dasar Biokimia.Jakarta:UIP

Sumardjo, Damin.2009.Pengantar Kimia Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran. Jakarta:EGC

Wahyuni Sri., Ir.Dr. M.Kes.2013.Metabolisme Kimia.Udayana University Press.Bali

Widodo Wahyu, Ms. Prof. Dr. 2006. Pengantar Ilmu Nutrisi Ternak. Fakultas Peternakan-Perikanan UMM. Malang

Yatim, Wildan. 2003.Biologi Modern Biologi Sel Bandung: Tarsito

http://izafaqih.blogspot.com/2012/04/siklus-urea.html

Read more

Mekanisme Pembentukan Marbling/perlemakan

MEKANISME PEMBENTUKAN MARBLING/PERLEMAKAN

OLEH:

Drh. Rita Dyah Kusdaryanti

 Pencernaan pada ternak sapi merupakan proses yang sangat komplek yang melibatkan interaksi antara pakan, populasi mikroba dan ternak sapi itu sendiri. Karbohidrat merupakan komponen utama dalam ransum ternak ruminansia. Jumlahnya mencapai 60 -75 persen dari total bahan kering yang ada di dalam ransum. Dalam makanan kasar, sebagian besar karbohidrat terdapat dalam bentuk selulosa dan hemiselulosa, sedangkan dalam konsentrat umumnya karbohidrat terdapat dalam bentuk pati. Karbohidrat merupakan sumber energi utama untuk pertumbuhan mikroba rumen dan ternak induk semang. Disini  sapi diberikan pakan dengan tingkat energy yang berbeda yaitu rendah, sedang dan tinggi.

Pakan akan masuk ke dalam tubuh sapi melalui organ pencernaan. Dari mulut akan masuk melewati esophagus menuju ke rumen. Di dalam rumen karbohidrat kompleks yaitu selulosa, hemiselulosa, pati dan pektin akan difermentasi oleh enzim ekstraseluler menghasilkan monomernya berupa oligosakarida, disakarida dan monosakarida. Suatu monosakarida adalah glukosa adalah salah satu karbohidrat terpenting yang digunakan sebagai sumber tenaga bagi hewan. monomer itu difermentasi/metabolisme lebih lanjut oleh enzim intraseluler membentuk piruvat menghasilkan kerangka karbon (C) untuk sintesis sel mikroba dan membebaskan sejumlah energi dalam bentuk Adenosin Tri Phospat (ATP), CO2 ( Carbon diokside) dan CH4 (gas methan). CO2 dan CH4 dikeluarkan dari rumen melalui proses eruktasi. Energi dalam bentuk ATP digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan pertumbuhan mikroba rumen.  Piruvat adalah produk intermedier yang segera dimetabolisasi menjadi produk akhir berupa asam lemak berantai pendek yang sering disebut dengan Volatil Fatty Acid ( VFA ) yang terdiri dari : asam asetat, asam propionat dan asam butirat dan sejumlah kecil asam valerat. VFA rantai pendek yaitu propionate, butirat, dan asetat dimanfaatkan oleh ternak untuk metabolisme selanjutnya sementara VFA rantai panjang valerat digunakan untuk pertumbuhan bakteri dalam rumen. Sebagian besar VFA diserap langsung dari reticulorumen dan masuk kedalam aliran darah, hanya 20 persen yang masuk ke omasum dan abomasum dan diserap disini. Asam butirat dalam rumen sebelum diserap terlebih dulu dirubah menjadi beta hidroksi butirat dan bersama dengan asam asetat masuk kedalam peredaran darah dalam bentuk badan-badan keton kemudian masuk ke hati, yang nantinya dalam jaringan tubuh digunakan sebagai sumber energi dan untuk sintesis lemak tubuh. Asam propionat setelah masuk dalam peredaran darah dibawa ke hati. Di hati asam ini diubah menjadi glukosa. Glukosa bersama dengan keton dan asetat akan dibawa ke otot, jaringan adipose dan glandula mamari. Di dalam otot atau jaringan yang lain glukosa, keton dan asetat menjadi sumber energy. Di glandula mamari keton dan asetat dirubah menjadi energy, sisanya menjadi lemak. Sementara glukosa dirombak menjadi laktosa untuk proses produksi susu. Di jaringan adipose glukosa, keton, asetat untuk menghasilkan energy dan sisanya menjadi lemak(trigliserida) (lathivahlalatt.blogspot.com>2014/02).

Jaringan adipose terdiri dari beberapa sel adipose yang merupakan jaringan khusus yang memiliki peran sebagai tempat utama penyimpanan lemak dalam bentuk trigliserida. Trigliserida bersama dengan kolesterol yang berasal dari makanan yang berlemak masuk ke usus  dan dicerna. Di dalam jaringan adipose glukosa hasil samping yaitu benda keton dan asetat dioksidasi menjadi NADPH dan ATP. Pembentukan NADPH dari glukosa yang pertama glukosa mengalami proses glikolisis menjadi glukosa 6-fosfat. Glukosa 6-fosfat mengalami perombakan menjadi 6-phosphoglukunolakton dengan bantuan glukosa 6-fosfat dehydrogenase, NADPH terbentuk. Glukosa 6-fosfat juga akan menjadi glukosa 3-fosfat yang kemudian menjadi piruvat masuk ke dalam mitokondria menjadi asetil CoA yang kemudian menghasilkan ATP dan CO2. Glukosa 3-fosfat akan menjadi gliserol kemudian menjadi trigliserida (Rayhan Muhammad, 2013)

Asam lemak albumin dan lipoprotein yang masuk di jaringan adipose. Asam lemak sebagian menjadi asetil CoA di dalam mitokondria dan sebagian lagi langsung menjadi trigliserida. Proses di dalam mitokondria asam lemak yang menjadi asetil CoA akan dillepaskan dalam bentuk sitrat, kemudian kembali terbentuk asal lemak dan menjadi trigliserida (Rayhan Muhammad, 2013)

Pemberian pakan dengan tingkat energy tinggi akan menghasilkan kelebihan energy yang disimpan dalam bentuk glikogen (di otot dan hati) serta lemak. Lemak yang sebagian besar dalam bentuk trigliserida ini utamanya disimpan di dalam jaringan adipose yaitu diantaranya di jaringan intramuscular (otot) yang sering disebut dengan marbling. Oleh karena itu ternak sapi potong yang diberikan pakan dengan tingkat energy tinggi dari sereal akan menghasilkan banyak lemak sehingga meningkatkan marbling score.

Daftar Pustaka

Lathivahlalatt.blogspot.com > 2014/02

Http://studylibid.com>doc>Metabolisme karbohidrat dalam rumen

Rayhan Muhammad. 2013.Metabolisme Sel Adiposa, Otot, Daging dan Telur Serta Penerapannya Kepada Ternak.Jakarta

Read more

Residu Antibiotika Pada Air Susu

Residu Antibiotika Pada Air Susu

Oleh : Yuliati Wahyu S

Susu merupakan salah satu bahan pangan pangan asal hewan sebagai sumber protein hewani yang mempunyai nilai gizi tinggi dan mampu dijangkau oleh masyarakat. Susu adalah cairan yang diperoleh dari ambing ternak perah sehat dan bersih yang diperoleh dengan cara pemerahan yang benar, yang kandungan alaminya tidak dikurangi/ditambah sesuatu apapun dan belum mendapat perlakuan apapun kecuali proses pendinginan. Susu segar harus memenuhi persyaratan mutu agar dapat dikonsumsi dengan aman dan dapat digunakan sebagai bahan baku untuk pengolahan selanjutnya. Salah satu persyaratan mutu susu segar sebagaimana tertuang dalam SNI 3141.1:2011 yaitu bahwa dalam kandungan susu tidak boleh terdapat residu antibiotika.

Keberadaan residu antibiotika dalam air susu dapat terjadi karena pengobatan ternak penghasil susu menggunakan antibiotika. Setelah perlakuan menggunakan antibiotika pada ternak, baik itu secara injeksi intramuscular, intravena maupun intramamary, maka antibiotika akan terabsorbsi dan masuk ke dalam sistem peredaran darah. Selanjutnya aliran darah yang mengandung antibiotika menyebar ke bagian lain termasuk ke dalam ambing. Hasil pemerahan dari ambing yang salah satu puttingnya mendapatkan pengobatan antibiotika maka susu yang diperoleh akan mengandung residu antibiotika. Pemberian pengobatan herbal atau suplemen pakan ternak yang mengandung campuran antibiotika dalam kadar tertentu, kontaminasi dari sisa susu yang mengandung antibiotika sebagai akibat kurang bersihnya peralatan pemerahan atau ember penampung yang tidak dicuci dengan bersih dan tercampurnya susu yang tidak mengandung residu antibiotika dengan susu yang mengandung antibiotika karena kelalaian dalam recording juga dapat menyebabkan terdapatnya residu antibiotika dalam susu.

Terapi antibiotika seringkali menjadi pilihan dalam penanganan/pengobatan jenis penyakit tertentu seperti kasus mastitis, pneumonia, enteritis, penyakit kuku maupun penyakit lain yang disebabkan oleh adanya infeksi bakterial. Antibiotika merupakan senyawa kimia yang dihasilkan dari berbagai jasad renik, mikroorganisme, dan aktinomiset yang memiliki khasiat menghentikan pertumbuhan atau membunuh bakteri/mikroorganisme. Jenis dan golongan antibiotika antara lain : Penicillin, Sulfonamida, Cephalosporin, Makrolida, Tetrasiklin dan Aminoglikosida. Perlakuan pengobatan pada sapi perah menggunakan jenis antibiotika memungkinkan adanya residu antibiotika pada susu sapi tersebut, dimana konsentrasi residu antibiotika tergantung dari jumlah dan dosis pengobatan, serta akan semakin berkurang seiring dengan jalannya waktu pasca pengobatan.

Dampak yang mungkin muncul karena adanya residu antibiotika pada air susu antara lain :

  • Dapat menyebabkan resistensi bakterial bagi individu yang mengkonsumsinya, baik anak sapi maupun manusia
  • Dapat memberikan reaksi alergi atau intoleransi pada individu yang memiliki alergi pada jenis antibiotika tertentu, terutama jika konsentrasi antibiotika dalam susu cukup tinggi
  • Menurunkan kualitas hasil olahan khususnya pada pengolahan keju dan yoghurt
  • Kerugian ekonomi pada peternak/koperasi apabila susu yang mengandung antibiotika tercampur dengan susu lain dalam jumlah besar dan ditolak oleh IPS. Hal ini karena sebagian IPS sudah memberlakukan penolakan susu yang tidak lolos uji residu antibiotika (tidak memenuhi standar SNI)

Perbaikan manajemen dalam pemeliharaan ternak pernah untuk mengurangi resiko kerugian karena adanya residu antibiotika pada air susu dapat dilakukan antara lain melalui pemisahan ternak yang sakit dalam suatu kelompok ternak, pemberian tanda ternak yang dalam pengobatan antibiotika, pemberlakuan withdrawal time antibiotika sesuai jenis obat yang digunakan, perbaikan sistem pencatatan, pelaporan pengobatan dan informasi dalam farm atau dari peternak ke koperasi pengumpul susu. Ternak yang diobati dengan antibiotika sebaiknya diperah terakhir dan dilakukan pemisahan susu yang mengandung antibiotik dalam tempat khusus. Apabila akan ditimbang dan diuji alkohol/BJ maka harus dipastikan alat yang dipakai kembali dicuci bersih. Pemilihan jenis suplemen/pakan sebaiknya untuk ternak yang dalam fase laktasi tidak menggunakan produk yang mengandung antibiotika

Pengujian mutu susu sangat diperlukan untuk menjaga keamanan produk dan mengetahui penyimpangan kualitas susu yang tidak sesuai persyaratan. Beberapa jenis uji saat ini dapat dilakukan oleh laboratorium untuk mendeteksi adanya residu antibiotika pada air susu. Pemilihan jenis uji dan reagen tergantung dari kebutuhan pengguna, spektrum jenis antibiotika yang ingin diuji, lama waktu pengujian dan sarana yang dimiliki laboratorium penguji.

Metode uji cepat terhadap residu antibiotika pada air susu sangat membantu dilapangan. Beberapa metode yang sudah banyak digunakan antara lain :

  1. Beta-Star Test. Dapat digunakan untuk mendeteksi residu antibiotika betalactam, termasuk didalamnya amoxicillin, ampicillin, cephapirin, cloxacillin, dan penicillin pada susu segar maupun olahan susu. Konjugat reseptor partikel emas (yang terkandung dalam vial) diinkubasikan dengan sampel susu selama 3 menit. Jika terdapat antibiotika betalactam akan terikat ke dalam konjugat reseptor-partikel emas. Stik uji kemudian dimasukkan kedalam vial dan dilanjutkan inkubasi 2 menit. Selanjutnya garis merah akan terbentuk dimana intensitasnya tergantung pada kadar antibiotik dalam sampel. Pembacaan menggunakan The Reveal Accu Scan III Reader, jika rasio >1 menunjukkan hasil negatif, dan jika rasio <1 menunjukkan hasil positif.
  2. Metode ini menggunakan testkit yang mampu mendeteksi berbagai jenis antibiotika maupun zat penghambat lainnya seperti desinfektan atau detergen. Prinsip pengujian dilakukan berdasarkan pertumbuhan mikroorganisme dalam ampul testkit. Setiap ampul yang sudah berisi bakteri Bacillus stearothermophillus, nutrisi pertumbuhan dan indicator PH ditambahkan sampel air susu yang akan duji. Pembacaan hasil dilakukan setelah 3 jam inkubasi. Jika dalam sampel terdapat antibiotika, maka bakteri tidak akan tumbuh sehingga warna kit tetap. Tetapi jika dalam sampel tidak terdapat antibiotika atau zat penghambat maka bakteri akan tumbuh dan menghasilkan asam sehingga warna kit akan berubah menjadi kuning.
  3. Copan Milk Test. Merupakan metode tes tunggal untuk mendeteksi residu antimicrobial pada susu sapi, domba, kambing baik susu segar maupun susu olahan. Vial yang telah berisi agar dengan benih spora Bacillus stearothermophillus var calidolactis dan penambahan gula yang dapat difermentasi (glukosa) dan bromocrestol purple sebagai indikator. Setelah sampel dimasukkan dalam vial dan diinkubasi selama 3 jam dapat dilakukan pembacaan hasil. Jika dalam sampel mengandung antibiotika maka pertunasan dan pertumbuhan spora Bacillus akan terhambat, tidak ada fermentasi glukosa, tidak ada produksi asam sehingga indikator tetap berwarna ungu. Namun jika dalam sampel tidak terdapat antibiotika atau terdapat antibiotika dengan konsentrasi dibawah limit deteksi, maka spora akan bertunas, tumbuh dan gula dimetabolisme. Produksi asam yang ditimbulkan akan merubah warna indikator menjadi kuning.

 

Read more

Penerapan Prinsip Animal Welfare dalam Manajemen Pembibitan Ternak di BBPTUHPT Baturraden

Penerapan Prinsip Animal Welfare dalam Manajemen Pembibitan Ternak

di BBPTUHPT Baturraden

Yuliati Wahyu S

Animal welfare atau biasa disebut kesejahteraan hewan merupakan suatu prinsip kesejahteraan dan aspek yang harus dipenuhi dalam pemeliharaan dan pemanfaatan hewan. Penerapan aspek ini tidak hanya pada hewan kesayangan saja, namun juga sudah menjadi suatu kebutuhan bagi pemelihara ternak produksi. Hal ini merupakan salah satu bentuk kesadaran kita dalam memperlakukan hewan sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BBPTUHPT) Baturraden merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Lingkup Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian yang sudah menerapkan manajemen pembibitan yang mengacu ISO 9001:2008 dan berbasis prinsip kesejahteraan hewan (animal welfare). Model ini dikembangkan sebagai upaya untuk memenuhi tuntutan masyarakat baik nasional maupun internasional, serta memberikan contoh agar model peternakan berbasis animal welfare ini semakin luas diaplikasikan dimasyarakat, karena dalam aplikasinya di Indonesia, animal welfare pada ternak perah belum sepenuhnya dapat dilaksanakan.

Berdasarkan Undang Undang No 18 tahun 2009 jo  Undang-Undang No 41 tahun 2014 Tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, kesejahteraan hewan diartikan sebagai segala urusan yang berhubungan dengan keadaan fisik dan mental hewan menurut ukuran perilaku alami hewan yang perlu diterapkan dan ditegakkan untuk melindungi hewan dari perlakuan setiap orang yang tidak layak terhadap hewan yang dimanfaatkan manusia. Kesejahteraan hewan memiliki 3 aspek penting yaitu science atau mengukur efek pada hewan dalam situasi dan lingkungan yang berbeda dari sudut pandang hewan, etika yaitu mengenai bagaimana sebaiknya manusia memperlakukan hewan, hukum yaitu mengenai bagaimana manusia harus memperlakukan hewan.

Penerapan prinsip 5 kebebasan (Five freedom) yang digunakan dalam manajemen pembibitan yaitu :

  1. Ternak yang dipelihara harus bebas dari rasa haus dan lapar (Freedom from hunger and thirst). Hal ini dilakukan dengan menyediakan kemudahan akses air minum dan penyediaan pakan dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak. Apabila hal ini tidak dapat dipenuhi akan berakibat pada timbulnya penyakit dan penderitaan ternak.
  2. Ternak yang dipelihara harus bebas dari rasa ketidak nyamanan/ penyiksaan fisik (Freedom from discomfort). Prinsip ini dipenuhi dengan penyiapan kandang dan pola pemeliharaan yang baik sesuai SOP. Apabila kondisi ini tidak mampu disediakan akan menyebabkan penderitaan dan rasa sakit yang berdampak pada fisik dan psikologis hewan
  3. Ternak yang dipelihara harus bebas dari rasa sakit, cidera dan penyakit (Freedom from pain, injury and disease). Upaya yang diterapkan terkait dengan pencegahan penyakit, penanganan atau treatment yang cepat dan tepat. Apabila kebebasan ini tidak mampu dipenuhi maka akan memicu penyakit yang berakibat pada kematian ternak dan ancaman transmisi (penularan) penyakit antar hewan maupun manusia.
  4. Ternak bebas untuk mengekspesikan perilaku alamiah (Freedom to express normal behaviour). Kebebasan ini dipenuhi dengan penyediaan ruang dan fasilitas yang cukup untuk pemeliharaan ternak, penataan ternak berdasarkan fisiologis, fisik dan reproduksi ternak.
  5. Ternak bebas dari ketakutan dan rasa tertekan (Freedom from fear and distress). Kondisi ini dipenuhi dengan memberikan perlakuan yang dapat mencegah rasa takut dan penderitaan ternak.

Dalam kegiatan pemeliharaan ternak, pengabaian terhadap 5 kebebasan ini akan memberikan dampak buruk pada kesejahteraan hewan dan dapat memicu stress. Stress dan ketidaknyamanan ternak dapat menyebabkan sapi perah menjadi lebih rentan terhadap peyakit karena menurunkan sistem kekebalan tubuh. Selain itu ternak juga akan mengalami penderitaan yang dapat mengakibatkan menurunnya performance dan produktivitas ternak.

Aplikasi animal welfare tampak pada beberapa kegiatan manajemen sebagai berikut :

  1. Pakan dan air minum
  • Susu diberikan pada pedet dan cempe dengan jumlah sesuai kebutuhan dalam kondisi segar, bersih dan sehat.
  • Air minum diberikan secara ad libitum berupa air bersih yang tidak terkontaminasi dan memenuhi syarat kesehatan (pengujian laboratorium secara rutin)
  • Pakan diberikan dalam jumlah yang cukup dan memenuhi kebutuhan nutrisi bagi ternak sesuai dengan kebutuhannya (kebutuhan hidup pokok, produksi, dan reproduksi). Konsentrat dan HPT (rumput dan legume) diberikan berimbang sesuai formulasi dan kebutuhan ternak.
  • Penerapan teknologi yang mendukung penyediaan pakan sepanjang tahun dan continue antara lain dengan metode pemberian pakan TMR (Total Mix Ration), silase untuk memenuhi kebutuhan di musim kemarau, dan penyediaan mineral blok sehingga ternak dapat mengkonsumsi (menjilat) sesuai kebutuhannya.
  • Pola grassing sudah diaplikasikan khususnya di farm Manggala. Pola ini diutamakan pada sapi dalam masa rearing (pembesaran). Penempatan jumlah ternak di padang penggembalaan juga didasarkan pada produksi padang penggembalaan. Pola grassing ini, disamping menurunkan biaya pakan untuk HPT juga memberikan kebebasan kepada ternak sehingga mampu menghasilkan dewasa kelamin yang lebih cepat.
  1. Kandang dan pemeliharaan ternak
  • Kandang yang digunakan dalam pemeliharaan sapi dan kambing adalah model freestall dengan ukuran kepadatan ternak yang disesuaikan berat badan, sehingga tersedia lingkungan dan areal istirahat yang layak untuk ternak.
  • Prinsipnya ternak tidak diikat dan bebas untuk bergerak, tersedia devider dan tempat tidur dengan lantai yang nyaman beralaskan karpet yang tidak keras, head lock dipasang ditempat pakan, sehingga tidak terjadi perebutan pada saat istirahat dan makan. Melalui model kandang freestall ternak dapat menunjukkan gejala atau tingkah alamiahnya (misal tingkah laku birahi dengan, berjalan, dll) dan terlihat nyaman/ bahagia.
  • Menciptakan suasana tenang di kandang dan menghindarkan suara bising/keras disekitar farm akan memberikan kondisi yang nyaman bagi ternak dan bebas dari rasa takut.
  • Penempatan dan penataan ternak (blokcing) yang dilakukan di farm Baturraden menggunakan parameter berat badan, BCS dan produksi susu. Dimana dalam 1 kelompok variasi bobot badan maksimal 100 kg dan produksi susu maksimal 10 kg. Hal ini untuk menjaga keseragaman dalam kelompok ternak. Blocking sangat penting untuk menghindari adanya persaingan dan memudahkan pengaturan penyediaan pakannya.
  • Kandang disediakan dalam kondisi yang nyaman, apabila kandang terlalu dingin diberikan lampu penghangat atau alas jerami, dan apabila terlau panas atau lembab dapat dikondisikan dengan blower atau kipas.
  1. Kesehatan Hewan
  • Sesuai dengan standar pelaksanaan animal welfare, BBPTUHPT Baturraden mengutamakan pencegahan penyakit daripada pengobatan
  • Biosecurity di areal farm dilakukan dengan mengatur atau pembatasan lalulintas ternak, orang dan kendaraan, desinfeksi kandang dan lingkungan, pengendalian parasite ternak. Biosecurity gate dan bak dipping merupakan sarana penting un tuk mencegah masuknya penyakit dari luar farm.
  • Pemeriksaan medis yang regular dan kecepatan pengobatan dilakukan untuk menjaga ternak bebas dari rasa sakit dan penyakit.
  • Penempatan khusus terhadap ternak yang sakit akan mempermudah pengawasan ternak yang sedang dalam masa pengobatan dan penyembuhan
  • Pemeriksaan rutin laboratorium Keswan terhadap penyakit hewan menular strategis rutin dilakukan setiap tahun bersama BBVET wates dan laboratorium pengujian veteriner lainnya. Pemeriksaan endoparasit dan kesehatan ambing serta susu secara reguler dilakukan di laboratorium BBPTUHPT Baturraden.
  1. Recording/ catatan ternak

Penerapan animal welfare dalam manajemen dapat diukur dari beberapa parameter performance ternak seperti tingkah laku ternak, angka kematian, angka kasus penyakit, angka pertumbuhan, efisiensi reproduksi dan performance ternak. Untuk itu BBPTUHPT menerapkan recording ternak secara utuh (recording kesehatan, reproduksi, bobot badan dan body condition score (BCS), respon ternak terhadap penanganan, produksi susu, dll). Recording merupakan alat utama untuk mendeteksi permasalahan yang terjadi pada ternak, dan sebagai penghasil ternak bibit recording harus dilaksanakan dengan tertib untuk mengetahui silsilah dan riwayat ternak.

  1. Kompetensi SDM
  • Petugas harus mempunyai keterampilan yang baik. Dengan keterampilan yang baik akan meningkatkan kualitas penanganan terhadap ternak, tidak menyebabkan rasa sakit yang berlebihan dan tidak menyebabkan tingkat stress yang tinggi.
  • Kecintaan terhadap ternak merupakan syarat utama bagi pemelihara ternak, untuk terjadinya interaksi petugas – ternak yang dekat.
  • Penempatan petugas yang kompeten dibidangnya dan selalu dilakukan penyegaran dan peningkatan kompetensi melalui penyelenggaraan pelatihan dan in house training.

Dengan pelaksananaan animal wefare di BBPTUHPT Baturraden diharapkan mampu mendukung peningkatan produksi, reproduksi dan kesehatan ternak serta kedekatan interaksi antara petugas dan ternak. Melihat manfaat pengaruh aplikasi prinsip kesejahteraan hewan dalam pola pemeliharaan ternak, maka sangatlah tepat jika mulai dikembangkan model pembibitan berbasis animal welfare sebagai upaya untuk memajukan dunia peternakan di Indonesia menuju persaingan di pasar Internasional.

 

Read more

Produktivitas Lahan

PRODUKTIVITAS LAHAN HPT ANDA TERUS MENURUN ?

Mungkin Anda Belum Menerapkan Kaidah Ini

Oleh : Santi Widiartika

“ Pakan merupakan faktor produksi penting dalam kegiatan usaha peternakan karena produktivitas ternak sangat ditentukan oleh ketersediaan  pakan yang baik secara kualitas, kuantitas maupun kontinuitas “  

Ketersediaan  pakan  adalah  tantangan pembangunan peternakan secara nasional. selain tingginya harga bahan baku pakan dan pakan jadi, lahan untuk budidaya hijauan pakan ternak pun semakin menyempit karena terjadi persaingan dengan tanaman pangan maupun pemukiman masyarakat.

Keterbatasan lahan  HPT yang dimiliki perlu mendapatkan pengelolaan lahan yang tepat agar produktivitasnya sesuai dengan yang diharapkan.

Tanah / lahan HPT yang digunakan secara terus menerus lambat laun akan mengalami kondisi kritis tanpa diikuti dengan pengelolaan lahan yang tepat dan tanpa penerapan kaidah pemupukan berimbang, penggunaaan pupuk anorganik secara terus menerus tanpa menerapkan kaidah pemupukan berimbang  dapat mengganggu keseimbangan unsur hara tanah / kerusakan struktur tanah selain merupakan pemborosan. Kerusakan tanah akan berdampak pada produktivitas lahan yang terus menurun.

Salah satu solusi untuk mempertahankan hasil panen HPT, untuk membenahi kerusakan struktur tanah dan sekaligus penghematan dalam biaya pemupukan adalah dengan aplikasi pemupukan berimbang yang dikombinasi dengan pemberian bahan organik serta dilakukan pada waktu yang tepat (sesuai fase tumbuhan), untuk mendapatkan manfaat pemupukan perlu dilakukan teknik pemupukan yang sesuai dengan kondisi / topografi lahan.

Pemupukan berimbang adalah pemberian pupuk ke dalam tanah untuk mencapai status semua hara esensial seimbang dan optimum dalam tanah untuk meningkatkan produksi dan mutu hasil, efisiensi pemupukan, kesuburan tanah serta menghindari pencemaran lingkungan.

Dalam pemupukan berimbang Jenis hara tanah yang sudah mencapai kadar optimum atau status tinggi, tidak perlu ditambahkan lagi sehingga menghindari pemborosan biaya pemupukan, kecuali sebagai pengganti hara yang terangkut sewaktu panen. Sistem pemupukan berimbang didasarkan atas hasil analisa uji tanah (yang idealnya diketahui melalui analisa laboratorium, jika tidak memungkinkan secara sederhana bisa juga menggunakan perangkat uji tanah) dan kebutuhan tanaman.

Konsep Pemupukan Berimbang mempertimbangkan :

  • Status hara tanah (yang diperoleh idealnya berdasarkan analisa labolatorium atau bisa juga menggunakan perangkat uji tanah)
  • Kebutuhan tanaman
  • Target Hasil
  • Penggunaan bahan organik (dalam studi yang lain dijadikan sebagai pertimbangan dalam rekomendasi dosis pemupukan).

Penggunaan bahan organik sangat besar peranannya dalam meningkatkan efisiensi pemupukan. Karena itu, rekomendasi pemupukan disusun berdasarkan ada tidaknya pemberian pupuk organik.

Read more

PENILAIAN KONDISI TUBUH SAPI PERAH

PENILAIAN KONDISI TUBUH SAPI PERAH

BODY CONDITION SCOR (BCS)

Santi Widiartika, S.Pt

Body Condition Score (BCS), merupakan suatu metode untuk memberi skor kondisi tubuh ternak baik secara visual maupun dengan perabaan terhadap lemak tubuh pada bagian tertentu tubuh ternak. bertujuan untuk mengetahui pencapaian standar kecukupan cadangan lemak tubuh yang akan mempengaruhi dalam penampilan produksi susu, efesiensi reproduksi dan herd longevity.

Pelaksanaan penilaian

Pelaksanaan penilaian melalui pemeriksaan secara visual maupun dengan perabaaan terhadap kondisi subkutan lemak tubuh pada pangkal ekor dan sekitar tulang belakang hips, ribs, pin bone. Perhitungan nilai BCS sebesar 5 poin, dengan penambahan nilai 0,25 (Quarter Point)

  • Jika semuatonjolan tulang (hooks, pins, dan lain-lain terlihat bulatmaka memiliki nilai bcs sama dengan 5.0
  • Jika hook sedikit sekali terlihat maka nilai BCS 4.75
  • Jika thurl datar dan pin terkubur jaringan lemak nilai BCS 4.5
  • Jika ujung tulang rusuk pendek sedikit sekali kelihatan maka nilai BCS 4.25
  • Jika thurl datar memiliki BCS 4.00
  • Jika sacral ligamen masih kelihatan dan tailhead ligament sedikit kelihatan, nilai BCS sama dengan 3.50
  • Apabila garis dari tulang hook ke tulang thrul sampai tulang pin membentuk bulan sabit (U)  maka nilai lebih besar atau setara dengan 3.25, jika sacral ligament dan tailhead ligament kelihatan, maka nilai BCS sama dengan 3.25.
  • Apabila garis dari tulang hook ke tulang thrul sampai tulang pin berbentuk sudut runcing (V) maka nilai BCS kurang dari atau sama dengan 3.0  Jika tulang hook berbentuk bulat dan tulang pin berisi jaringan lemak maka nilai BCS sama dengan 3.0
  • Jika tulang hook berbentuk sudut dan tulang pin menonjol tipis maka nilai BCS sama dengan 2.75.
  • Juka tulang pin berbentuk sudut runcing dan dirasakan adanya lapisan lemak tipis maka nilai BCS sama dengan 2.50
  • Memperhatikan kerutan lapisan lemak penutup pada tulang rusuk pendek (short ribs). Apabila terlihat hanya setengah dari ujung tulang rusuk pendek ke bagian tulang punggung maka nilai BCS 2.25, jika terlihat tiga per empat maka nilai BCS 2.0
  • Juka tulang thurl menonjol dan memiliki tulang punggung berbentuk tonjolan gigi gergaji, maka nilai BCS kurang dari 2.0

Waktu penilaian

Saat induk beranak,

Penilaian dilakukan saat memproduksi kolostrum ( 1 sampai 7 hari). Standar BCS pada periode ini 3.25 – 3.75

Setelah beranak

Penilaian dilakukan saat peningkatan produksi susu (1 bulan postpartum). Secara ideal sapi akan kehilangan 0.5 poin nilai BCS, hal ini terjadi karena keseimbangan energi negatif dimana cadangan lemak tubuh akan digunakan untuk memproduksi susu, laktasi > reproduksi > pertumbuhan > hidup pokok. Standar BCS pada periode ini 3.0 – 3.5

Saat dikawinkan

Penilaian dilakukan saat produksi susu mulai menurun (3 bulan postpartum), 2-3 bulan setelah beranak produksi susu terjadi penurunan, periode ini sapi dalam pemanfaatan energi pakan mulai terjadi keseimbangan energy positif, hal ini karena prioritas pemanfaatan akan digunakan untuk proses reproduksi dengan menunjukan tanda tanda sapi berahi. Standar BCS  pada periode ini 2.75 -3.25.

Pemeriksaan  Kebuntingan

Apabila umur foetus pada kebuntingan telah mencapai 3 bulan. Penilaian pada periode trimester II berdasarkan prioritas pemanfaatan energi pakan yang tersedia difokuskan untuk kepentingan reproduksi > laktasi > pertumbuhan > Hidup pokok. Standar periode ini 3.0 – 3.5.

Periode Akhir Laktasi

Penilaian dilakukan pada saat produksi susu mulai berkurang (9 bulan pospartum). Hal ini karena pemanfaatan energi pakan difokuskan pada  reproduksi > Pertumbuhan > hidup pokok > laktasi. Standar BCS pad periode ini 3.25 -3.75.

Periode Kering

Penilaian dilakukan pada saat sapi bunting tua, (I bulan prepartum), hal ini karena pemanfaatan energi pakan difokuskan pada reproduksi > pertumbuhan > Hidup Pokok > Persiapan laktasi berikutnya. Standar BCS periode ini 3,5 – 4

 

Read more