Artikel

Penanganan Pedet Pasca Lahir

Pedet yang baru lahir membutuhkan perawatan yang lebih khusus dibandingkan dengan sapi dewasa. Perawatan ini tentunya harus dilakukan dengan penuh kesabaran, ketelitian, dan kecermatan. Pemeliharaan pedet mulai dari lahir hingga disapih merupakan bagian penting dalam kelangsungan suatu usaha peternakan sapi perah dan merupakan salah satu bagian dari proses pencipataan bibit sapi yang bermutu. Kesalahan dalam penanganan dan pemeliharaan pada pedet dapat menyebabkan pedet mati lemas saat lahir, lemah, infeksi dan sulit dibesarkan.

Prosedur penanganan pedet yang baru lahir diantaranya adalah :

  1. Persiapan Kandang

Kandang untuk pedet yang baru lahir dipersiapkan dengan memberikan jerami kering pada lantai atau kertas merang yang bersih. Lantai kandang sebaiknya dalam keadaan kering dan tidak lembab sehingga pedet merasa nyaman. Penerangan kandang yang optimal membuat pedet merasa hangat. Pedet dikandangkan di kandang individual.

  1. Pembersihan Lendir

Lendir yang berada pada rongga hidung dan mulut pedet segera dibersihkan dengan tujuan untuk memperlancar pernafasan. Pedet yang sulit bernafas segera ditolong menggunakan nafas buatan dengan menggerakkan kedua kaki depan pada posisi pedet terlentang dan menekan berulang pada rongga dada atau mengangkat kedua kaki belakang dan membiarkan kepala ke bawah, kemudian dibalik dan angkat turunkan pedet berulang-ulang sehingga lendir yang masih menyumbat rongga hidung dan mulut dapat keluar. Nafas buatan dapat dilakukan juga dengan cara membaringkan pedet, kemudian dilakukan massage (pijat) sampai pada anggota kaki. Cara lain untuk menolong pedet yang kesulitan bernafas adalah menarik lidah pedet kemudian lendir dikeluarkan dari mulut dan tenggorokan dengan menggunakan jari telunjuk agar bernafas dengan normal.

  1. Pemotongan Tali Pusar (funiculus umbilicalis)
    • Tali pusar yang terus dibiarkan menempel pada perut pedet akan menyebabkan infeksi sehingga pedet dapat mengalami kematian. Oleh sebab itu tali pusar hendaknya segera dipotong. Pemotongan tali pusar dilakukan dengan cara menyemprotkan antiseptik pada tali pusar kemudian tali pusar diikat sepanjang 3-5 cm dari pangkal kemudian dipotong kurang lebih 1cm dibawah ikatan tali. Kemudian disemprot dengan antiseptik lagi. Jika sudah pendek langsung disemprot dengan antiseptik. Antiseptik yang digunakan berupa yodium tincture 10% atau betadine. Pemberian antiseptik pada tali pusar dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu :
  1. Tali pusar dicelupkan pada yodium tincture 10% atau betadine.
  2. Tali pusar disemprot dengan yodium tincture 10%.
  3. Memasukkan 5 ml yodium tintur 10% atau betadine ke dalam tali pusar dengan alat suntik atau langsung dari botol betadine, hingga larutan masuk sampai ke pangkal tali pusar.
  4. Pemberian Kolostrum

Pedet yang baru saja lahir lebih baik dibiarkan bersama-sama induknya selama 24-36 jam untuk memberi kesempatan memperoleh susu pertama atau kolostrum.  Kolostrum adalah produksi susu awal yang berwarna kuning, agak kental dan berubah menjadi susu biasa sesudah 4-5 hari.  Kolostrum sangat  penting untuk pedet setelah lahir karena kolustrum mengandung zat pelindung atau antibodi yang dapat menjaga ketahanan tubuh pedet dari penyakit.

Pemberian kolostrum pada pedet diberikan selama seminggu setelah pedet lahir. Tetapi apabila induk menderita radang ambing (mastitis)  atau sebab lain sehingga tidak mengeluarkan kolostrum, maka pedet harus diberi kolostrum dari induk lain. Pemberian kolostrum pada pedet dilakukan dengan melatih pedet meminum kolostrum menggunakan jari tangan sampai pedet dapat minum sendiri dengan baik. Pedet yang baru lahir diberikan kolostrum sebanyak 3 liter dari pemerahan pertama setelah induk melahirkan. Pemberian kolostrum setengah jam atau paling lama 2 jam setelah pedet lahir.(Yuninda Estetika, AMd)

Read more

Bahaya Cemaran Aflatoksin Pada Pakan Ternak Terhadap Ternak dan Manusia

BAHAYA CEMARAN AFLATOKSIN PADA PAKAN TERNAK

TERHADAP TERNAK DAN MANUSIA

Putut Budiono

Medik Veteriner Madya

Pendahuluan

Aflatoksin adalah mikotoksin yang dihasilkan oleh fungi Aspergillus sp. ; merupakan senyawa yang lebih stabil dan tahan terhadap proses pengolahan makanan. Aspergillus flavus sebagai penghasil aflatoxin B1 banyak diperoleh di daerah tropis yang panas dan lembab ; jamur/fungi ini mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada suhu 27-40⁰C dan kelembaban relatif 85%. Aflatoksin B1 yang termakan oleh ternak, akan dimetabolime menjadi aflatoksin M1 yang terdeposisi dalam daging, susu dan telur.

Aflatoksin, terutama aflatoksin B, merupakan aflatoksin yang paling toksik ; aflatoksin ini termasuk golongan senyawa yang bersifat karsinogenik, genotoksik, hepatotoksik pada manusia. Pada hewan bersifat nefrotoksik menyebabkan gangguan fungsi terhadap metabolisme, absorbsi lemak, penyerapan unsur mineral, dan juga menyebabkan perdarahan, memar, kerusakan kromosom dan kegagalan program vaksinasi ; dan selain itu aflatoksin bersifat imunosupresif yang mengakibatkan penurunan kekebalan tubuh.

Keracunan ternak akibat mengkonsumsi pakan yang tercemar aflatoksin dapat dicegah antara lain dengan melakukan pemilihan bahan pakan yang baik dan tidak berjamur, mengelola area penyimpanan pakan agar tidak lembab, melakukan monitoring secara periodik terhadap kadar aflatoksin baik dalam pakan maupun produk ternaknya. Ambang batas maksimal cemaran aflatoksin yang ditolelir berada di dalam makanan adalah sebesar 20 ppt, sedangkan ambang batas cemaran aflatoksin yang terdeposisi dalam air susu maksimal sebesar 0,5 ppt.

Tinjauan Pustaka

Aspergillus flavus (penghasil aflatoksin B1) dan Aspergillus parasiticus (penghasil aflatoksin B1 dan G1) merupakan fungi/jamur yang dikenal sebagai penghasil aflatoksin cukup besar (Barbiroli et al.2017). Di daerah tropis, jamur yang paling berperanan menghasilkan aflatoksin adalah Aspergillus flavus. Apabila aflatoksin B1 dikonsumsi oleh sapi, maka di dalam hati sapi aflatoksin B1 akan dimetabolisme oleh enzim hepatic microsomal cytochrome P450 menjadi aflatoksin M1 yang akan diekskresikan bersama air susu (Battacone et al.2009 ; Prandini et al.2007)

Aspergillus sp yang menghasilkan aflatoksin, banyak mencemari produk pertanian adalah kacang-kacangan, jagung, beras, gandum, biji kapas dan biji-bijian lainnya (Diener dan Davis, 1969). Adanya cemaran aflatoksin, khususnya aflatoksin B1 dalam pakan ternak, selain membahayakan kesehatan ternak, juga menimbulkan residu aflatoksin beserta metabolitnya seperti aflatoksin M1, aflatoksikol, aflatoksin Q1 maupun aflatoksin P1 yang terdeposit pada daging, susu dan telur (Diaz & Murcia, 2011).

Aflatoksin bersifat karsinogenik (penyebab kanker),  mutagenik dan  immuno suppressive (IARC 1987). Oleh karena itu, aflatoksin termasuk golongan karsinogen kelas 1 terhadap manusia (IARC 1993), serta mempunyai predikat sebagai hepatotoxic, carcinotoxic dan teratogenic (Keenan dan Savage 1994). Aflatoksin B1 dan M1  merupakan toksin yang mendapat  perhatian utama karena toksisitasnya terhadap hewan dan manusia (Bhatnagar  et al. 2006).

Pada ternak ruminansia, cemaran aflatoksin dapat mengakibatkan penurunan berat badan ; penurunan berat badan ini signifikan dengan besarnya cemaran pada ternak tersebut (Dass dan Arora, 1994). Tercemarnya pakan ternak oleh Aspergillus sp dengan aflatoksin yang dihasilkannya, dapat mengganggu fungsi-fungsi metabolisme, absorbsi lemak, penyerapan unsur mineral (Cu, Fe, Ca, P, beta-karoten), dan juga menyebabkan penurunan kekebalan tubuh, kegagalan program vaksinasi, kerusakan kromosom, perdarahan, dan memar . Semua gangguan tersebut akan berakibat terhambatnya pertumbuhan dan meningkatnya kematian ternak, sehingga produksi ternak menurun (Jassar dan Balwant Singh, 1989 ; Abdelhamid dan Dorra, 1990 ; Dimri et al.1994 ; Mani et al.2001 ; Prabaharan et al.1999) .

Pembahasan

Alflatoksin M1 merupakan hasil metabolisme di hati sapi terhadap aflatoksin B1 yang mencemari bahan pakan ternak. Bagi peternak yang lokasi usahanya berada di daerah yang lembab perlu kehati-hatian yang lebih terhadap kemungkinan terjadinya cemaran jamur Aspergillus flavus, terutama dalam manajemen pengelolaan pakan ternaknya. Tata laksana pengelolaan pakan, terutama pakan konsentrat yang sebagian besar berupa material asal biji-bijian, perlu kecermatan mulai dari pemilihan kualitas bahan baku pakan, proses pengiriman bahan pakan, pengolahan dan penggudangannya. Bahan baku pakan yang kurang kering, tata gudang yang lembab, sirkulasi udara tidak sempurna sangat berpotensi terjadinya pencemaran jamur Aspergillus sp sebagai penghasil aflatoksin, yang pada akhirnya menjadikan pakan ternak bermasalah.

Keberadaan aflatoksin M1 dalam jumlah besar di air susu sapi (melebihi ambang batas yang ditolelir, yaitu 0,5 ppt), merupakan kondisi yang sangat membahayakan bagi manusia yang mengkonsumsinya, karena aflatoksin mempunyai sifat karsinogenik, hepatotoksik dan genotoksik pada manusia.

Sedangkan keberadaan aflatoksin B1 pada pakan ternak (diindikasikan tingginya aflatoksin M1 yang merupakan metabolit aflatoksin B1 dari pakan ternak) menimbulkan masalah pada ternak yang mengkonsumsinya, karena bersifat nefrotoksik yang mengakibatkan gangguan metabolisme, gangguan absorbsi lemak, gangguan penyerapan unsur mineral, juga mengakibatkan terjadinya perdarahan, memar dll. Selain itu aflatoksin B1 pada ternak bersifat immunosupresif yang dapat mengakibatkan penurunan terhadap kekebalan tubuh terhadap berbagai penyakit.

Kesimpulan  

  1. Aspergillus sp, sebagai jamur penghasil aflatoksin B1 mudah tumbuh di media yang lembab
  2. Aflatoksin B1 pada ternak sapi bersifat
  3. Nefrotoksik, menyebabkan gangguan : metabolisme, absorbsi lemak, penyerapan unsur mineral (Cu, Fe, Ca, P, beta-karoten), juga perdarahan dan memar.
  4. Imunosupresif, menyebabkan penurunan fungsi kekebalan tubuh, mengakibatkan pertumbuhan terhambat, kematian meningkat, dan produksi menurun.
  5. Aflatoksin M1, merupakan hasil metabolisme aflatoksin B1, pada ruminansia diekskresikan melalui air susu, mempunyai sifat karsinogenik, genotoksik, hepatotoksik pada manusia.
  6. Dikarenakan sifatnya, cemaran aflatoksin sangat berbahaya bagi manusia maupun ternak.

Penutup

Dalam upaya mengembangkan aspek persusuan di Indonesia, yang produk dasarnya berasal dari produk sapi perah, soal keselamatan konsumen sudah harus mendapatkan perhatian. Usaha sapi perah di Indonesia yang sebagian besar di tangan masyarakat menengah ke bawah, masalah penanganan dan penyimpanan pakan ternak, dikaitkan dengan efek cemaran aflatoksin menjadi titik rawan. Penyimpanan pakan ternak yang benar, kering (tidak lembab) harus menjadi perhatian utama. Kesalahan dalam pengelolaan pakan ternak, maka resiko tercemar aflatoksin menjadi terbuka, dan pada akhirnya produk susunya menjadi tidak sehat bagi konsumen.

Sosialisasi dan pengawasan pengelolaan pakan (pembuatan, penyimpanan dll) kepada peternak harus sering dilakukan, sehingga peluang kondisi pengelolaan pakan ternak yang buruk menjadi kecil, dan pada akhirnya produk susunya aman terhadap cemaran aflatoksin.

Baturraden, 25 Juli 2017

Read more

Perencanaan Usaha Sapi Perah.

Sektor peternakan merupakan sektor yang memiliki peluang sangat besar untuk dikembangkan sebagai sebuah usaha dimasa depan. Kesadaran masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi pangan hewani mengakibatkan permintaan terhadap produk-produk hewani seperti susu, telur, dan daging menjadi meningkat. Pengembangan subsektor peternakan khususnya ternak perah sangat potensial. Peluang meningkatkan produksi susu masih cukup besar, baik melalui peningkatan populasi dan produktivitas ternak maupun diversifikasi sumber susu. Salah satu ternak perah yang potensial untuk dikembangkan adalah sapi perah

Usaha agribisnis mempunyai kontribusi besar bagi pembangunan di Indonesia. Perencanaan adalah hal yang sangat penting dalam memulai usaha Peternakan. Perencanaan usaha akan membantu kita dalam melangkah dan membuat keputusan. Sapi perah merupakan salah satu sumberdaya lokal yang penyebarannya sangat luas di Jawa. Pemeliharaan sapi perah merupakan salah satu usaha untuk upaya pemenuhan kebutuhan susu di Indonesia.

Pemeliharaan sapi perah merupakan salah satu alternatif diversifikasi ternak penghasil susu  sebagai upaya pemenuhan kebutuhan susu di Indonesia. Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa susu  sangat digemari. Adanya peluang bisnis dari meningkatnya permintaan susu sapi dan harga susu sapi yang cukup merakyat menyebabkan banyak orang tertarik untuk membudidayakan sapi perah. Di masyarakat, usaha ternak sapi perah diusahakan dalam skala yang berbeda-beda. Oleh karena itu, dalam merencanakan dan mengembangkan usaha ternak sapi perah, maka keputusan mengenai skala usaha menjadi sangat penting. Jennes (1980) Bertitik tolak dari hal tersebut maka kajian mengenai skala usaha ternak sapi perah, dalam hal ini dikhususkan pada sapi perah FH, menjadi hal yang sangat menarik. Untuk kajian lebih mendalam, silahkan klik link ini. Didalamnya akan dibahas secara rinci mengenai Usaha Peternakan Sapi Perah.(Drh Hendriyatno KN)

Read more

Apa Sih Rumput Odot Itu

Apa sih Rumput Odot itu?

(Oleh :Agung Saputra, S.Pt)

Kemajuan dunia peternakan saat ini diikuti pula dengan perkembangan teknologi di dunia peternakan. Termasuk juga dengan penyedian pakan, seiring dengan kemajuan zaman, alternatif penyediaan pakan yang kontinyu, berkualitas dan murah menjadi kebutuhan yang tak terelakkan lagi. Apalagi Indonesia sebagai negara agraris yang terkenal dengan kontur alam yang sangat mudah untuk bercocok tanam oleh karena ada salah satu ungkapan yang sangat terkanal yaitu “tongkat batu dan kayu jadi tanaman” yang menjadi keunggulan bangsa ini.

Pakan merupakan salah satu faktor penting penunjang keberhasilan dunia peternakan di samping bibit dan manajemen pemeliharaanya. Dalam salah satu literatur, Hartanto (2008), menyebutkan bahwa kebutuhan pakan menjadi aspek penting dalam mengembangakan usaha peternakan bahkan 70 persen total biaya produksi dikeluarkan untuk biaya pakan. Kualitas dan kuantitas menjadi faktor utama dalam pemberian pakan guna menunjang pertumbuhan bobot badan yang maksimal atau produksi susu yang tinggi dalam usaha ternak perah. Sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan, BBPTUHPT Baturraden juga ikut mengembangkan penyediaan pakan yang kontinyu, berkualitas dan murah, terutama yang berupa hijauan. Rumput  odot merupakan salah satu jenis rumput yang memenuhi kriteria sebagai salah satu hijauan yang jika dikembangkan dengan maximal bisa sebagai sumber hijauan yang ketersediannya bisa kontinyu, berkualitas dan murah. Rumput jenis ini yang sedang dikembangkan dan dibudidayakan di BBPTUHPT Baturraden saat ini.

Rumput odot merupakan salah satu varietas  rumput gajah (Pennisetum purpureum), sering dikenal dengan sebutan Dwarf Elephant Grass atau Mott Elephant Grass di luar negeri, tanaman ini mampu tumbuh pada saat musim kemarau dengan tanah yang tingkat kesuburannya rendah. Rumput jenis ini pertama kali ditemukan oleh Dr.W. Hanna di Georgia, USA kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Dr. Mott dan koleganya di Florida, USA. Di Indonesia sendiri, cikal bakal rumput ini dikembangkan pada tahun 2007 oleh tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Kanada yang kemudian dikembangkan di seluruh Indonesia.

Produksi yang cukup tinggi menjadi keunggulan tersendiri bagi rumput odot, terlebih pada musim penghujan batang rumput odot terasa lebih lunak sehingga sangat digemari oleh kambing dan domba. Keunggulan lain dari rumput odot adalah jumlah nutrisi yang cukup tinggi dibanding rumput Gajah, sebagai ilustrasi jumlah protein kasar yang ada dalam daun rumput odot mencapai 12-14% bahkan ada yang mencapai angka 17 %, disamping itu tingkat kecernaan rumput odot mencapau 65-70%. Pada musim penghujan, interval pemotongan pad antara 30 sampai 40 dengan jumlah anakan rumput odot mencapai 20 anakan pada setiap 2x masa panen.

Perkembangbiakan rumput odot dapat dilakukan dengan metode vegetatif, yaitu dengan menggunakan percabangan yang tumbuhnya paling baik. Pemotongan pada cabang-cabang tersebut dilakukan dengan alat yang tajam untuk menghindari luka pada batang, pemotongan dilakukan pada batang yang akan menjadi bahan tanaman/stek dengan panjang kurang lebih 30 cm.

Rumput odot dapat ditanam dengan menggunakan dua pola. Pertama adalah monokultur dimana dalam suatu lahan hanya ditanami oleh tanaman odot saja. Pola tanam yang kedua adalah dengan menanamnya di sela-sela tanaman lain. Jarak tanaman antar barisan adalah sekitar 50-75  cm. Pada setiap bedengan tanah yang akan ditanam odot, dapat ditanam 2 atau 3 stek.

Rumput odot dipanen pertama kali  pada umur 70-80 hari. Beberapa ciri yang bisa diamati saat rumput odot siap panen adalah saat ruas batang sudah mencapai ukuruan 15 cm. Untuk umur panen selanjutya bisa 35 – 45 hari pada musim penghujan atau 40-50 hari pada musim kemarau.(Agung)

Reference ;

Hartanto. 2008. Estimasi Konsumsi Bahan kering, Protein Kasar, Total Digestible Nutriens dan Sisa Pakan pada Sapi Peranakan Simmental. Agromedia 26 (2). Hal: 34-43

 

 

 

 

 

 

 

 

Read more

Wisata Edukasi Sapi Perah di BBPTUHPT Baturraden

EDUWISATA PROF.DR. HUTASOIT

Wisata Edukasi Sapi Perah di BBPTUHPT Baturraden

BBPTUHPT BATURRADEN telah memiliki sarana edukasi bagi masyarakat khususnya peternak dan pelajar dari tingkat anak usia dini, TK, SD, SMP, dan SMA/SMK peternakan, dan Universitas. Sarana edukasi tersebut bernama EDUWISATA Prof.Dr.J.H. Hutasoit. Sejak berdirinya EDUWISATA Prof.Dr.J.H. Hutasoit  sudah cukup banyak kunjungan dari pendidikan dan peternak menimba ilmu tentang sapi perah. EDUWISATA Prof.Dr.J.H. Hutasoit memiliki sarana mini farm sapi perah, sehingga peternak dan pelajar/tamu dapat berkontak langsung dengan hewan ternak mempraktekkan proses pemerahan susu sapi. Pengunjung contohnya pelajar memperoleh pengetahuan dari mana asal makanan dan minuman yang mereka konsumsi, susu yang mereka minum. Dengan melihat langsung cara memerah, bagaimana sapi sebelum diperah, hingga menjadi susu, diharapkan nantinya pelajar akan lebih menghargai dengan apa yang mereka minum dan makan.

Jika pengunjung/pelajar tidak langsung melihat dan mengamati objek hewan yang dipelajarinya, teori yang diberikan tidak akan secara maksimal dipahami. Maka dengan memberikan praktek secara langsung yang dipelajari sesuai dengan teori yang didapatkan.

EDUWISATA Prof.Dr.J.H. Hutasoit merupakan sarana tempat eduwisata yang tepat memiliki Mini Farm sapi dengan dilengkapi outlet penjualan susu murni sapi dan kambing, susu cup, dan susu kefir bagi pengunjung dengan harga yang terjangkau. EDUWISATA Prof.Dr.J.H. Hutasoit juga memiliki instruktur berpengalaman dalam memerah, sehingga dalam prakteknya pengunjung dapat memerah susu sapi secara aman.

Selain untuk kunjungan EDUWISATA Prof.Dr.J.H. Hutasoit untuk umum juga  dipergunakan untuk acara pertemuan atau acara resepsi lainnya. Penggunaan fasilitas EDUWISATA Prof.Dr.J.H. Hutasoit dapat menghubungi seksi pemasaran atau customer service atau permohonan via email/fax BBPTUHPT Baturraden.

Read more

Pakan Ternak Kambing

Hijauan Pakan Ternak (HPT) merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi peternakan kambing. tanpa ketersediaan pakan yang baik, niscaya ternak kambing yang kita pelihara tidak berproduksi secara optimal, karena makanan yang diberikan ke ternak kambing tidak dapat tersedia secara tetap. Oleh karena itu, diperlukan suatu cara yang tepat untuk mengatur agar supaya HPT yang diperlukan oleh ternak kambing tidak terganggu pengadaannya.

Ada beberapa macam hijauan pakan ternak yang layak dan disukai oleh kambing antara lain.

  1. Rumput gajah mini /Pennisetum purpureum cv.Mott, Rumput gajah mini atau yang biasa disebut rumput Odot ini konon berasal dari Kanada , batang yang lunak sehingga mudah dimakan ternak daun dan batang tidak berbulu, tumbuh tegak, dan produksi  cukup tinggi,.Panen pertama pada rumput gajah mini dapat di lakukan pada umur 65 hari selanjutnya setiap 50 hari sekali.Tinggi pemotongan dari permukaan tanah antara 5-10 Alangkah lebih baik kalau sehabis pemanenan rumput gajah mini diberi pupuk, pupuk dapat berupa pupuk kimia (urea, npk, tsp/kcl) ataupun pupuk alami (kotoran ternak). Sehingga pertumbuhan rumput itu akan semakin bagus dikemudian hari.
  2. Rumput Setaria, sering juga disebut sebagai rumput setaria Lampung. Rumput setaria tumbuh tegak, berumpun lebat, tinggi dapat mencapai 2 m, berdaun halus dan lebar berwarna hijau gelap, berbatang lunak dengan warna merah keungu-unguan, pangkal batang pipih, dan pelepah daun pada pangkal batang tersusun seperti kipas.Rumput setaria sangat cocok di tanam di tanah yang mempunyai ketinggian 1200 m dpl, dengan curah hujan tahunan 750 mm atau lebih, dapat tumbuh di berbagai jenis tanah, dan tahan terhadap genangan air. Pembiakan dapat di lakukan dengan memisahkan rumpun dan menanamnya dengan jarak 60 x 60 cm. Pemupukan di lakukan pada tanaman berumur kurang lebih dua minggu, dengan pupuk urea 100 kg/hektar lahan, dan sebulan sekali di tambah dengan 100 kg urea/hektar. Produksi hijauan rumput setaria dapat mencapai 100 ton rumput segar/hektar/tahun.
  3. Indigovera sp, tanaman ini tergolong tanaman leguminosa kelompok kacang-kacangan sifat khusus dari tanaman indigofera bisa tumbuh pada tanah yang kurang subur dan tahan terhadap kemarau panjang pertumbuhannya yang begitu cepat pada umur 12 bulan tanaman indigofera ini bisa mencapai 2 meter berbunga berwarna ungu. Daun Indigofera merupakan hijauan makanan ternak yang sangat potensial, dengan kandungan protein yang tinggi 21-24 %.
  4. Kaliandra, tinggi tanaman kaliandra dapat mencapai 8 m. tanaman kaliandra dapat tumbuh di dataran rendah hingga ketinggian 1500 m dpl, toleran terhadap tanah yang kurang subur, dapat tumbuh cepat dan berbintil akar sehingga mampu menahan erosi tanah dan air. manfaat kaliandra pada makanan ternak adalah sebagai sumber protein. Penanaman Kaliandra pada tanah-tanah yang kurang produktif dapat menekan pertumbuhan gulma. Selain itu tanaman ini dapat digunakan sebagai tanaman penahan erosi dan penyubur tanah. Daun kaliandra mudah dikeringkan dan dapat dibuat sebagai tepung makanan ternak kambing.

Ada baiknya sewaktu pemberian makanan kepada ternak kambing di berikan secara campur. Hal ini bertujuan agar kandungan yang berada di dalam masing-masing tanaman dapat saling melengkapi, sehingga kambing akan merasa tercukupi kandungan gizi maupun proteinnya. Selain itu juga akan meminimalkan kambing merasa bosan makan apabila di sajikan dalam satu jenis tanaman saja secara berulang-ulang.

Kambing akan memilih daun yang dia paling sukai terlebih dahulu, setelah daunan yang disukainya habis, maka kambing baru akan menyantap rumputan jenis yang lain.

                                                                                                            Pengawas Bibit Ternak,

                                                                                                            Toman B Siagian,S.Pt

 

Read more

Penyakit “Milk Fever“ Pada Sapi Perah

Metabolisme adalah suatu proses pembentukan dan penguraian zat- zat yang diperlukan oleh tubuh agar dapat menjalankan fungsinya dengan baik.  Bila terjadi gangguan dalam proses metabolisme maka akan membawa dampak yang  signifikan terhadap kesehatan ternak.

Perubahan fisiologis dari bunting, partus, dan laktasi merupakan perubahan yang berat bagi sapi perah karena banyak perubahan hormonal yang terjadi pada saat itu.  Jika terjadi ketidakseimbangan antara asupan pakan  terhadap sekresi untuk menjaga proses kebuntingan dan laktasi  maka dapat menimbulkan penyakit metabolik (gangguan metabolisme), oleh karena itu  penyakit tersebut sering ditemukan pada sapi perah yang baru melahirkan terutama pada sapi –sapi yang berproduksi susu tinggi.

Salah satu penyakit yang disebabkan oleh gangguan metabolisme pada sapi perah adalah milk fever . Penyakit ini ditandai dengan penurunan kadar kalsium (Ca) dalam darah menjadi kurang dari 5 mg/dl  padahal  normalnya kadar Ca dalam darah adalah 9-12 mg/dl. Menurut Subronto (2003), kejadian paling banyak (90 %) adalah ditemukan dalam 48 jam setelah sapi perah melahirkan. Kejadian meningkat seiring bertambahnya umur, karena sapi tua penyerapan Ca-nya menurun sehingga cadangan Ca semakin rendah. Milk Fever biasanya terjadi pada sapi perah  yang sudah laktasi lebih dari 3 kali. Pada saat sapi laktasi, Ca susu berasal dari Ca darah disuplai ke dalam ambing, karena peranan kalsium dalam tubuh sangat penting untuk proses pembentukan tulang, kontraksi otot, pembekuan darah dan lain-lain, maka kadar Ca darah yang hilang setelah disuplai ke dalam ambing dan dikeluarkan dari lewat air susu, dipertahankan (homeostatis) dengan suatu mekanisme metabolisme Ca. Bila terjadi kegagalan dalam homeostatis kalsium maka terjadilah penyakit milk fever.

Menurut DeGaris & Lean (2008), homeostasis kalsium dalam darah diatur oleh kalsitonin, hormon paratiroid (parathormon) dan vitamin D3. Pemberian pakan tinggi kalsium pada periode kering dapat merangsang pelepasan kalsitonin dari sel-sel parafolikuler kelenjar tiroid, sehingga menghambat penyerapan Ca dalam tulang oleh parathormon. Hiperkalsemia (tingginya kadar kalsium dalam darah) akan menghambat sekresi parathormon dan merangsang sekresi (pengeluaran) kalsitonin. Kalsitonin ini dapat menurunkan konsentrasi Ca darah dengan cara mengakselerasi penyerapan oleh tulang (Goff 2006). Kejadian ini cenderung mengakibatkan kegagalan homeostatis kalsium pada awal partus dan laktasi.

Gejala Klinis

Menurut Champness & Hamilton (2007), gejala awal yang ditemui yaitu sapi masih berbaring, nafsu makan turun, kurang peka terhadap lingkungan, cermin hidung kering, tremor pada otot, suhu tubuh rendah, kaki belakang lemah dan terjadi penimbunan gas di dalam rumen. Bila kondisi semakin parah, biasanya sapi hanya mampu bertahan 6 – 24 jam. Angka kesembuhannya cukup baik dan tingkat mortalitas kurang dari 2-3 % apabila segera diketahui dan diberi pertolongan.

Subronto (2003) mengatakan bahwa gambaran klinis milk fever yang dapat diamati tergantung pada tingkat dan kecepatan penurunan kadar kalsium di dalam darah. Ada 3 stadium gambaran klinis yaitu :

1.Stadium prodomal (stadium 1)- serum Ca 6.5 – 8.0 mg/d.Pada stadium ini penderita menjadi gelisah dengan ekspresi muka yang tampak  beringas. Nafsu makan dan pengeluaran kemih serta tinja terhenti. Meskipun ada usaha untuk  berak akan tetapi usaha tersebut tidak berhasil. Sapi mudah mengalami rangsangan dari luar dan bersifat hipersensitif. Otot-otot kepala maupun kaki tampak gemetar (tremor). Bila milk fever juga dibarengi dengan penurunan kadar magnesium yang cukup berat akan terlihatstadium tetanik yang panjang. Waktu berdiri hewan tampak kaku, tonus otot-otot alat gerak meningkat, dan bila bergerak tampak inkoordinasi. Penderita melangkah dengan berat,hingga terlihat hati-hati dan bila dipaksa akan jatuh. Bila telah jatuh usaha untuk bangundilakukan dengan susah payah, dan mungkin tidak akan berhasil.

2.Stadium berbaring / recumbent (stadium 2)- serum Ca 4.0 – 6.0 mg/d. Pada stadium ini sapi penderita milk fever dilaporkan sudah tidak mampu untuk  berdiri, berbaring pada sternumnya, dengan kepala yang mengarah kebelakang, sehingga dari belakang seperti membentuk huruf “S”. Karena dehidrasi, kulit tampak kering, nampak lesu, pupil mata normal atau membesar, dan tanggapan terhadap rangsangan sinar jadi lambat atauhilang sama sekali. Tanggapan terhadap rangsangan rasa sakit juga berkurang, otot-otot jadikendor, spingter ani mengalami relaksasi, sedangkan dan nafsu makan pun hilang, dan penderita semakin bertambah lesu. reflek anal menghilang, dengan rectumyang berisi tinja kering atau setengah kering. Pada awal stadium ini penderita masih mau makan dan masih mengalami proses ruminasi, meskipun intensitasnya berkurang, tetapi masih masih dapat terlihat. Pada tingkat selanjutnya proses ruminasi hilang dan nafsu makan pun hilang ,dan penderita semakin bertambah lesu. Gangguan sirkulasi yang mengikuti akan terlihat sebagai pulsus yang frekuen dan lemah, rabaan pada alat gerak terasa dingin dan suhu rektal bersifat subnormal.

3.Stadium koma (stadium 3). Penderita tampak sangat lemah, tidak mampu bangun, dan berbaring pada salah satusisinya (lateral recumbency). Kelemahan otot-otot rumen akan segera diikuti dengnankembung rumen. Gangguan sirkulasi sangat meencolok, pulsus menjadi lemah (120x/menit), dan suhu tubuh turun dibawah normal. Pupil melebar dan reflek terhadap sinar menghilang.Stadium koma kebanyakan diakhiri dengan kematian, meskipun pengobatan konvensional telah dilakukan.

Faktor – faktor predisposisi yang mempengaruhi terjadinya milk fever menurut Payne (1989) antara lain  :

  • Tingkat Produksi susu. Sapi-sapi dengan produksi susu tinggi lebih rentan terhadap penyakit milk fever . Peningkatan produksi susu akan menyebabkan meningkatnya metabolisme kalsium dan meningkatkan kalsium ke air susu, bila terjadi kegagalan homeostatis kalsium maka dapat menyebabkan milk fever.
  • Umur sapi. Bertambahnya umur pada seekor sapi akan menurunkan tingkat metabolisme umum. Kapasitas penyerapan kalsium mengalami penurunan, cadangan kalsiumnya berkurang sehingga sapi-sapi tua beresiko tinggi terhadap milk fever.
  • Asupan (intake) diet Ca sebelum kelahiran. Asupan Ca tidak boleh berlebihan selama periode kering kandang karena intake Ca yang berlebihan dapat merangsang C-thyroid untuk mensekresi kalsitonin. Kalsitonin akan aktif karena sapi terlalu banyak mengkonsumsi Ca. Oleh karena itu, diet Ca tinggi merupakan penyebab utama terpengaruhnya metabolisme mineral oleh kalsitonin.
  • Ransum pakan. Pakan sapi terdiri dari hijauan dan konsentrat dan harus seimbang Ca:P = 1:1

Dampak penyakit Milk Fever terhadap respon kekebalan dan penyakit lain

  1. Hubungan milk fever dengan mastitis

Sapi penderita milk fever rentan terhadap penyakit mastitis karena milk fever menyebabkan kesulitan dalan kontraksi otot, termasuk juga otot-otot lubang puting. Sphincter lubang puting tersusun dari otot-otot polos. Kontraksi otot-otot polos tersebut akan menyebabkan lubang puting menutup. Jika terjadi milk fever maka akan terjadi penurunan kekuatan dan laju kontraksi otot polos tersebut dan pada akhirnya akan menyebabkan gangguan penutupan lubang puting padahal setelah proses pemerahan lubang puting akan terbuka dan semakin lebar bila sapi tersebut produksi susunya tinggi. Sementara penderita milk fever cenderung untuk rebah karena tidak mampu menopang berat badannya, karena kelemahan kontraksi otot-otot tubuhnya. Terbukanya lubang puting dan kecenderungan sapi rebah akan meningkatkan kemungkinan masuknya bakteri melalui lubang puting yang menjadi dasar proses kejadian mastitis. Menurut Kehrli, Jr. and Goff (1989), pada sapi penderita milk fever neutrofil dan limfosit perifer mengalami penurunan fungsi kekebalan pada sapi penderita milk fever, sehingga dengan demikian dapat meningkatkan resiko mastitis. Beberapa penelitian menyatakan bahwa risiko matitis meningkat 8 kali pada sapi penderita milk fever.

  1. Hubungan milk fever dengan fertilitas

Berdasarkan penelitian, milk fever diduga menurunkan fertilitas sapi perah. Hal ini akibat peran kalsium pada organ reproduksi, dimana pada penderita milk fever terjadi gangguan fungsi otot uterus, adanya perlambatan involusi uterus (Borberry and Dobson, 1989) serta adanya perlambatan aliran darah uterus (Johnson dan Daniel, 1997). Penelitian Whiteford and Sheldon (2005) juga melihat adanya penurunan gambaran corpus luteum, hal mana mengindikasikan terjadinya penurunan ovulasi setelah proses kelahiran. Pada sapi penderita milk fever terjadi peningkatan service per conception, calving to service interval, serta calving to service conception.

PENGOBATAN DAN PENCEGAHAN MILK FEVER

  1. Pengobatan

Pada prinsipnya pengobatan milk fever diarahkan untuk mengembalikan Ca dalam darah pada kondisi normal tanpa penundaan serta mencegah terjadinya kerusakan otot dan syaraf akibat hewan berbaring terlalu lama. Pengobatan yang dilakukan untuk penyakit metabolik  “milk fever” antara lain dengan :

  1. Larutan Kalsium boroglukonat 20-30% sebanyak 1:1 terhadap berat badan diberikan melalui injeksi secara intravena jugularis atau vena mammaria selama 10-15 menit dan dapat dibarengi dengan pemberian secara subkutan. Biasanya pada kasus lapangan’ milk fever’ merupakan penyakit kompleks, oleh karena itu larutan Kalsium boroglukonat dapat ditambah magnesium atau dektrosa.
  2. Larutan kalsium khlorida 10% disuntikkan secara intra vena, pemberian yang terlalu banyak atau terlalu cepat dapat mengakibatkan heart block.
  3. Campuran berbagai sediaan kalsium seperti Calphon Forte, Calfosal atau Calcitad-50

  1. Pencegahan

Kasus milk fever biasanya tinggi pada kelahiran musim hujan (basah) dan kondisi hijauan pakan ternak yang basah. Hal tersebut karena rumput mengandung Ca yang tinggi dan magnesium yang rendah dan selama kelahiran biasanya terjadi periode statis lambung yang menyebabkan kemampuan sapi dalam mengabsorbsi Ca berkurang.

Oleh karena itu strategi pencegahan milk fever dilakukan antara lain dengan :

  1. Menghindari pemberian rumput yang basah selama musim hujan tiga minggu masa kebuntingan terakhir.
  2. Memberikan asupan kalsium rendah selama masa kering kandang, diet magnesium dan fosfor yang cukup, diet yang mudah tercerna, dan hindari pemberian pakan yang berlebihan sebelum melahirkan serta pemberian hay atau silase.
  3. Memberikan derivat vitamin D melalui injeksi, campuran vitamin D dengan 100-500 g Ca khlorida melalui pakan atau air minum selama 4-5 hari sebelum melahirkan
  4. Pada induk yang pernah terkena milk fever diberikan 400 ml 20 % larutan Ca (rendah magnesium dan fosfor) secara subkutan segera setelah melahirkan (Drh. Tri Ratna Nugraheni)
Read more

Pemotongan Kuku Sapi

Perawatan kuku pada sapi perah sangat perlu dilakukan terutama pada sapi yang terus menerus dipelihara di dalam kandang atau yang kurang exercise.  Sapi-sapi yang teratur digembalakan, kukunya akan lebih sehat dibandingkan dengan sapi yang tidak pernah digembalakan.   Sapi  yang kurang gerak menyebabkan kuku tumbuh membengkok atau melebar ke atas.

Kuku sapi merupakan bagian tubuh yang sangat penting karena dipergunakan untuk menopang berat badan, untuk berjalan dan lain- lain. Apabila kuku dalam keadaan sakit, maka akan mengganggu pergerakan sapi dan akhirnya dapat menurunkan produksi dan produktivitas sapi  itu sendiri.

Guna menjaga kedudukan kuku yang serasi sebaiknya pemotongan kuku dilakukan secara rutin setiap 3 bulan sekali

Alat untuk memotong kuku antara lain : Hoof trimer, Claw Cutter Sheep, Claw Cutter Hoof Rasp (FHK), Hoof dan Sickle (FHK). Apabila tidak terdapat alat pemotong khusus, pemotongan kuku dapat dilakukan dengan pahat, kikir, palu atau tang penggunting (kakatua) yang tajam

 Kuku yang tidak dipelihara dapat berakibat  :

– Kedudukan tulang racak menjadi salah yang menimbulkan titik jatuh hewan berada pada teracak bagian belakang.

– Bentuk punggungnya seperti   busur
– Mudah terkena penyakit kuku (foot rot)
– Sapi menjadi pincang

Pemotongan kuku sebaiknya dimulai dari kaki depan terlebih dahulu. Setelah selesai baru

dilanjutkan pada kedua kaki bagian belakang. Sebelumnya kuku tersebut dibersihkan dari kotoran yang melekat dengan menggunakan pisau kuku sehingga keadaan anatomis kuku akan cepat terlihat dan tampak batas-batas kuku yang harus dipotong

Sapi yang akan dipotong kukunya dimasukkan  ke kandang jepit, kemudian sapi yang akan dipotong kukunya  diangkat dan dilipatkan ke belakang. Untuk memudahkan pemotongan , bagian teracak sapi tersebut sebaiknya  diganjal dengan balok kayu sehingga kuku dapat ditekankan pada balok kayu tersebut selama pemotongan.

Cara pemotongan kuku sapi adalah sebagai berikut :

  • Kuku dipotong dengan alat pemotong melingkar sekeliling kuku dari belahan kuku depan mengarah ke belakang. Pemotongan tidak boleh melewati garis putih (white line) kuku karena akan banyak pembuluh darah dan syaraf yang dilukai sehingga dapat menimbulkan pendarahan.
  • Pemotongan kuku cukup dengan menghilangkan bagian- bagian yang abnormal saja
  • Setelah dipotong bagian- bagian kuku tersebut di kikir agar lebih halus dan indah, selanjutnya diolesi dengan iodium tincture atau formaldehyde
    (Subiakti, S.Pt)
Read more