Bahaya Cemaran Aflatoksin Pada Pakan Ternak Terhadap Ternak dan Manusia

BAHAYA CEMARAN AFLATOKSIN PADA PAKAN TERNAK

TERHADAP TERNAK DAN MANUSIA

Putut Budiono

Medik Veteriner Madya

Pendahuluan

Aflatoksin adalah mikotoksin yang dihasilkan oleh fungi Aspergillus sp. ; merupakan senyawa yang lebih stabil dan tahan terhadap proses pengolahan makanan. Aspergillus flavus sebagai penghasil aflatoxin B1 banyak diperoleh di daerah tropis yang panas dan lembab ; jamur/fungi ini mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada suhu 27-40⁰C dan kelembaban relatif 85%. Aflatoksin B1 yang termakan oleh ternak, akan dimetabolime menjadi aflatoksin M1 yang terdeposisi dalam daging, susu dan telur.

Aflatoksin, terutama aflatoksin B, merupakan aflatoksin yang paling toksik ; aflatoksin ini termasuk golongan senyawa yang bersifat karsinogenik, genotoksik, hepatotoksik pada manusia. Pada hewan bersifat nefrotoksik menyebabkan gangguan fungsi terhadap metabolisme, absorbsi lemak, penyerapan unsur mineral, dan juga menyebabkan perdarahan, memar, kerusakan kromosom dan kegagalan program vaksinasi ; dan selain itu aflatoksin bersifat imunosupresif yang mengakibatkan penurunan kekebalan tubuh.

Keracunan ternak akibat mengkonsumsi pakan yang tercemar aflatoksin dapat dicegah antara lain dengan melakukan pemilihan bahan pakan yang baik dan tidak berjamur, mengelola area penyimpanan pakan agar tidak lembab, melakukan monitoring secara periodik terhadap kadar aflatoksin baik dalam pakan maupun produk ternaknya. Ambang batas maksimal cemaran aflatoksin yang ditolelir berada di dalam makanan adalah sebesar 20 ppt, sedangkan ambang batas cemaran aflatoksin yang terdeposisi dalam air susu maksimal sebesar 0,5 ppt.

Tinjauan Pustaka

Aspergillus flavus (penghasil aflatoksin B1) dan Aspergillus parasiticus (penghasil aflatoksin B1 dan G1) merupakan fungi/jamur yang dikenal sebagai penghasil aflatoksin cukup besar (Barbiroli et al.2017). Di daerah tropis, jamur yang paling berperanan menghasilkan aflatoksin adalah Aspergillus flavus. Apabila aflatoksin B1 dikonsumsi oleh sapi, maka di dalam hati sapi aflatoksin B1 akan dimetabolisme oleh enzim hepatic microsomal cytochrome P450 menjadi aflatoksin M1 yang akan diekskresikan bersama air susu (Battacone et al.2009 ; Prandini et al.2007)

Aspergillus sp yang menghasilkan aflatoksin, banyak mencemari produk pertanian adalah kacang-kacangan, jagung, beras, gandum, biji kapas dan biji-bijian lainnya (Diener dan Davis, 1969). Adanya cemaran aflatoksin, khususnya aflatoksin B1 dalam pakan ternak, selain membahayakan kesehatan ternak, juga menimbulkan residu aflatoksin beserta metabolitnya seperti aflatoksin M1, aflatoksikol, aflatoksin Q1 maupun aflatoksin P1 yang terdeposit pada daging, susu dan telur (Diaz & Murcia, 2011).

Aflatoksin bersifat karsinogenik (penyebab kanker),  mutagenik dan  immuno suppressive (IARC 1987). Oleh karena itu, aflatoksin termasuk golongan karsinogen kelas 1 terhadap manusia (IARC 1993), serta mempunyai predikat sebagai hepatotoxic, carcinotoxic dan teratogenic (Keenan dan Savage 1994). Aflatoksin B1 dan M1  merupakan toksin yang mendapat  perhatian utama karena toksisitasnya terhadap hewan dan manusia (Bhatnagar  et al. 2006).

Pada ternak ruminansia, cemaran aflatoksin dapat mengakibatkan penurunan berat badan ; penurunan berat badan ini signifikan dengan besarnya cemaran pada ternak tersebut (Dass dan Arora, 1994). Tercemarnya pakan ternak oleh Aspergillus sp dengan aflatoksin yang dihasilkannya, dapat mengganggu fungsi-fungsi metabolisme, absorbsi lemak, penyerapan unsur mineral (Cu, Fe, Ca, P, beta-karoten), dan juga menyebabkan penurunan kekebalan tubuh, kegagalan program vaksinasi, kerusakan kromosom, perdarahan, dan memar . Semua gangguan tersebut akan berakibat terhambatnya pertumbuhan dan meningkatnya kematian ternak, sehingga produksi ternak menurun (Jassar dan Balwant Singh, 1989 ; Abdelhamid dan Dorra, 1990 ; Dimri et al.1994 ; Mani et al.2001 ; Prabaharan et al.1999) .

Pembahasan

Alflatoksin M1 merupakan hasil metabolisme di hati sapi terhadap aflatoksin B1 yang mencemari bahan pakan ternak. Bagi peternak yang lokasi usahanya berada di daerah yang lembab perlu kehati-hatian yang lebih terhadap kemungkinan terjadinya cemaran jamur Aspergillus flavus, terutama dalam manajemen pengelolaan pakan ternaknya. Tata laksana pengelolaan pakan, terutama pakan konsentrat yang sebagian besar berupa material asal biji-bijian, perlu kecermatan mulai dari pemilihan kualitas bahan baku pakan, proses pengiriman bahan pakan, pengolahan dan penggudangannya. Bahan baku pakan yang kurang kering, tata gudang yang lembab, sirkulasi udara tidak sempurna sangat berpotensi terjadinya pencemaran jamur Aspergillus sp sebagai penghasil aflatoksin, yang pada akhirnya menjadikan pakan ternak bermasalah.

Keberadaan aflatoksin M1 dalam jumlah besar di air susu sapi (melebihi ambang batas yang ditolelir, yaitu 0,5 ppt), merupakan kondisi yang sangat membahayakan bagi manusia yang mengkonsumsinya, karena aflatoksin mempunyai sifat karsinogenik, hepatotoksik dan genotoksik pada manusia.

Sedangkan keberadaan aflatoksin B1 pada pakan ternak (diindikasikan tingginya aflatoksin M1 yang merupakan metabolit aflatoksin B1 dari pakan ternak) menimbulkan masalah pada ternak yang mengkonsumsinya, karena bersifat nefrotoksik yang mengakibatkan gangguan metabolisme, gangguan absorbsi lemak, gangguan penyerapan unsur mineral, juga mengakibatkan terjadinya perdarahan, memar dll. Selain itu aflatoksin B1 pada ternak bersifat immunosupresif yang dapat mengakibatkan penurunan terhadap kekebalan tubuh terhadap berbagai penyakit.

Kesimpulan  

  1. Aspergillus sp, sebagai jamur penghasil aflatoksin B1 mudah tumbuh di media yang lembab
  2. Aflatoksin B1 pada ternak sapi bersifat
  3. Nefrotoksik, menyebabkan gangguan : metabolisme, absorbsi lemak, penyerapan unsur mineral (Cu, Fe, Ca, P, beta-karoten), juga perdarahan dan memar.
  4. Imunosupresif, menyebabkan penurunan fungsi kekebalan tubuh, mengakibatkan pertumbuhan terhambat, kematian meningkat, dan produksi menurun.
  5. Aflatoksin M1, merupakan hasil metabolisme aflatoksin B1, pada ruminansia diekskresikan melalui air susu, mempunyai sifat karsinogenik, genotoksik, hepatotoksik pada manusia.
  6. Dikarenakan sifatnya, cemaran aflatoksin sangat berbahaya bagi manusia maupun ternak.

Penutup

Dalam upaya mengembangkan aspek persusuan di Indonesia, yang produk dasarnya berasal dari produk sapi perah, soal keselamatan konsumen sudah harus mendapatkan perhatian. Usaha sapi perah di Indonesia yang sebagian besar di tangan masyarakat menengah ke bawah, masalah penanganan dan penyimpanan pakan ternak, dikaitkan dengan efek cemaran aflatoksin menjadi titik rawan. Penyimpanan pakan ternak yang benar, kering (tidak lembab) harus menjadi perhatian utama. Kesalahan dalam pengelolaan pakan ternak, maka resiko tercemar aflatoksin menjadi terbuka, dan pada akhirnya produk susunya menjadi tidak sehat bagi konsumen.

Sosialisasi dan pengawasan pengelolaan pakan (pembuatan, penyimpanan dll) kepada peternak harus sering dilakukan, sehingga peluang kondisi pengelolaan pakan ternak yang buruk menjadi kecil, dan pada akhirnya produk susunya aman terhadap cemaran aflatoksin.

Baturraden, 25 Juli 2017

Read more

Pertemuan Harmonisasi Program Kebijakan Siwab Nasional wilayah Regional Sumatera

Dalam upaya meningkatkan populasi sapi, Kementerian Pertanian RI cq.Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, pada tahun 2016 mencanangkan program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab) yang merupakan gerakan nasional sebagai kelanjutan dari kegiatan tahun tahun sebelumnya guna lebih mendorong pertumbuhan kelahiran sapi di Indonesia.

Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BBPTUHPT) Baturraden, mendapat tugas mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan ini untuk wilayah Provinsi Sumatera Utara (27 kab/kota) dan sebagian  Provinsi Jawa Tengah (Kab. Purworejo, Kab. Pekalongan dan Kab. Banjarnegara).

Ditjen PKH mengadakan Pertemuan Harmonisasi Program Kebijakan Siwab Nasional wilayah Regional Sumatera di Hotel Grand Ina Medan tgl 18-20 Juli 2017 memberikan rekomendasi yang harus SEGERA dilaksanakan sbb :

  • PEMBAYARAN BIAYA OPERASIONAL PETUGAS
  • MEMPERCEPAT DAN AKSELERASI KEGIATAN UPSUS SIWAB DI TINGKAT LAPANG
  • KOORDINASI PJ, DINAS PROP,  DINAS KAB/KOTA, PETUGAS LAPANG
  • OPTIMALISASI KEGIATAN
  • PEMANTAPAN SISTEM PELAPORAN (ISIKHNAS)

BBPTUHPT Baturraden ikut berperan aktif dalam mensukseskan program Siwab untuk Propinsi Sumatera Utara. Adapun hasil kinerja Siwab prop. Sumut sbb :

  

(Hery Supriyadi, S.Pt)

 

Read more