Gerakan Obor Pangan Lestari (OPAL), pangan mandiri di rumah kita

Baturraden, Pada tanggal 26 Juli 2019 Kepala BBPTUHPT Baturraden drh.Sintong Haposan MT Hutasoit ,MSi mencanangkan Gerakan Obor Pangan Lestari (OPAL). Bersama seluruh karyawan/karyawati menanam sayurannya dilahan pekarangan BBPTUHPT Baturraden dan kemudian memanennya.

Gerakan OPAL adalah gerakan penanaman sayuran dengan memanfaatkan lahan yang dimiliki di sekitar area perkantoran dengan menanam berbagai komoditas sumber karbohidrat, protein, vitamin dan mineral. Melalui OPAL Kementerian Pertanian mengajak masyarakat dalam hal pemanfaatan lahan pekarangan sebagai sumber pangan dan gizi keluarga.

“OPAL dalam rangka memberikan contoh kepada masyarakat dalam hal pemanfaatan lahan pekarangan sebagai sumber pangan dan gizi keluarga” ungkap Kepala BBPTUHPT Baturraden pada saat memanen sayur bersama.

Gerakan OPAL Kementerian Pertanian mengajak seluruh Unit Kerja Eselon I lingkup Kementerian Pertanian, Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup Kementerian Pertanian, dan Dinas Provinsi, Kabupaten/ Kota yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pertanian dan/atau pangan. Kedepan OPAL ini akan dilaksanakan secara masal dengan melibatkan masyarakat dalam bentuk Gerakan Masyarakat (Germas) OPAL. OPAL diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 10 Tahun 2019 tentang Obor Pangan Lestari Tahun 2019, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 22 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 10
Tahun 2019 tentang Obor Pangan Lestari Tahun 2019. Oleh karena itu, dukungan semua pihak sangat diharapkan untuk suksesnya gerakan OPAL ini.

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0
Read more

Pertemuan Koordinasi Uji Zuriat Sapi Perah Nasional Periode III Tahun 2019

Purwokerto, BBPTUHPT Baturraden menyelenggarakan Pertemuan Koordinasi Uji Zuriat Sapi Perah Nasional Tahun 2019 pada tanggal 25 – 26 Juli 2019 di Hotel Aston Purwokerto. Sambutan Kepala BBPTUHPT Baturraden mewakili Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak dan sekaligus membuka secara resmi kegiatan Pertemuan ini (25/7). Pertemuan koordinasi uji zuriat sapi perah nasional dihadiri Komisi Pertimbangan (Dr. Kurnia Achjadi, MS dan Dr. Chalid Talib), perwakilan Direktorat Perbibitan, Sekretariat ISikhnas, BBIB Singosari, Kepala BBVet Wates (drh. Bagoes Poermadjaja,MSc), BIB Lembang, BET Cipelang, Dinas yang membidangi peternakan Provinsi dan Kabupaten, serta para rekorder KUD/Koperasi Susu.

Dalam sambutan Kepala BBPTUHPT Baturraden : “Uji Zuriat memiliki tujuan yang mulia yaitu untuk meningkatkan mutu genetik sapi perah Indonesia, menghasilkan pejantan unggul sapi perah holstein Indonesia, meningkatkan pelaksanaan sistem pencatatan (rekording) sapi perah dan secara bertahap mengurangi impor pejantan unggul sapi perah” ungkap Kepala BBPTUHPT Baturraden drh. Sintong HMT Hutasoit, MSi. Pelaksanaan kegiatan Uji Zuriat Sapi Perah Nasional yang dimulai dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2018 telah me-launching tiga belas (13) ekor pejantan Unggul (Bullionary, Farrel, Filmore, Formery, Flaunt, Florean, Fokker dan Hostromsy, Goldsy, Perfentvil, Fortuner, SG. Gabe dan SG. Bolton). Sedangkan pada periode III, kegiatan uji zuriat menguji tujuh Calon Pejantan Unggul (CPU) yaitu : Folegan, Glens, Flanggo, Dominggo, Shoty, Flate dan Aris) untuk dapat di launching pada akhir tahun 2020.

Pada tahun 2018 pelaksanaan kegiatan Uji Zuriat Sapi Perah Nasional periode III dilaksanakan pada empat Provinsi. Jumlah alokasi Participated Cow (PC) di ke-empat provinsi tersebut adalah 6.170 ekor, dengan rincian di Jawa Barat 2.240 ekor, Jawa Tengah 1.300 ekor, DIY (Sleman) 600 ekor, dan Jawa Timur sebanyak 2.030 ekor. Kepala BBPTUHPT Baturraden menyampaikan bahwa melalui program Uji Zuriat ini adanya lompatan produksi susu sapi di lokasi pelaksanaan uji zuriat, walaupun pertumbuhan populasi sapi perah di Indonesia tidak terlalu signifikan. Sejak tahun 2004 sampai dengan sekarang terlihat adanya peningkatan produksi susu dari 10,8 liter per ekor per hari dalam 305 hari laktasi (2004) menjadi 12,6 liter per ekor per hari setelah adanya kegiatan ini. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kegiatan Uji Zuriat memberikan kontribusi yang nyata bagi peningkatan kesejahteraan peternak sapi perah di Indonesia. Hal ini merupakan buah kinerja kita semua yang perlu mendapatkan apresiasi.

Namun, perjalanan Uji Zuriat sapi Perah ini masih lama, masih 1,5 tahun menuju launching di 2020. Keberhasilan yang sudah dicapai saat ini merupakan batu loncatan agar produksi sapi perah menjadi lebih baik ke depan. Keberhasilan kegiatan uji zuriat sapi perah nasional sampai tahun 2020 sangat tergantung dari perolehan data yang akurat, baik dan benar yang meliputi catatan IB, pertumbuhan berat badan (PBB), produksi susu DC dan produksi pembandingnya (contemporary comparison). Tantangan terbesar adalah menjaga agar DC dari masing-masing CPU dapat dipertahankan dan tercatat semua produksi susunya sampai akhir tahun 2020. Sehingga, masing-masing yang terlibat hendaklah memahami kunci keberhasilan Uji Zuriat periode III ini, yaitu pemberdayaan rekorder, komitmen peserta uji zuriat, dan komunikasi yang intensif antar instansi terkait.

 

 

 

 

 

Pemberdayaan rekorder di tingkat lapangan sebagai ujung tombak sesuai tugas dan fungsinya perlu diperkuat agar data-data yang diperlukan dapat tersedia dengan baik. Sementara itu, komitmen, konsistensi peserta uji zuriat baik pemerintah dan koperasi perlu dijaga, serta koordinasi dan komunikasi yang intensif antara stakholders terkait, yaitu Ditjen PKH, UPT, Dinas Provinsi, Dinas kabupaten, Koperasi serta swasta perlu dibangun.  Mengakhiri sambutannya, Direktur Perbibitan mengajak kita untuk tingkatkan kontribusi pembangunan peternakan sebagai faktor pengerak ekonomi dan pembangunan daerah dengan meningkatkan keunggulan komparatif dan kompetitif komoditas susu yang kita miliki, dengan demikian akan menjadi sebuah keniscayaan komoditas ternak kita sebagai lumbung pangan dunia di masa mendatang. Momentum acara Koordinasi Nasional Uji Zuriat Periode III ini dapat dijadikan sebagai upaya terus menerus untuk memperjuangkan nasib peternak-peternak agar berkembang usahanya dan sejahtera.

Hasil rumusan pertemuan ini akan ditindaklanjuti dalam pelaksanaan teknis pada masing-masing wilayah di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta.  (Download)

#Ujizuriat #Pertaniankita #peternakanindonesia #pertemuan #BBPTUHPT #KementerianPertanian #bibitunggul #pejantanunggul

 

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0
Read more

Tingkatkan kinerja produksi perbibitan dalam Focus Group Discussion (FGD)

Baturraden, BBPTUHPT Baturraden menyelenggarakan pertemuan Focus Group Discussion (FGD) dengan para pakar peternakan sebagai pendamping UPT BBPTUHPT Baturraden.  Kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka peningkatan kinerja Balai pembibitan ternak unggul BBPTUHPT Baturraden pada tanggal 18-19 Juli 2019 di Ruang Rapat Balai. Kegiatan pada hari I (pertama)  dilakukan dengan kunjungan dan pemantauan lapangan ke farm kambing perah dan sapi perah di Limpakuwus, farm sapi perah Tegalsari, dan farm rearing unit Manggala, Cilongok.

Kepala BBPTUHPT Baturraden Drh.Sintong Haposan MT Hutasoit,MSi membuka acara secara resmi dan sekaligus sambutan atas kehadiran Tim Pakar Pendamping Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan dan peserta FGD. Tim pakar yang hadir dalam FGD ini Dr. Muhammad Imron,SPT, MSi, Prof.Dr. Drh.Bambang Sumiarto,SU,MSc , Dr. Ir. Denie Heriyadi,SU, Sutaryono,SST dan Drh. Deddy Fachrudin.

Para peserta FGD pejabat struktural, koordinator farm dan juga beberapa dari perwakilan pejabat fungsional wastukan, Wasbitnak, Medik Veteriner, dan Paramedik Veteriner. Para pakar memberikan masukan dan saran pertimbangan dari hasil pemantauan dan pengamatan di seluruh Farm Balai ini. Secara garis besar dari Aspek Kesehatan Hewan yakni program manajemen kesehatan hewan perlu memperhatikan program kesehatan serta program pengendalian dan penanggulangan penyakit pada ternak, pencegahan penyakit reproduksi agar lebih memperhatikan pada penyakit leptospira berdampak pada kejadian keguguran. Aspek lainnya aspek perbibitan dan aspek pakan yakni :

  1. BBPTUHPT Baturraden mempunyai tugas dan fungsi untuk memproduksi Bibit Ternak. Produksi susu digunakan untuk mengukur mutu bibit yang dihasilkan.
  2. Penanganan cempe harus dilakukan perubahan manajemen pemeliharaan, yaitu dengan penyapihan/pemisahan dari induk dilakukan setelah 3 bulan.
  3. Untuk menghindari potbelly pada cempe, mulai lahir sampai minggu ke 3 cukup diberikan ASI, kemudian setelah umur 3 minggu diberikan ASI dan dilatih pemberian konsentrat. Setelah  minggu ke 7 diberikan ASI, konsentrat dan dilatih pakan hijauan.

Dari masukan dan saran tersebut dituangkan sebagai rumusan hasil pertemuan FGD untuk acuan seluruh jajaran lingkup Balai dalam meningkatkan kinerja perbibitan dan produksinya. Dan yang tak kalah penting akan meningkatkan Biosecurity Balai karena BBPTUHPT Baturraden telah ditetapkan sebagai wilayah Kompartemen Bebas Brucellossis oleh Menteri Pertanian.

Galeri Kegiatan Lapang Pakar Pendamping Ditjen Peternakan dan Keswan:

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0
Read more