Tingkatkan Kompetensi Kesehatan Ternak melalaui Inhouse Training ” Gangguan Metabolik dan penanganannya pada Sapi Perah”

Baturraden, BBPTUHPT Baturraden menyelenggarakan acara Inhouse Training “Gangguan penyakit metabolik dan penanganannya pada sapi perah” dengan narasumber Prof.Dr.drh. Ida Tjahajati,MS di Training Center Taurus, Ds. Munggasari Baturraden. Acara inhouse Training dibuka secara resmi oleh Kepala BBPTUHPT Baturraden drh. Sintong Haposan MT Hutasoit,MSi. (12/2/2020)

Hadir sebagai peserta inhouse Training ini pejabat struktural, fungsional pengawas bibit ternak, medik Veteriner,paramedik Veteriner, dan pengawas mutu pakan. Dalam pembukaan acara Kepala Balai memberikan sambutan dan arahan seluruh peserta untuk aktif baik pada sesi teori dan praktek sehingga mendapatkan teknis penyelesaian tugasnya di Farm. Dengan meningkatkan kompetensi ini diharapkan kinerja BBPTUHPT Baturraden juga meningkat, karena gangguan Perubahan fisiologi dari bunting, beranak, laktasi, merupakan hal yang sangat berat bagi sapi perah. Banyak terjadi perubahan yang berkaitan dengan proses tersebut akan berdampak sangat signifikan, bila kebutuhan metabolismenya tidak tercukupi dengan baik.

Presentasi narasumber Prof.Dr.drh. Ida Tjahajati,MS menyampaikan bahwa sebagian besar kejadian penyakit metabolik ataupun penyakit peripartus pada sapi perah (milk fever, ketosis, retensi plasenta, displacement abomasum) terjadi dalam dua minggu pertama laktasi. Pada periode ini banyak terjadi perubahan-perubahan yang drastis mulai persiapan kelahiran, proses kelahiran, dan pasca kelahiran termasuk mulainya periode laktasi. Terjadi perubahan hormone reproduksi, dan juga stress, yang berpengaruh thd sistem kekebalan tubuh sapi. Hal penting yang terjadi pada periode periparturient adalah keluarnya susu.

Komposisi kolostrum ini berbeda dengan susu normal, terutama kandungan kalsium. (mencapai 2,1 gram/l atau 10 kali lipat dibanding susu normal). “Ketidakseimbangan gizi, kekurangan, atau program manajemen pakan yang kurang tepat pada periode periparturient dapat meningkatkan berbagai jenis masalah kesehatan: terkait kebutuhan makromineral: kalsium, fospor, magnesium, kalium, natrium, klorid, sulfur dll dikategorikan sebagai penyakit metabolik” ungkap Prof Ida.

(Tjn)

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0
Read more

Inhouse Training Judging Pada Sapi Perah Tingkatkan kualitas Bibit dan SDM yang Profesional

Inhouse Training Judging Pada Sapi Perah diselenggarakan pada tanggal 3 sd 4 Februari 2020 di Training Centre Taurus dan farm Balai, dengan narasumber drh. Kurnia Achjadi,MS. Beliau telah lama sebagai praktisi sapi perah Kesehatan Reproduksi dan Anggota Komisi Pertimbangan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Sebagai peserta Inhouse Training Judging Pada Sapi Perah dihadiri oleh ASN pejabat struktural dan para fungsional pengawas bibit ternak, medik veteriner, paramedic veteriner, pengawas mutu pakan BBPTUHPT Baturraden. Pemberian materi paparan oleh Drh Kurnia Achjadi MS pada hari pertama kegiatan ini dan kemudian hari kedua pelaksanaan praktek dilapangan di farm Tegalsari BBPTUHPT Baturraden.

Judging pada Sapi sebagai cara penilaian tingkatan ternak disertai beberapa karasteristik penting untuk tujuan tertentu secara subjektif. Dilakukan berdasarkan pengamatan kasat mata (exterieur), perabaan (palpasi) dan pengukuran tubuh dengan alat ukur yang telah distandardisasi secara nasional maupun internasional. Dalam paparannya di Training Center menjelaskan bahwa persyaratan mutu bibit harus sesuai SNI yang sudah berlaku. Syarat umum mutu bibit sesuai SNI seperti:
1. Memiliki surat keterangan tentang RHA ( Registered Holstein Ancestry) untuk sapi Pejantan 100% , sapi betina 87.5% sampai 90%;
2. Memiliki silsilah (pedigree) 2 ( dua) generasi diatasnya;
3. Bebas dari penyakit menular yang dinyatakan dengan surat keterangan dari pejabat berwenang;
4. Tidak memiliki cacat fisik, memiliki alat reproduksi normal, bentuk ideal ( tipe sapi perah seperti baji), memiliki struktur kaki dan kuku yang kuat;
5. Ambing simetris, jumlah puting susu 4, bentuk putting normal;
6. Tidak Memiliki Tanduk (dehorning);
7. Bukan berasal dari kelahiran kembar jantan dan betina ( freemartin).

Drh Kurnia juga menyampaikan bahwa melakukan Penilaian Induk Sapi Perah harus subyektif mungkin sebagai penilai pada lomba atau seleksi bibit. Beberapa penilaian Induk sapi perah yakni Penampilan Umum seperti : Sifat Khas Bangsa/Tipe, Tinggi (Stature) Bagian Depan (Front End),

Punggung (Back),Kaki dan Kuku.
– Sifat perah seperti leher, gumba/pundak/bahu, tulang rusuk, paha *thigh), kulit
– Kapasitas badan seperti dada, badan, lipat paha (flank)
– Kelenjar ambing seperti ambing bagian depan, ambing bagian belakang, penopang ambing, putting, keseimbangan, simetris, kualitas

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0
Read more