Penerapan Prinsip Animal Welfare dalam Manajemen Pembibitan Ternak di BBPTUHPT Baturraden

Penerapan Prinsip Animal Welfare dalam Manajemen Pembibitan Ternak

di BBPTUHPT Baturraden

Yuliati Wahyu S

Animal welfare atau biasa disebut kesejahteraan hewan merupakan suatu prinsip kesejahteraan dan aspek yang harus dipenuhi dalam pemeliharaan dan pemanfaatan hewan. Penerapan aspek ini tidak hanya pada hewan kesayangan saja, namun juga sudah menjadi suatu kebutuhan bagi pemelihara ternak produksi. Hal ini merupakan salah satu bentuk kesadaran kita dalam memperlakukan hewan sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BBPTUHPT) Baturraden merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Lingkup Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian yang sudah menerapkan manajemen pembibitan yang mengacu ISO 9001:2008 dan berbasis prinsip kesejahteraan hewan (animal welfare). Model ini dikembangkan sebagai upaya untuk memenuhi tuntutan masyarakat baik nasional maupun internasional, serta memberikan contoh agar model peternakan berbasis animal welfare ini semakin luas diaplikasikan dimasyarakat, karena dalam aplikasinya di Indonesia, animal welfare pada ternak perah belum sepenuhnya dapat dilaksanakan.

Berdasarkan Undang Undang No 18 tahun 2009 jo  Undang-Undang No 41 tahun 2014 Tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, kesejahteraan hewan diartikan sebagai segala urusan yang berhubungan dengan keadaan fisik dan mental hewan menurut ukuran perilaku alami hewan yang perlu diterapkan dan ditegakkan untuk melindungi hewan dari perlakuan setiap orang yang tidak layak terhadap hewan yang dimanfaatkan manusia. Kesejahteraan hewan memiliki 3 aspek penting yaitu science atau mengukur efek pada hewan dalam situasi dan lingkungan yang berbeda dari sudut pandang hewan, etika yaitu mengenai bagaimana sebaiknya manusia memperlakukan hewan, hukum yaitu mengenai bagaimana manusia harus memperlakukan hewan.

Penerapan prinsip 5 kebebasan (Five freedom) yang digunakan dalam manajemen pembibitan yaitu :

  1. Ternak yang dipelihara harus bebas dari rasa haus dan lapar (Freedom from hunger and thirst). Hal ini dilakukan dengan menyediakan kemudahan akses air minum dan penyediaan pakan dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak. Apabila hal ini tidak dapat dipenuhi akan berakibat pada timbulnya penyakit dan penderitaan ternak.
  2. Ternak yang dipelihara harus bebas dari rasa ketidak nyamanan/ penyiksaan fisik (Freedom from discomfort). Prinsip ini dipenuhi dengan penyiapan kandang dan pola pemeliharaan yang baik sesuai SOP. Apabila kondisi ini tidak mampu disediakan akan menyebabkan penderitaan dan rasa sakit yang berdampak pada fisik dan psikologis hewan
  3. Ternak yang dipelihara harus bebas dari rasa sakit, cidera dan penyakit (Freedom from pain, injury and disease). Upaya yang diterapkan terkait dengan pencegahan penyakit, penanganan atau treatment yang cepat dan tepat. Apabila kebebasan ini tidak mampu dipenuhi maka akan memicu penyakit yang berakibat pada kematian ternak dan ancaman transmisi (penularan) penyakit antar hewan maupun manusia.
  4. Ternak bebas untuk mengekspesikan perilaku alamiah (Freedom to express normal behaviour). Kebebasan ini dipenuhi dengan penyediaan ruang dan fasilitas yang cukup untuk pemeliharaan ternak, penataan ternak berdasarkan fisiologis, fisik dan reproduksi ternak.
  5. Ternak bebas dari ketakutan dan rasa tertekan (Freedom from fear and distress). Kondisi ini dipenuhi dengan memberikan perlakuan yang dapat mencegah rasa takut dan penderitaan ternak.

Dalam kegiatan pemeliharaan ternak, pengabaian terhadap 5 kebebasan ini akan memberikan dampak buruk pada kesejahteraan hewan dan dapat memicu stress. Stress dan ketidaknyamanan ternak dapat menyebabkan sapi perah menjadi lebih rentan terhadap peyakit karena menurunkan sistem kekebalan tubuh. Selain itu ternak juga akan mengalami penderitaan yang dapat mengakibatkan menurunnya performance dan produktivitas ternak.

Aplikasi animal welfare tampak pada beberapa kegiatan manajemen sebagai berikut :

  1. Pakan dan air minum
  • Susu diberikan pada pedet dan cempe dengan jumlah sesuai kebutuhan dalam kondisi segar, bersih dan sehat.
  • Air minum diberikan secara ad libitum berupa air bersih yang tidak terkontaminasi dan memenuhi syarat kesehatan (pengujian laboratorium secara rutin)
  • Pakan diberikan dalam jumlah yang cukup dan memenuhi kebutuhan nutrisi bagi ternak sesuai dengan kebutuhannya (kebutuhan hidup pokok, produksi, dan reproduksi). Konsentrat dan HPT (rumput dan legume) diberikan berimbang sesuai formulasi dan kebutuhan ternak.
  • Penerapan teknologi yang mendukung penyediaan pakan sepanjang tahun dan continue antara lain dengan metode pemberian pakan TMR (Total Mix Ration), silase untuk memenuhi kebutuhan di musim kemarau, dan penyediaan mineral blok sehingga ternak dapat mengkonsumsi (menjilat) sesuai kebutuhannya.
  • Pola grassing sudah diaplikasikan khususnya di farm Manggala. Pola ini diutamakan pada sapi dalam masa rearing (pembesaran). Penempatan jumlah ternak di padang penggembalaan juga didasarkan pada produksi padang penggembalaan. Pola grassing ini, disamping menurunkan biaya pakan untuk HPT juga memberikan kebebasan kepada ternak sehingga mampu menghasilkan dewasa kelamin yang lebih cepat.
  1. Kandang dan pemeliharaan ternak
  • Kandang yang digunakan dalam pemeliharaan sapi dan kambing adalah model freestall dengan ukuran kepadatan ternak yang disesuaikan berat badan, sehingga tersedia lingkungan dan areal istirahat yang layak untuk ternak.
  • Prinsipnya ternak tidak diikat dan bebas untuk bergerak, tersedia devider dan tempat tidur dengan lantai yang nyaman beralaskan karpet yang tidak keras, head lock dipasang ditempat pakan, sehingga tidak terjadi perebutan pada saat istirahat dan makan. Melalui model kandang freestall ternak dapat menunjukkan gejala atau tingkah alamiahnya (misal tingkah laku birahi dengan, berjalan, dll) dan terlihat nyaman/ bahagia.
  • Menciptakan suasana tenang di kandang dan menghindarkan suara bising/keras disekitar farm akan memberikan kondisi yang nyaman bagi ternak dan bebas dari rasa takut.
  • Penempatan dan penataan ternak (blokcing) yang dilakukan di farm Baturraden menggunakan parameter berat badan, BCS dan produksi susu. Dimana dalam 1 kelompok variasi bobot badan maksimal 100 kg dan produksi susu maksimal 10 kg. Hal ini untuk menjaga keseragaman dalam kelompok ternak. Blocking sangat penting untuk menghindari adanya persaingan dan memudahkan pengaturan penyediaan pakannya.
  • Kandang disediakan dalam kondisi yang nyaman, apabila kandang terlalu dingin diberikan lampu penghangat atau alas jerami, dan apabila terlau panas atau lembab dapat dikondisikan dengan blower atau kipas.
  1. Kesehatan Hewan
  • Sesuai dengan standar pelaksanaan animal welfare, BBPTUHPT Baturraden mengutamakan pencegahan penyakit daripada pengobatan
  • Biosecurity di areal farm dilakukan dengan mengatur atau pembatasan lalulintas ternak, orang dan kendaraan, desinfeksi kandang dan lingkungan, pengendalian parasite ternak. Biosecurity gate dan bak dipping merupakan sarana penting un tuk mencegah masuknya penyakit dari luar farm.
  • Pemeriksaan medis yang regular dan kecepatan pengobatan dilakukan untuk menjaga ternak bebas dari rasa sakit dan penyakit.
  • Penempatan khusus terhadap ternak yang sakit akan mempermudah pengawasan ternak yang sedang dalam masa pengobatan dan penyembuhan
  • Pemeriksaan rutin laboratorium Keswan terhadap penyakit hewan menular strategis rutin dilakukan setiap tahun bersama BBVET wates dan laboratorium pengujian veteriner lainnya. Pemeriksaan endoparasit dan kesehatan ambing serta susu secara reguler dilakukan di laboratorium BBPTUHPT Baturraden.
  1. Recording/ catatan ternak

Penerapan animal welfare dalam manajemen dapat diukur dari beberapa parameter performance ternak seperti tingkah laku ternak, angka kematian, angka kasus penyakit, angka pertumbuhan, efisiensi reproduksi dan performance ternak. Untuk itu BBPTUHPT menerapkan recording ternak secara utuh (recording kesehatan, reproduksi, bobot badan dan body condition score (BCS), respon ternak terhadap penanganan, produksi susu, dll). Recording merupakan alat utama untuk mendeteksi permasalahan yang terjadi pada ternak, dan sebagai penghasil ternak bibit recording harus dilaksanakan dengan tertib untuk mengetahui silsilah dan riwayat ternak.

  1. Kompetensi SDM
  • Petugas harus mempunyai keterampilan yang baik. Dengan keterampilan yang baik akan meningkatkan kualitas penanganan terhadap ternak, tidak menyebabkan rasa sakit yang berlebihan dan tidak menyebabkan tingkat stress yang tinggi.
  • Kecintaan terhadap ternak merupakan syarat utama bagi pemelihara ternak, untuk terjadinya interaksi petugas – ternak yang dekat.
  • Penempatan petugas yang kompeten dibidangnya dan selalu dilakukan penyegaran dan peningkatan kompetensi melalui penyelenggaraan pelatihan dan in house training.

Dengan pelaksananaan animal wefare di BBPTUHPT Baturraden diharapkan mampu mendukung peningkatan produksi, reproduksi dan kesehatan ternak serta kedekatan interaksi antara petugas dan ternak. Melihat manfaat pengaruh aplikasi prinsip kesejahteraan hewan dalam pola pemeliharaan ternak, maka sangatlah tepat jika mulai dikembangkan model pembibitan berbasis animal welfare sebagai upaya untuk memajukan dunia peternakan di Indonesia menuju persaingan di pasar Internasional.

 

Post a comment