Residu Antibiotika Pada Air Susu

Residu Antibiotika Pada Air Susu

Oleh : Yuliati Wahyu S

Susu merupakan salah satu bahan pangan pangan asal hewan sebagai sumber protein hewani yang mempunyai nilai gizi tinggi dan mampu dijangkau oleh masyarakat. Susu adalah cairan yang diperoleh dari ambing ternak perah sehat dan bersih yang diperoleh dengan cara pemerahan yang benar, yang kandungan alaminya tidak dikurangi/ditambah sesuatu apapun dan belum mendapat perlakuan apapun kecuali proses pendinginan. Susu segar harus memenuhi persyaratan mutu agar dapat dikonsumsi dengan aman dan dapat digunakan sebagai bahan baku untuk pengolahan selanjutnya. Salah satu persyaratan mutu susu segar sebagaimana tertuang dalam SNI 3141.1:2011 yaitu bahwa dalam kandungan susu tidak boleh terdapat residu antibiotika.

Keberadaan residu antibiotika dalam air susu dapat terjadi karena pengobatan ternak penghasil susu menggunakan antibiotika. Setelah perlakuan menggunakan antibiotika pada ternak, baik itu secara injeksi intramuscular, intravena maupun intramamary, maka antibiotika akan terabsorbsi dan masuk ke dalam sistem peredaran darah. Selanjutnya aliran darah yang mengandung antibiotika menyebar ke bagian lain termasuk ke dalam ambing. Hasil pemerahan dari ambing yang salah satu puttingnya mendapatkan pengobatan antibiotika maka susu yang diperoleh akan mengandung residu antibiotika. Pemberian pengobatan herbal atau suplemen pakan ternak yang mengandung campuran antibiotika dalam kadar tertentu, kontaminasi dari sisa susu yang mengandung antibiotika sebagai akibat kurang bersihnya peralatan pemerahan atau ember penampung yang tidak dicuci dengan bersih dan tercampurnya susu yang tidak mengandung residu antibiotika dengan susu yang mengandung antibiotika karena kelalaian dalam recording juga dapat menyebabkan terdapatnya residu antibiotika dalam susu.

Terapi antibiotika seringkali menjadi pilihan dalam penanganan/pengobatan jenis penyakit tertentu seperti kasus mastitis, pneumonia, enteritis, penyakit kuku maupun penyakit lain yang disebabkan oleh adanya infeksi bakterial. Antibiotika merupakan senyawa kimia yang dihasilkan dari berbagai jasad renik, mikroorganisme, dan aktinomiset yang memiliki khasiat menghentikan pertumbuhan atau membunuh bakteri/mikroorganisme. Jenis dan golongan antibiotika antara lain : Penicillin, Sulfonamida, Cephalosporin, Makrolida, Tetrasiklin dan Aminoglikosida. Perlakuan pengobatan pada sapi perah menggunakan jenis antibiotika memungkinkan adanya residu antibiotika pada susu sapi tersebut, dimana konsentrasi residu antibiotika tergantung dari jumlah dan dosis pengobatan, serta akan semakin berkurang seiring dengan jalannya waktu pasca pengobatan.

Dampak yang mungkin muncul karena adanya residu antibiotika pada air susu antara lain :

  • Dapat menyebabkan resistensi bakterial bagi individu yang mengkonsumsinya, baik anak sapi maupun manusia
  • Dapat memberikan reaksi alergi atau intoleransi pada individu yang memiliki alergi pada jenis antibiotika tertentu, terutama jika konsentrasi antibiotika dalam susu cukup tinggi
  • Menurunkan kualitas hasil olahan khususnya pada pengolahan keju dan yoghurt
  • Kerugian ekonomi pada peternak/koperasi apabila susu yang mengandung antibiotika tercampur dengan susu lain dalam jumlah besar dan ditolak oleh IPS. Hal ini karena sebagian IPS sudah memberlakukan penolakan susu yang tidak lolos uji residu antibiotika (tidak memenuhi standar SNI)

Perbaikan manajemen dalam pemeliharaan ternak pernah untuk mengurangi resiko kerugian karena adanya residu antibiotika pada air susu dapat dilakukan antara lain melalui pemisahan ternak yang sakit dalam suatu kelompok ternak, pemberian tanda ternak yang dalam pengobatan antibiotika, pemberlakuan withdrawal time antibiotika sesuai jenis obat yang digunakan, perbaikan sistem pencatatan, pelaporan pengobatan dan informasi dalam farm atau dari peternak ke koperasi pengumpul susu. Ternak yang diobati dengan antibiotika sebaiknya diperah terakhir dan dilakukan pemisahan susu yang mengandung antibiotik dalam tempat khusus. Apabila akan ditimbang dan diuji alkohol/BJ maka harus dipastikan alat yang dipakai kembali dicuci bersih. Pemilihan jenis suplemen/pakan sebaiknya untuk ternak yang dalam fase laktasi tidak menggunakan produk yang mengandung antibiotika

Pengujian mutu susu sangat diperlukan untuk menjaga keamanan produk dan mengetahui penyimpangan kualitas susu yang tidak sesuai persyaratan. Beberapa jenis uji saat ini dapat dilakukan oleh laboratorium untuk mendeteksi adanya residu antibiotika pada air susu. Pemilihan jenis uji dan reagen tergantung dari kebutuhan pengguna, spektrum jenis antibiotika yang ingin diuji, lama waktu pengujian dan sarana yang dimiliki laboratorium penguji.

Metode uji cepat terhadap residu antibiotika pada air susu sangat membantu dilapangan. Beberapa metode yang sudah banyak digunakan antara lain :

  1. Beta-Star Test. Dapat digunakan untuk mendeteksi residu antibiotika betalactam, termasuk didalamnya amoxicillin, ampicillin, cephapirin, cloxacillin, dan penicillin pada susu segar maupun olahan susu. Konjugat reseptor partikel emas (yang terkandung dalam vial) diinkubasikan dengan sampel susu selama 3 menit. Jika terdapat antibiotika betalactam akan terikat ke dalam konjugat reseptor-partikel emas. Stik uji kemudian dimasukkan kedalam vial dan dilanjutkan inkubasi 2 menit. Selanjutnya garis merah akan terbentuk dimana intensitasnya tergantung pada kadar antibiotik dalam sampel. Pembacaan menggunakan The Reveal Accu Scan III Reader, jika rasio >1 menunjukkan hasil negatif, dan jika rasio <1 menunjukkan hasil positif.
  2. Metode ini menggunakan testkit yang mampu mendeteksi berbagai jenis antibiotika maupun zat penghambat lainnya seperti desinfektan atau detergen. Prinsip pengujian dilakukan berdasarkan pertumbuhan mikroorganisme dalam ampul testkit. Setiap ampul yang sudah berisi bakteri Bacillus stearothermophillus, nutrisi pertumbuhan dan indicator PH ditambahkan sampel air susu yang akan duji. Pembacaan hasil dilakukan setelah 3 jam inkubasi. Jika dalam sampel terdapat antibiotika, maka bakteri tidak akan tumbuh sehingga warna kit tetap. Tetapi jika dalam sampel tidak terdapat antibiotika atau zat penghambat maka bakteri akan tumbuh dan menghasilkan asam sehingga warna kit akan berubah menjadi kuning.
  3. Copan Milk Test. Merupakan metode tes tunggal untuk mendeteksi residu antimicrobial pada susu sapi, domba, kambing baik susu segar maupun susu olahan. Vial yang telah berisi agar dengan benih spora Bacillus stearothermophillus var calidolactis dan penambahan gula yang dapat difermentasi (glukosa) dan bromocrestol purple sebagai indikator. Setelah sampel dimasukkan dalam vial dan diinkubasi selama 3 jam dapat dilakukan pembacaan hasil. Jika dalam sampel mengandung antibiotika maka pertunasan dan pertumbuhan spora Bacillus akan terhambat, tidak ada fermentasi glukosa, tidak ada produksi asam sehingga indikator tetap berwarna ungu. Namun jika dalam sampel tidak terdapat antibiotika atau terdapat antibiotika dengan konsentrasi dibawah limit deteksi, maka spora akan bertunas, tumbuh dan gula dimetabolisme. Produksi asam yang ditimbulkan akan merubah warna indikator menjadi kuning.

 

Post a comment