Laktasi

LAKTASI

oleh : drh. Rita Dyah 

Komponen Pada Susu

Laktasi  merupakan ciri yang  spesifik  pada  ternak mamalia.  Susu  adalah  produk yang dihasilkan oleh glandula mamae dan merupakan nutrisi bagi anaknya untuk mendapatkan imunitas pasif. Susu mempunyai susunan kimia yang kompleks. Komponen utamanya adalah  air yaitu  sebesar 46 –  90  %,  tergantung  spesies  ternaknya. Komponen  utama  lainnya  adalah protein,  lemak  dan  laktosa.  Susu  juga  merupakan  sumber  berbagai  mineral  seperti  Ca,  Mg dan P serta berbagai vitamin (Hurley, 2000). Air susu yang pertama keluar setelah proses kelahiran  mengandung maternal immunoglobulin  atau  antibody sebagai imunitas terhadap penyakit, disebut kolostrum.  Berikut ini komponen utama susu pada beberapa ternak (Tabel.1)

Komponen lain di dalam susu adalah protein  dan  lemak. Protein dalam  susu disebut  casein.  Bentuk casein ini berbeda pada beberapa spesies. Molekul  casein  beragregasi  membentuk  ikatan  yang disebut dengan  micelles, dan distabilkan oleh komponen Ca, Phosphate, Citrat dan lain-lain. Casein  terdiri  dari  berbagai asam  amino. Asam  amino  ini dibutuhkan  oleh  manusia,  maka  susu merupakan nutrisi yang tinggi kualitas proteinnya. Sementara  lemak nampak sebagai globul-globul  kecil dekat dengan membrane yang berasal dari sel-sel yang mengeluarkannya yaitu membrane globul lemak susu .Lemak susu mengandung vitamin yang hanya larut dalam lemak yaitu vitamin A, D, E dan K (Hasim dan Martindah, 2012). Kadar lemak susu mulai menurun setelah satu sampai dua bulan masa laktasi. Masa laktasi  dua  sampai  tiga  bulan  kadar  lemak  susu  mulai  konstan, kemudian naik sedikit (Sudono et al., 2003). Kandungan gizi yang terdapat dalam susu  yaitu, laktosa berfungsi sebagai sumber energi, kalsium  membantu dalam pembentukan  massa  tulang,  lemak  menghasilkan  energi,  protein  kaya akan kandungan lisin, niasin dan ferum, serta mineral-mineral lain seperti magnesium, seng  dan  potasium  (Susilorini  dan  Sawitri, 2006). Susu  mengandung  berbagai macam protein, dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu kasein (80%) dan laktoglobulin (20%).  Rasa manis susu karena adanya laktosa berkontribusi sekitar 40%  kalori  dari  susu  penuh  (whole  milk). Laktosa terdiri  atas  dua  macam  gula sederhana yaitu glukosa dan galaktosa.  Secara alami laktosa hanya terdapat pada susu (Hasim dan Martindah, 2012).

 

Ambing Sebagai Penghasil Susu

Susu diproduksi oleh glandula mammae yang merupakan kumpulan sel-sel epithelial sekretori yang spesifik. Sel-sel ini membentuk struktur yang disebut alveoli. Sel-sel  alveoli dikelilingi oleh sel-sel kontraktil yang disebutt sel-sel myoepithelial. Sel-sel berkontraksi sebagai  respon dari hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar pituitary yaitu oxytocin. Kelenjar  mammae  adalah kelenjar eksokrin dimana sekresi eksternal dari alveoli dialirkan melalui system pembuluh  ke puting yang dapat dihisap oleh  anaknya.  Kelenjar mammae ini adalah perkembangan dari kelenjar keringat (Hurley, 2000).

Bagian-bagian dalam ambing :

  1. Alveolus, merupakan sel-sel pembentuk air susu
  2. Alveoly, merupakan kumpulan dari alveolus
  3. Lobulus, merupakan kumpulan dari alveoly
  4. Lobuly, merupakan kumpulan dari lobulus
  5. Milk ductus, merupakan saluran air susu
  6. Gland cistern, merupakan tempat penampungan air susu
  7. Streak canal, adalah bagian bawah puting yang berfungsi mencegah masuknya mikroba
  8. Teat meatus, merupakan lubang putting

Bagian-bagian ambing dapat dilihat pada gambar 1.

Betina  yang  belum dewasa secara seksual belum memiliki kelenjar mammae yang berkembang namun secara struktural pembuluh mammae dan alveolinya tumbuh. Kelenjar mammae ini tumbuh dan berkembang selama terjadinya kebuntingan. Banyak hormon yang mempengaruhi hal ini namun estrogen dan progesterone adalah  hormon yang paling berpengaruh.  Kedua hormon itu  diproduksi oleh ovarium dibawah pengaruh follicle stimulating  hormone (FSH)  dan  luteinizing  hormone (LH) (Hurley, 2000).

 Gambar.1

Beberapa faktor yang memperngaruhi produksi dan komposisi susu:

  • Jenis hewan dan keturunannya
  • Pengaruh pertumbuhan dan besar hewan
  • Pengaruh umur hewan dan panjangnya masa laktasi
  • Pengaruh kelahiran dan pasturasi
  • Kesehatan dan ketegaran hewan
  • Jenis dan macam pakan
  • Pengaruh musim
  • Manajemen pemerahan

 

Kontrol Hormonal Perkembangan Ambing

Perkembangan  ambing  nyata  tidak  terjadi  karena  ketidakhadiran  hormon tertentu.  Secara  umum, hormon yang merangsang  pertumbuhan ambing adalah hormon yang  juga  sama  mengatur  reproduksi.  Karena  itu,  sebagian besar pertumbuhan ambing terjadi pada peristiwa reproduksi tertentu saja, misalnya saat pubertas, kebuntingan, dan sesaat setelah beranak.

Ovari. Hormon ovari merangsang perkembangan ambing selama pubertas dan kebuntingan. Hormon ovari spesifik yang berperan dalam respon pertumbuhan ambing adalah  estrogen dan progesterone. Estrogen merangsang pertumbuhan saluran ambing, sedangkan kombinasi estrogen dan progesterone diperlukan untuk mencapai perkembangan lobuli-alveoler.

Pituitari  Anterior.  Hormon dari pituitari anterior diperlukan untuk pertumbuhan  ambing.  Bekerja sama dengan hormon ovari  (estrogen dan progesteron) untuk menghasilkan perkembangan ambing.

Laktogen Plasental Sapi. Plasenta adalah sumber estrogen dan laktogen plasental sapi. Struktur plasental sapi serupa  tetapi  lebih  besar  dari  prolactin dan  hormon  pertumbuhan.  Laktogen plasental  sapi  mungkin  bekerja  sama dengan  pituitary  anterior  dan  hormon  ovari

untuk perkembangan ambing selama kebuntingan.

Adrenal  dan  Tiroid. Pemberian  adrenal  glukokortikoid  dan  tiroksin memulai perkembangan  ambing.Tetapi  pengaruh-pengaruh  ini  mungkin berhubungan dengan fungsi metabolik umumnya dan tidak dari kepentingan primer dalam menyokong pertumbuhan ambing.

Sekresi Dan Keluarnya Susu

Sekresi ambing dihasilkan hanya setelah terbentuknya sistem lobuli-alveoler. Oleh karena  itu,  pada dara bunting sekresi tidak terjadi hingga pertengahan kebuntingan. Berbagai enzim yang diperlukan untuk sintesis susu terdapat di dalam sel ambing yang dibentuk sebelum beranak. Saat  beranak, hormon akan menyebabkan peningkatan besar produksi susu. Sekresi yang dibentuk sebelum beranak adalah kolostrum yang alami dan bukan susu murni.

Selama kebuntingan, progesteron menghalangi sekresi α- laktalbumin (salah satu protein susu). Halangan ini cukup untuk mencegah sintesis susu selama sebagian besar periode kebuntingan dara. Juga, titer tinggi progesteron menghalangi mulainya laktasi pada induk sapi saat periode kering. Laktasi segera  dihalangi  bila  sapi  laktasi  menjadi bunting. Segera  sebelum  beranak  titer progesterone menurun, sedangkan estrogen, ACTH, dan level  prolaktin meningkat. Adanya adrenal kortikoid atau estrogen mengawali laktasi sapi perah (Wikantadi, 1978). Lubang puting susu menjadi terbuka bila ada rangsangan syaraf atau tekanan  sehingga  air  susu  dari  ruang  kisterna  dapat  mengalir  keluar. Gerakan menyusui dari pedet, usapan satu basuhan air hangat pada ambing merupakan rangsangan pada otak melalui jaringan syaraf. Selanjutnya otak

akan  mengeluarkan  hormon  oksitosin  kedalam  darah.  Hormon  oksitosin menyebabkan  otak-otak  pada  kelenjar  susu  bergerak  dan  lubang  puting membuka sehingga air susu mengalir ke luar. Air  susu  mengalir  melalui saluran-saluran  halus  dari  gelembung  susu  ke  ruang  kisterna  dan  ruang puting  susu.  Dalam  keadaan  normal,  lubang  susu  akan  tertutup  (Hidayat dkk, 2002). Gambar proses keluarnya susu ditampilkan pada gambar.2

Sesudah sapi beranak, produksi susu meningkat cepat dan  mencapai  maksimum  pada  2  sampai  6  minggu.  Kemudian  hasil  susu secara beraturan  menurun.Batasan  berikut  akan digunakan  untuk  menguraikan  laktasi. Milk secretion /sekresi susu melibatkan sintesis intraseluler susu dan laju alir susu dari sitoplasma  ke  dalam  lumen  alveoli.  Milk  removal  /  pengeluaran  susu melibatkan pengeluaran pasif susu dari puting, sisterne kelenjar, dan saluran utama serta pengeluaran aktif susu yang disebabkan oleh kontraksi sel mioepitel sekitar alveolus  sebagai respon terhadap oksitosin.  Laktasi terdiri dari sekresi susu dan pengeluaran susu (Wikantadi, 1978).

Pada sapi perah produksi  susu  akan  meningkat  sejak  melahirkan  sampai  mencapai puncak  produksi  pada  35-50  hari  setelah  melahirkan.  Setelah  mencapai puncak produksi, produksi susu harian akan mengalami penurunan rata-rata 2,5% perminggu. Lama perah atau lama laktasi yang paling ideal adalah 305 hari  atau  sekitar  10  bulan.  Sapi  perah  yang  laktasinya  lebih  singkat  atau lebih  panjang  dari  10  bulan  akan  berakibat  terhadap  produksi  susu  yang

menurun pada laktasi berikutnya (Siregar, 1993).

Gambar 2 .  Proses keluarnya susu oleh adanya rangsangan (Edward, 2003)

 

Hormon-Hormon yang Mempengaruhi Laktasi

  1. Progesteron: mempengaruhi  pertumbuhan  dan  ukuran  alveoli.  Tingkat progesteron dan

estrogen menurun sesaat setelah melahirkan. Hal ini menstimulasi produksi secara besar-

besaran.

  1. Estrogen: menstimulasi  sistem  saluran  mammae  untuk    Tingkat estrogen

menurun saat melahirkan dan tetap rendah untuk beberapa bulan selama tetap menyusui.

  1. Follicle stimulating hormone  (FSH):  perkembangan  folikel  yang  bertujuan untuk

menghasilkan homon estrogen.

  1. Luteinizing hormone  (LH):  berperan  dalam  proses  ovulasi  Prolaktin: berperan dalam

membesarnya alveoil pada masa kebuntingandan sekresi air susu dari kelenjar

  1. Oksitosin: mengencangkan otot halus dalam rahim pada saat melahirkan dan setelah

melahirkan,  oksitosin  juga  mengencangkan  otot  halus  di  sekitar  alveoli untuk memeras

susu  menuju  saluran  susu.  Oksitosin  berperan  dalam  proses turunnya susu let-down.

Secara ringkas kerja hormone saat laktasi ditampilkan pada gambar 3.

                                                Gambar 3.respon hormone pada saat laktasi

                                                Sumber:Edward, 2003

 

Boisintesis susu

  • Sintesa protein susu
  • Sintesa lemak susu
  • Sintesa laktosa
  • Sintesa vitamin, mineral dan air

Biosintesa susu dipengaruhi oleh organ-organ dalam ambing. Ambing menempel dengan perantara sejumlah jaringan ikat di samping berhubungan dengan bagian dalam tubuh melalui canalis inguinalis. Melalui canalis inguinalis ; arteri, vena, pembuluh getah bening dan syaraf dari dalam tubuh masuk ke dalam ambing. Disaluran air susu terdapat sel-sel epitel otot karena pengaruh oksitosin bekerja selama 7 menit setelah itu hormon yang bekerja adalah hormon adrenalin.

URUTAN PROSES PADA BIOSINTESA SUSU :

1. Sintesa protein susu

Terdapat 3 sumber utama bahan pembentuk protein susu yang berasal dari darah, yaitu peptida-peptida, plasma protein, dan asam-asam amino yang bebas. Kasein, beta laktoglobulin, dan alphalaktalbumin merupakan 90% sampai 95% dari protein susu. Ketiga macam protein tersebut disintesa didalam kelejar susu. Serum albumin darah, imunoglobulin dan gamma kasein tidak disintesa didalam kelenjar susu, tetapi langsung diserap dari darah dalam bentuk yang sama tanpa mengalami perubahan. Plasma protein merupakan sumber bahan pembentuk susu sebanyak 10% dari yang diperlukan. Asam-asam amino yang bebas yang diserap oleh kelenjar susu dari darah merupakan sumber nitrogen utama untuk sintesa protein susu. Hampir semua asam amino yang diserap dari darah diubah menjadi protein susu.

Sintesa protein dari susu terjadi didalam sel epitel dikontrol oleh gene yang mengandung bahan genetik yaitu Deoxyribo nucleic acid (DNA). Urut-urutan pembentukan protein susu yaitu replikasi dari DNA, transkripsi dari Ribonulec acid (RNA) dari DNA, dan translasi terbentuknya protein menurut informasi RNA.

Replikasi

Replikasi termasuk di dalamnya pemisahan dari 2 pita (strand) DNA dan duplikasi dari kedua strand tersebut. Replikasi terjadi sebelum pembelahan sel, oleh karena itu ia tidak mempunyai pengaruh yang langsung terhadap sintesa protein.

 

Transkripsi

Transkripsi termasuk didalamnya pembentukan RNA pada saat strand DNA. Molekul-molekul RNA bergerak ke sitoplasma dan memegang peranan aktif dan penting di dalam sintesa protein. Translasi termasuk proses yang terjadi di ribosome.

Translasi merupakan proses yang kompleks dimana pertama terjadi perlekatan dari asam-asam amino pada molekul RNA. Tiap-tiap asam amino mempunyai enzim pengaktif tersendiri. ATP digunakan untuk menaikan tingkat energi dari asam amino sehingga asam amino dapat digunakan berpartisipasi dalam reaksi tersebut. Sintesa protein terjadi di ribosome (Sudono, 1990).

2. Sintesa lemak susu

Lemak susu merupakan komponen susu yang paling bervariasi. Sebagian lemak susu terdiri atas trigliserida. Bahan-bahan pembentuk lemak susu yang terutama adalah : (1) glukosa, asetat, asam beta hidroksibutirat, trigliserida dari chylomicra, dan low density lipoprotein dari darah, (2) asam-asam lemak yang berantai pendek, dan (3) beberapa asam palmitat yang disekresi didalam kelenjar susu. Kelenjar susu ruminansia tidak dapat menggunakan acetyl CoA yang berasal dari glukose dalam mitokondria. Betahidrosibutirat juga digunakan untuk sintesa asam-asam lemak. Sebagian dari padanya digunakan untuk rantai karbon permulaan untuk tambahan unit-unit C2 dan sebagian lagi untuk pembentukan unit-unit C2 dan digunakan sebagai unit Acetyl CoA untuk sintesa asam lemak.

3.  Sintesa laktosa

Sebagian besar glukosa dan galaktosa dalam sintesa laktosa berasal dari substansi-substansi yang mudah dapat diubah menjadi glukosa. Glukosa merupakan bahan utama pembentuk laktosa pada kambing dan sapi. Beberapa atom karbon dari laktosa terutama residu galaktosa, berasal dari senyawa lain misalnya asetat dan gliserol. Perbedaan antara arteri-vena untuk glukosa ± 2 kali yang diperlukan untuk sintesa laktosa, oleh karena itu kelebihan glukosa akan digunakan untuk energi membentuk gliserol karena glukosa adalah bahan utama pembentuk laktosa dan susu harus dipertahankan takenan laktosanya agar supaya isotonis dengan darah, maka bila terjadi kekurangan laktosa akan mengalami kekurangan kandungan air dalam susu. Oleh karena itu dikatakan glukosa adalah sebagai faktor pembatas untuk sekresi susu.

Proses sintesa laktosa adalah 2 molekul glukosa masuk saluran ambimg kemudian 1 molekul glukosa diubah menjadi galaktosa. Terjadi kondensasi galaktosa dengan glukosa kemudian terbentuklah laktosa dengan bantuan enzym lactose syntetase. Dengan adanya lactose ini maka susu akan memberi rasa manis serta merangsang bakteri tertentu di dalam usus pedet untuk membentuk asam laktat, sehingga akan merangsang penyerapan Ca dan pospor pada tulang. Berdasarkan  suatu hasil  penelitian diperoleh kesimpulan bahwa  Konsumsi  protein  pakan  mempunyai  hubugan  linier  dengan laktosa  susu, dan laktosa  susu  juga mempunyai hubungan linier dengan produksi susu, sehingga konsumsi  protein  pakan mempunyai hubungan dengan produksi dan protein  susu (Harjanti dan Santoso, 2014).

  1. Sintesa mineral, vitamin, dan air

Vitamin, mineral, air tidak disintesa oleh sel-sel sekresi ambing melainkan berasal dari tanah. Mineral yang penting adalah Ca, P, Cl, Na dan Mg. Mekanisme absorbsi mineral dari darah ke dalam lumen alveoli belum jelas, kemungkinan terdapat bentuk mekanisme transport mineral yang aktif, dalam sel sekresi ambing. Kadar laktose, Na dan K dalam susu biasanya relatif konstan. Ketiga komponen ini bersama dengan clorida berperan menjaga keseimbangan osmose dalam susu.

Kandungan vitamin dan mineral susu diatur dalam proses filtrasi, dimana sel-sel jaringan sekresi ambing bertindak sebagai membran barier atau carrier terhadap partikel vitamin dan mineral yang berasal dari darah yang akan masuk ke lumen alveoli. Sel epitil menggabungkan mineral dengan sel organik, dimana 75% Ca terikat dalam kasein, pospor, dan sitrat, dan dari 75% tersebut 50% terikat dengan kasein. Molekul-molekul vitamin ditransfer langsung dari darah ke dalam sel-sel sekresi ambing, tanpa mengalami perubahan, sehingga langsung masuk menjadi komponen susu. Konsen;trasi vitamin dalam susu (terutama yang terlarut dalam lemak) dapat ditingkatkan dengan meningkatkan vitamin dalam plasma darah atau dengan meningkatkan kandungan vitamin dalam pakan (Syarief, 1984).

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Bath, D. L., F. N. Dickinson, H. A. Tucker, and R. D. Appleman. 1985. Dairy Cattle : Principles,

            Practices, Problems, Profits. 3rd Edition. Lea & Febiger, Philadelphia. 291-305.

 

Edward, P, Call. 2003. Understanding the mammary System. Journal Dairy Cattle III. Page 81-

  1. Dairy Cattle Leader Notebook. Kansas State University. USA.

 

Foley, R. C., D. L. Bath, F. N. Dickinson, H. A. Tucker, and R. D. Appleman. 1973. Dairy Cattle:

Principles, Practices, Problems, Profits. Reprinted. Lea & Febiger, Philadelphia. 390-406.

 

Hasim & E. Martindah. 2012. Perbandingan susu sapi dengan susu kedelai :tinjauan kandungan

            dan biokimia absorbsi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Badan Penelitian

dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian, Bogor. Semiloka Nasional Prospek

Industri Sapi Perah Menuju Perdagangan Bebas 2020: 272-278.

Harjanti Syafri. A,  D. W.  dan Santoso S. A. B. 2014. Hubungan antara konsumsi protein pakan

dengan produksi kandungan protein dan laktosa susu sapi perah di kota Salatiga.

Animal Agricultural Journal. Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro

Semarang

Hidayat, A., P.   Effendi, A.   A.  Fuad, Y.   Patyadi, K.   Taguchi  &  T.   Sugiwaka .  2002.  Buku

Petunjuk Teknologi Sapi Perah di Indonesia untuk Peternak: Kesehatan Pemerahan .  PT Sonysugema Pressindo, Bandung.

Hurley  WL.  2000.  Mammary  tissue  organization.  Lactation  Biology.  ANSCI  308.

http://classes aces.uiuc.edu/Ansci 308/. [15 – 08 -2006]

Siregar, S.  B., M.  Rangkuti, Y.  T.   Rahardja &  H.   Budi man.   1996.   Informasi teknologi

budaya, pasca panen dan analisis ternak sapi perah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor.

Soedono, Adi. 1990. Pedoman Beternak Sapi Perah. Dirjen Peternakan: Jakarta

Sudono, A., R. F. Rosdiana, & B. S. Setiawan. 2003. Beternak Sapi Perah Secara Intensif.

Agromedia Pustaka, Jakarta.

Susilorini, T.E., & M. E. Sawitri. 2006. Produk Olahan Susu. Penerbit PT. Penebar Swadaya,

Depok.

Syarief, MZ. 1984. Ternak Perah. Yasaguna: Jakarta

Wikantadi, B. 1978.Biologi Laktasi. Bagian Ternak Perah, Fakultas Peternakan. Universitas

Gadjah Mada. Yogyakarta

Post a comment