EVALUASI KANDUNGAN NUTRISI RUMPUT PAKCHONG PADA TAHUN YANG BERBEDA DI BBPTUHPT BATURRADEN

Selasa, 16 May 2023

EVALUASI KANDUNGAN NUTRISI RUMPUT PAKCHONG (Pennisetum Purpureum cv Thailand) pada TAHUN YANG BERBEDA DI BALAI BESAR PEMBIBITAN TERNAK UNGGUL DAN HIJAUAN PAKAN TERNAK (BBPTUHPT) BATURRADEN

Oleh : Nofaliya Widiyasari

Pengawas Mutu Pakan Terampil

Pendahuluan

Keberhasilan dalam dunia usaha peternakan khususnya ternak ruminansia tidak pernah lepas dari efisiensi kualitas dan kuantitas Hijauan Pakan Ternak atau sering disebut juga dengan singkatan HPT. Hijauan pakan memegang peranan penting bagi ternak ruminansia karena memiliki kandungan karbohidrat, protein, vitamin, mineral, dan nutrisi lain yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup ternak. Hijauan pakan juga merupakan sumber serat yang bermanfaat untuk mengoptimalkan fungsi rumen pada ternak ruminansia. Siregar (1994), menyatakan bahwa ternak ruminansia membutuhkan sejumlah serat kasar dalam ransumnya agar proses pencernaan berjalan lancar dan optimal. Sumber utama dari serat kasar itu sendiri adalah hijauan. Hijauan pakan memiliki persentase tertinggi dalam mempengaruhi produktivitas ternak ruminansia yaitu sekitar 70-80%. Ketersediaan hijauan pakan secara berkesinambungan sepanjang tahun baik secara kualitas maupun kuantitas menjadi syarat mutlak bagi pengembangan ternak ruminansia, baik secara kecil maupun besar.

Hijauan pakan ternak adalah semua bentuk bahan pakan yang berasal dari tanaman baik yang belum dipotong maupun yang dipotong dari lahan dalam keadaan segar (Akoso, 1996). Hijauan pakan ternak berasal dari pemanenan bagian vegetatif tanaman yang berupa bagian hijauan meliputi daun, batang, kemungkinan juga sedikit bercampur bagian generatif, utamanya sebagai sumber makanan ternak ruminansia (Reksohadiprodjo, 1985). Termasuk dalam kelompok makanan hijauan ini adalah bangsa rumput (graminae), kacang-kacangan. (leguminosa) dan hijauan dari tumbuh-tumbuhan lain seperti daun nangka, daun waru dan lain sebagainya (AAK, 1983).

Beberapa faktor yang menghambat penyediaan hijauan pakan adalah terjadinya perubahan fungsi lahan yang sebelumnya sebagai sumber hijauan pakan menjadi lahan pemukiman, lahan pangan, serta lahan industri (Andis et al., 2020). Selain itu, ketersediaan hijauan pakan ternak juga sangat dipengaruhi oleh musim. Pada musim penghujan produksi hijauan pakan melimpah, sedangkan dimusim kemarau produksi akan menurun. Dampak penurunan produksi hijauan pakan akan sangat berpengaruh terhadap penurunan produktivitas ternak, oleh karena itu perlu adanya upaya untuk mengatasi keterbatasan ketersediaan pakan hijauan, salah satunya melalui penanaman hijauan pakan jenis unggul.

Kriteria hijauan pakan jenis unggul adalah disukai ternak (palatable), toleran terhadap pemangkasan, kandungan nutrisi tinggi, produktivitas tinggi, tidak beracun, dan memiliki manfaat lain sebagai pelestarian lingkungan hidup. Salah satu jenis hijauan yang termasuk dalam kategori pakan hijauan jenis unggul yakni rumput gajah (Pennisetum Purpureum). Rumput gajah memiliki daya adaptasi yang luas, pertumbuhan cepat, produktivitas biomassa tinggi, dan sistem akar dalam, sehingga dapat bertahan dalam kondisi kekeringan (Lowe et al., 2003). Rumput pakchong (Pennisetum Purpureum cv Thailand) merupakan salah satu varian rumput gajah yang sudah umum dimanfaatkan sebagai pakan ternak karena disamping produksinya cukup tinggi, juga memiliki kandungan nutrisi yang lebih tinggi dibandingkan tetuanya. Peneliti mengklaim rumput ini mengandung protein kasar 16-18%. Rumput pakchong adalah salah satu rumput yang paling menjanjikan bagi produksi ternak ruminansia karena hasil panen dan nilai gizinya yang tinggi (Cherdthong et al., 2015).

Sejarah Umum Rumput Pakchong (Pennisetum Purpureum cv Thailand)

Rumput pakhong merupakan jenis rumput unggul yang berasal dari Thailand yang merupakan persilangan antara rumput gajah (Pennisetum Purpureum Schumach) dengan Pearl Millet (Pennisetum Glaucum), yang diteliti dan dikembangkan selama 6 tahun oleh Prof. Dr. Krailas Kiyothong, seorang ahli nutrisi dan pemulia tanaman (Sarian, 2013). Pearl Millet (Pennisetum Glaucum), termasuk jenis tanaman serealia yang bersifat tahunan dan tahan kekeringan, serta tahan terhadap hama dan penyakit (Gupta dan Mhere, 1997).

Rumput pakchong termasuk dalam jenis rumput hibrida Interspecific. Hibrida interspecific menghasilkan lebih banyak anakan, daun,tumbuh lebih cepat dari tetuanya, dan memiliki potensi biomassa yang tinggi (Hanna et al, 2004). Percobaan lapangan yang dilakukan di Hawai, menunjukkan bahwa produksi panen rumput pakchong adalah 13% lebih tinggi dibandingkan varietas rumput Gajah lain (Osgood et al 1996). Rumput pakchong memiliki pertumbuhan kembali (regrowth) yang sangat cepat setelah pemangkasan. Sarian (2013), menuturkan bahwa pada umur 59 HST (Hari Setelah Tanam) rumput ini dapat mencapai tinggi sekitar 10 feet (± 3 m) sehingga tidak heran kalau rumput pakchong disebut sebagai rumput gajah super (supernapier grass). Rumput pakchong memiliki daun yang hampir sama besar dan panjangnya dengan rumput King Grass (Pennisetum purpurhoides), namun batang tanaman lebih empuk/lembut, tidak keras, dan secara morfologi baik batang maupun daun tidak ditumbuhi bulu-bulu halus yang dapat menurunkan nilai palatabilitas. Turano et al (2016), melaporkan hasil penelitiannya bahwa rumput gajah hibrida lebih tahan terhadap cekaman kekeringan dan bergizi tinggi daripada varietas rumput gajah lain.

Budidaya Rumput Pakchong

Rumput pakchong tumbuh dengan baik di berbagai lokasi, tetapi akan berkembang sangat baik di tanah yang kaya akan bahan organic. Kiyothong dalam sarian (2013), mengatakan bahwa Pennisetum purpureum cv Thailand tahan terhadap kekeringan sehingga bisa tumbuh di banyak daerah di Filipina. Metode penanaman rumput pakchong sama seperti menanam rumput gajah pada umumnya, pertama tanah harus digemburkan lalu dibuat lubang tanam dengan ukuran 30x30x30 cm. Stek batang Rumput pakchong ditanam dengan posisi miring (30-45 derajat) sedalam 15-20 cm atau ruas pertama terbenam dalam tanah (Premaratne dan Premalal, 2006), kemudian masukkan pupuk kompos sebanyak 2 kg pada setiap lubang tanam, lalu tutup dan sedikit padatkan lubang tanam. .Jarak tanam yang direkomendasikan antara lain 60 x 90 cm, 90 x 90 cm atau 90 x 120 cm. Bibit tanaman rumput dapat diambil dari stek atau rumpun tanaman (pols). Stek tanaman rumput pakchong disiapkan dari tanaman induk yang berumur 6-8 bulan sepanjang 30-40 cm atau menyisakan dua mata ruas.

Dua puluh hari pertama setelah penanaman dilakukan penyiraman apabila kondisi cuaca kering dan dilanjutkan sampai dengan umur tanaman 30 HST (hari setelah tanam). Pengendalian gulma dilakukan apabila diperlukan, terutama pada gulma berbatang keras saja, tetapi setelah tanaman berproduksi tidak diperlukan lagi karena canopy-nya dapat mencegah pertumbuhan gulma di bawahnya. Panen pertama dilakukan pada umur 90 HST (Hari Setelah Tanam), selanjutnya dapat dipanen dengan interval 45-60 hari sekali. Tinggi pemangkasan yang direkomendasikan antara lain 10-15 cm di atas permukaan tanah, guna merangsang petumbuhan anakan (Sarian, 2013).

Rumput Pakchong di BBPTUHPT Baturraden

BBPTUHPT Baturraden merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dibawah kementerian RI. Lokasi BBPTUHPT Baturraden berada di lereng gunung slamet Kabupaten Banyumas, pada ketinggian berkisar 600 – 750 mdpl dan curah hujan rata-rata 3.000 mm/ tahun. Keadaan iklim tersebut sangat cocok sebagai lokasi pengembangan rumput pakchong. Direktorat Pakan Ternak (2017), dalam buku pedoman teknis budidaya rumput pakan ternak menyebutkan bahwa syarat tumbuh rumput Pennisetum Purpureum berada pada ketinggian 0-3000 mdpl, dan memiliki curah hujan rata-rata 1.500 mm/tahun.

Rumput pakchong pertama kali ditanam dan mulai dibudidayakan di Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BBPTU-HPT) Baturraden pada tahun 2018. Perkembangan rumput pakchong di BBPTUHPT Baturraden dalam kurun waktu empat tahun terakhir memiliki tren yang positif. Rumput pakchong dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Hal tersebut dapat dilihat dari produksi rumput pakchong yang ditanam di lahan BBPTUHPT baturraden dapat mencapai rata-rata 450 ton/ha/tahun, satu setengah kali lebih tinggi dibandingkan rataan produksi rumput gajah yang dalam kurun waktu lima tahun terakhir hanya mencapai angka 300-350 ton/ha/tahun, dan rumput odot sebesar 200-250 ton/ha/tahun.

Nilai Nutrisi Rumput Pakchong dalam Berbagai Tahun di BBPTUHPT Baturraden

Menurut literasi yang ada, menyebutkan bahwa rumput pakchong memiliki kadar protein yang lebih tinggi yaitu 16,45 %, dibandingkan dengan rumput lainnya yakni rumput odot ( 11,6 % ) dan rumput taiwan ( 13 % ). Hal tersebut sangat penting, terutama bagi ruminansia utamanya ternak perah yang sangat membutuhkan nutrisi yang cukup agar menghasilkan produksi dan kualitas susu lebih tinggi.

Berdasarkan dari beberapa hasil penelitian rumput pakchong (Pennisetum purpureum cv Thailand) menunjukkan bahwa komposisi nutrisi rumput pakchong cukup beragam, seperti pada Tabel berikut :

Tabel 1. Nilai Nutrisi Rumput Pakchong (Pennisetum Purpureum cv Thailand ) menurut Beberapa Sumber.

SumberKomposisi Kimia (%)
BKPKNDFAbuCaPTDN
Turano et al,(2016)24,206,4073,208,900,170,2246,50
Siiripon et al. (2016)23,726,6572,218,37
Lounglawan et al.(2014)17,1610,1370,1311,99

Keterangan : BK = Bahan kering ; PK=Protein Kasar; SK= Serat kasar; Ca=Kalsium; dan P=Phosphor; TDN=Total Digestible Nutrient.

Hasil pengujian proksimat rumput pakchong yang dilakukan oleh BBPTUHPT Baturraden pada tahun 2020 dan 2022 juga menunjukkan hasil yang cukup bervariasi, seperti pada Tabel berikut :

Tabel 2. Nilai Nutrisi Rumput Pakchong (Pennisetum Purpureum cv Thailand) pada Tahun yang Berbeda di BBPTUHPT Baturraden.

SumberKomposisi Kimia (%)
BKPKLemak KasarSerat KasarAbuCaPTDN
Tahun 202013,3210,350,1936,099,260,480,2260,16
Tahun 202215,3413,100,6329,1718,300,780,4255,24

Sumber : Data primer terolah

Dari hasil pengujian tersebut dapat disimpulakn bahwa secara keseluruhan kandungan nutrisi rumput pakchong yang ditanam di lahan BBPTUHPT Baturraden memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan hasil penelitian yang tercantum pada tabel 1, hanya kandungan bahan kering yang memiliki prosentase lebih kecil. Hasil uji laboratorium pada tahun 2020 dan 2022 yang dilakukan oleh BBPTUHPT Baturraden menunjukkan bahwa kandungan BK, PK, lemak kasar, abu, kalsium, dan protein rumput pakchong pada tahun 2022 lebih tinggi dibandingkan tahun 2020, sementara kandungan serat kasar dan TDN pada tahun 2022 memiliki nilai yang lebih rendah dibanding tahun 2020.

Analisa Faktor yang Mempengaruhi Kandungan Nutrisi Rumput Pakcong

Perbedaan hasil analisis rumput pakchong pada masing-masing sumber, dapat dipengaruhi oleh berbagai macam hal. Ketinggian tempat, kesuburan tanah, iklim, manajemen pemeiharaan, serta umur pangkas/defoliasi dapat mempengaruhi nilai kandungan nutrisi rumput yang diujikan. Ketinggian tempat biasanya terkait dengan kesuburan tanah, suhu dan curah hujan atau iklim pada suatu daerah. Tingginya curah hujan akan berpengaruh pada kandungan air bahan pakan hijauan dan kandungan nutrisinya. Soebarinoto (2008), mengungkapkan tanaman legume gamal mengandung protein kasar (CP) 18 – 24 % pada waktu musim hujan dan 17 – 22% pada waktu musim kemarau. Nilai nutrisi hijauan pakan sangat dipengaruhi dari bahan kering hijauan itu sendiri, dan perbedaan komposisi ini disebabkan perbedaan varietas, kesuburan tanah, dan komposisi campuran bagian tanaman (Hartadi et al., 1980).

Kesuburan tanah juga berpengaruh pada pertumbuhan tanaman. Sosroamidjojo dan Soeradji (1990), mengungkapkan untuk penanaman hijauan makanan ternak dibutuhkan tanah yang subur dan memenuhi persyaratan-persyaratan jenis tanah dan iklim yang sesuai dengan yang dikehendaki. Tanah yang subur mengandung unsur-unsur hara yang sangat dibutuhkan oleh pertumbuhan tanaman. Semakin tinggi dan semakin komplit kandungan hara tanah membuat komposisi nutrisi yang terdapat dalam tanaman semakin baik dan optimal. Menurut Nell dan Rollinson (1974), produksi rumput yang tumbuh di tanah sawah, tegalan, kebun, hutan dan pinggir jalan berkisar antara 14-15 ton bahan kering (BK)/ha/tahun, sedangkan untuk padang pangonan sekitar 1,5 ton.

Produksi dan kandungan nutrisi hijauan pakan juga tidak terlepas dari manajemen pemelihaaraan lahan hijauan pakan. Lahan hijauan pakan yang dirawat secara intensif, tentunya akan menghasilkan hijauan pakan yang berkualitas, baik dari sisi produksi bahan segar maupun nutrisi yang terkandung di dalamnya. Perawatan lahan hijauan pakan yang lazim dilakukan diantaranya pemupukan lahan. Sarjimin et al (2001), menyatakan bahwa untuk memperoleh produksi yang tinggi pada lahan yang tingkat kesuburannya rendah dapat dilakukan dengan pemupukan. Penambahan unsur hara terutama Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) dalam tanah secara optimal pada tanaman dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Tingginya kandungan protein kasar disebabkan karena tingginya dosis pupuk nitrogen yang diberikan. Sesuai dengan pendapat Hardianti (2005), yang menyatakan bahwa pemberian pupuk nitrogen dapat mensuplai ketersediaan unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman sehingga menjadi subur, dengan demikian dapat meningkatkan kandungan protein kasar. Pemupukan nitrogen di lahan rumput menghasilkan kadar protein yang tinggi pada padang rumput yang muda (Rinsema, 1986). Dosis pemupukan nitrogen pada lahan hijauan pakan di BBPTUHPT Baturraden sebesar 250 Kg/Ha, dan kegiatan pemupukan dilakukan saat hijauan berumur dua minggu setelah pangkas.

Faktor lain yang juga berpengaruh terhadap kondisi nutrisi tanaman selain faktor kesuburan tanah, iklim, dan manajemen pemeliharaan, yakni umur pangkas. Umur pangkas turut berpengaruh terhadap komposisi kimiawi pakan hijauan. Komposisi kimiawi akan berpengaruh pada daya cerna pakan. Daya cerna pakan berhubungan erat dengan komposisi kimiawinya, dan serat kasar mempunyai pengaruh yang terbesar terhadap daya cerna. Setiap penambahan 1% serat kasar dalam tanaman menurunkan daya cerna sekitar 0,7 – 1,0 unit pada ruminansia. Protein adalah bagian utama dari jaringan yangaktif dengan demikian daun mengandung lebih banyak zat tersebut (Tillman, 1998).

Peningkatan kandungan serat kasar dan menurunnya kandungan protein kasar beriringan dengan meningkatnya umur tanaman. Semakin tua umur rumput, maka batang tanaman akan menjadi semakin keras. Hal itu juga dapat diartikan dengan adanya peningkatan kandungan serat kasarnya. Tanaman yang dipanen pada umur muda kualitasnya lebih baik karena serat kasar lebih rendah, sedangkan kadar proteinnya lebih tinggi. Disisi lain semakin tua hijauan, proporsi selulose dan hemiselulose sebagai penyusun dinding sel akan naik, sedangkan karbohidrat yang larut dalam air akan turun sehingga terjadi peningkatan serat kasar dan bahan kering. Pemanenan berhubungan erat dengan produktifitas dan kualitas hijauan pakan. Interval pemotongan yang berat tanpa dibarengi dengan masa istirahat, maka akan menghambat perkembangan tunas-tunas baru sehingga produksi dan perkembangan tanaman akan berkurang (Reksohadiprojo, 1999). Hal tersebut sejalan dengan Lounglawan et al. (2014), yang menjelaskan bahwa kandungan protein kasar, serat kasar, abu, ekstrak eter, NDF,ADF dan ADL mengalami peningkatan secara signifikan saat interval panen meningkat. Melihat kondisi keterkaitan antara umur rumput dengan nutrisi yang duhasilkan, maka lebih baik pemanenan rumput dilakukan pada waktu yang tepat yaitu saat menjelang berbunga, atau interval pemotongan rata-rata 40-60 hari.

KESIMPULAN

Rumput pakhong merupakan jenis rumput unggul yang berasal dari Thailand yang merupakan persilangan antara rumput gajah (Pennisetum Purpureum Schumach) dengan Pearl Millet (Pennisetum Glaucum). Rumput pakchong termasuk dalam jenis rumput hibrida Interspecific yang lebih banyak anakan, daun, tumbuh lebih cepat dari tetuanya, dan memiliki potensi biomassa yang tinggi. Rumput pakchong juga disebut sebagai rumput gajah super (supernapier grass). Keunggulan rumput pakchong memiliki daun yang hampir sama besar dan panjangnya dengan rumput King Grass (Pennisetum purpurhoides), namun batang tanaman lebih empuk/lembut, tidak keras, dan secara morfologi baik batang maupun daun tidak ditumbuhi bulu-bulu halus yang dapat menurunkan nilai palatabilitas, selain itu rumput pakchong juga tahan terhadap cekaman kekeringan dan bergizi tinggi daripada varietas rumput gajah lain.

Produksi rumput pakchong yang ditanam di lahan BBPTUHPT baturraden dapat mencapai rata-rata 450 ton/ha/tahun, satu setengah kali lebih tinggi dibandingkan rataan produksi rumput gajah yang dalam kurun waktu lima tahun terakhir hanya mencapai angka 300-350 ton/ha/tahun, dan rumput odot sebesar 200-250 ton/ha/tahun. Nilai Nutrisi rumput Pakchong yang ditanam di BBPTUHPT Baturraden mencapai 15,34% Bahan Kering, 13,10% Protein Kasar, 0,63% Lemak Kasar, 36,09 Serat Kasar, 18,30% Abu, 0,78% Kalsium, 0,42% Phospor, dan TDN sebesar 60,16%. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi nutrisi rumput pakchong diantaranya ketinggian tempat, kesuburan tanah, iklim, manajemen pemeiharaan, serta umur pangkas/defoliasi

DAFTAR PUSTAKA

AAK.1983. Hijauan Makanan Ternak Potong, Kerja dan Perah. Kanisius. Yogyakarta.

Akoso, B.T. 1996. Kesehatan Sapi. Kanisius. Yogyakarta.

Cherdthong A, Rakwongrit D, Wachirapakorn C, Haitook T, Khantharin S, Tangmutthapattharakun G, saising T. 2015. Effect of leucaena silage and napier pakchong 1 silage supplementation on feed intake, rumen ecology and growth performance in Thai native cattle. Khon Kaen Agriculture Journal 43.

Gupta SC, Mhere O. 1997. Identification of hybridaior pearl millet by Napier hybrids and napiers in Zimbabwe. African Crop Science Journal, 5.

Hanna WW, Chaparro CJ, Mathews BW, Burns JC, Sollenberger LE, Carpenter JR. 2004. Perennial Pennisetums. In: Moser LE; Burson BL; Sollenberger LE, eds. Warm- Season (C4) grasses. American Society of Agronomy Monograph Series, No. 45.

Hardianti, N Siti. 2015. Pengaruh Pemberian Pupuk Nitrogen Terhadap Kandungan Protein Kasar dan Serat Kasar Rumput Gajah. Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin. Makasar.

Hartadi, H., L.C. Kearl, S. Reksohadiprojo, L.E. Harris dan S. Lebdosukoyo. 1980. Tabel tabel dari komposisi bahan makanan. Data ilmu makanan ternak untuk Indonesia. Gadjahmada University Press. Yogyakarta.

Lounglawan P, Lounglawan W, Suksombat W. 2014. Effect of Cutting Interval and Cutting Height on Yield and Chemical Composition of King Napier grass (Pennisetum purpureum x Pennisetum americanum). ScienceDirect . APCBEE Procedia 8: 27 31.

Lowe AJ, Thorpe W, Teale A, Hanson J. 2003. Charac-terization of germplasm accessions of napier grass (Pennisetum purpureum and P. purpureum x P. glaucum hybrids) and comparison with farm clones using RAPD. Genetic Resources and Crop Evolution 50.

  1. F. Andis, N. Sandiah, and Syamsuddin. 2020. Produksi Rumput Odot (Pennisetum Purpureum Cv. Mott) sebagai Pakan ternak pada Berbagai Dosis Pupuk Kandang Sapi. JIPHO, Vol 2.

Nell,A. J. & D. H. L. Rollinson. 1974. The Requirement and Availability of Livestock Feed in Indonesia. Jakarta.

Osgood RV, Dudley NS, Jakeway LA. 1996. A demonstration of grass biomass production on Molokai. Diversified Crops Report, 16.

Premaratne S, Premalal GGC. 2006. Hybrid Napier (Pennisetum perpureum X Pennisetum americarnum) VAR.CO-3: A resourceful fodder grass for dairy development in sri lanka. The Journal of Agricultural Sciences, 2 :1:22-33.

Reksohadiprodjo, S. 1999. Produksi Tanaman Hijauan Makanan Ternak Tropik. BPFE. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Reksohadiprodjo, S.1985. Produksi Tanaman Hijauan Makanan Ternak Tropic.

BPEE edisi kedua. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Rinsema. W.T.1986. Pupuk dan Cara Pemupukan. Cetakan Kedua. Penerbit Bharata Karya Aksara. Jakarta.

Sarian ZB.2013. A Super Grass from Thailand. htpps//zacsarian.com.

Sarjimin, I.P. Kompiang, Supriyati, dan N.P. Suratmini. 2001. Penggunaan Biofertilizer untuk Peningkatan Produktivitas Hijauan Rumput Gajah (Penissetum Purpureum cv Afrika) pada Lahan Marginal di Subang Jawa Barat. Media Peternakan, 24 (2): 46-50.

Siregar, S.B. 1994. Ransum Ternak Ruminansia. Penebar Swadaya. Jakarta.

Soebarinoto. 2008. Glirisidia, Cara Penanaman dan Pemanfaatannya Sebagai PakanTernak. Universitas Brawijaya. Malang.

Sosroamidjojo, M. S. & Soeradji. 1990. Peternakan Umum. Cetakan ke-10. CV.Yasaguna. Jakarta.

Tillman, A.D. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press.Yogyakarta.

Turano B, Utsav Tiwari P, Jha R. 2016. Growth and nutritional evaluation of napier grass hybrids as forage for ruminants. Tropical Grasslands-Forrajes Tropicales, 4.

. 2017. Pedoman Teknis Budidaya Rumput Pakan Ternak. Direktorat Pakan Ternak. Ditjend PKH. Jakarta.